Bencana Alam dan Visi Politik

Bencana Alam dan Visi Politik

Oleh Mochtar Buchori

LEON Fuerth adalah guru besar pada George Washington University di Washington DC, Amerika Serikat. Sebelumnya, selama pemerintahan Presiden Clinton, ia menjabat penasihat keamanan di kantor Wakil Presiden Al Gore.

Dalam artikel “A missed chance” (International Herald Tribune, 8/1/2005), ia menyatakan, sebetulnya kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh gempa bumi dan gelombang tsunami dapat diperkecil jika para pelaku politik, anggota Kongres Amerika Serikat (AS), tujuh tahun lalu tidak membunuh dua usaha mendirikan Global Disaster Information Network. Badan ini akan dirancang sebagai suatu jaringan global yang akan memberi peringatan dini mengenai kedatangan bencana alam. Aneka informasi yang didesiminasikan oleh badan ini dimaksudkan untuk membantu para disaster managers di seluruh dunia melakukan aneka persiapan guna menghadapi bencana alam yang sudah terdeteksi.

Ketika badan ini masih dalam persiapan, kemampuannya telah diuji. Para pengelola proyek berhasil mengantisipasi kedatangan bencana Topan Mitch yang melabrak Honduras dan Nikaragua tahun 1998. Sayang, prakarsa baik ini tidak berkenan di hati para penguasa politik yang saat itu menghuni Kongres AS. Karena tidak memiliki dana mencukupi, Global Disaster Information Network ini tidak berhasil tumbuh menjadi badan yang kuat, yang mampu merencanakan bagaimana menghadapi suatu bencana yang diketahui akan datang.

Leon Fuerth berpandangan, jika saja Global Disaster Information Network ini berhasil berkembang sesuai rencana, saat bencana tsunami itu terjadi, dunia akan lebih siap menghadapinya dan puluhan ribu jiwa akan dapat diselamatkan. Dia menulis, “In a natural disaster, we can save lives locally if we have a warning and response system that connects globally.”

Pada bagian akhir artikelnya itu, ia menyampaikan suatu pesan yang amat menyentuh, “Gempa bumi dan tsunami merupakan peristiwa alam yang tidak dapat kita kendalikan. Tetapi, kegagalan yang terjadi di seluruh dunia untuk memperhitungkan kedatangan bencana itu dan kegagalan untuk menyiapkan diri tidak hanya merupakan kesalahan teknis, tetapi juga kesalahan yang disebabkan oleh tidak adanya visi politik.”

MEMBACA artikel itu, saya langsung berpikir mengenai makna pesan ini untuk kita di Indonesia saat ini. Kita tidak saja tidak siap menghadapi bencana alam ini, tetapi juga tidak siap memanfaatkan bantuan yang datang dari dalam dan luar negeri secara bijaksana. Apakah keteledoran kita dalam hal ini juga disebabkan oleh dua hal itu: kesalahan teknis dan ketiadaan visi politik?

Saya cenderung menjawab pertanyaan ini secara konfirmatif. Ya, kita melakukan kesalahan teknis, yaitu tidak mampu mengelola bantuan yang mengalir begitu deras secara baik. Bantuan menumpuk di gudang, sementara puluhan ribu korban bencana menderita di tempat-tempat kejadian. Kelihatan sekali, ada perebutan wewenang antarberbagai pihak untuk mengatur pembagian bantuan, sementara para korban menjerit karena tidak tahan dengan penderitaan yang mereka alami.

Ketiadaan visi politik juga amat terasa dalam hal pendistribusian bantuan korban bencana alam. Tragedi yang menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian masih digunakan untuk mengambil keuntungan politik. Muncul aneka tuduhan tentang kristenisasi di balik penggalangan dan penyaluran bantuan, muncul pula isu diskriminasi etnis dan agama dalam membagi bantuan kepada para korban.

Namun, rupanya salah urus (mismanagement) dan politisasi dalam pembagian bantuan ini terjadi juga di India. Menurut Kompas (14/1/2005), palang merah di kota Port Blair, kepuluan Andaman, India, menuduh, pemerintah lokal telah mambajak bantuan untuk para korban bencana alam. Para pejabat pemerintah di kepulauan ini tidak mau menghubungi para korban tsunami. Barang-barang bantuan menumpuk di gudang-gudang pelabuhan, dan secara diam-diam diambil dan digunakan oleh para pejabat itu. Ini merupakan contoh amat jelas tidak adanya pengertian tentang makna politik dari bencana alam yang menimpa diri mereka.

HAMBATAN politik yang telah menyebabkan manusia gagal mengantisipasi bencana yang datang, karena itu juga gagal menyiapkan diri, diakui oleh Kofi Annan. Dalam sebuah seminar tentang cara-cara menanggulangi bencana alam, ia menyatakan perlunya mengembangkan dengan segera sistem peringatan dini terhadap bencana alam yang mengancam. Diingatkan, masih banyak lagi bencana alam yang akan datang. Masih akan terjadi badai, siklon, dan pemanasan bumi sebagai akibat tsunami.

Kesalahan teknis telah mulai diperbaiki oleh badan dunia ini. Unesco merencanakan, pada tahun 2006 pengembangan sistem peringatan dini akan selesai, dan pemasangan perangkat teknologinya yang berskala global juga akan selesai pada tahun yang sama. Ini suatu berita yang amat menggembirakan, yang membenarkan apa yang dikatakan Leon Fuerth di atas. Pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan untuk memperbaiki keteledoran kedua, yaitu ketiadaan visi politik?

Kelalaian ini juga muncul secara global. Tidak hanya negara-negara yang terkena tsunami saja yang lalai, tetapi negara-negara besar pun melakukan kesalahan ini. Tersendat-sendatnya ratifikasi Protokol Kyoto tentang langkah-langkah yang perlu diambil bersama guna mengurangi emisi gas menunjukkan betapa sukarnya membangkitkan visi politik ini di antara penguasa politik.

Kita tidak dapat berbuat banyak untuk mendorong kelahiran visi politik yang diperlukan ini di negara lain. Tetapi, kiranya ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk membuat pelaku politik menyadari, fungsi politik bukan hanya memperebutkan wewenang mengatur negara, tetapi juga menentukan cara-cara mengatur negara yang memberi manfaat kepada bagian terbesar rakyat. Melindungi rakyat-terutama rakyat termiskin-dari penderitaan yang ditimbulkan oleh bencana alam merupakan bagian kewajiban politik ini.

Mochtar Buchori Pendidik

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/24/opini/1511853.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: