Disepakati, Peringatan Tsunami di Lautan Hindia

Disepakati, Peringatan Tsunami di Lautan Hindia

Kobe, Sabtu – Konferensi Dunia untuk Meminimalisasi Dampak Bencana yang diselenggarakan selama lima hari di Kobe, Jepang, akhirnya melahirkan kesepakatan 168 negara anggota PBB untuk membangun sebuah sistem peringatan dini tsunami untuk wilayah Lautan Hindia. Sistem tersebut diharapkan berfungsi tahun depan.

Sayangnya, konferensi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan yang mengikat mengenai pendanaan sistem peringatan dini itu. Beberapa tokoh aktivis yang ikut dalam konferensi tersebut juga mengkritik hasil konferensi yang lagi-lagi lebih banyak menghasilkan kesepakatan retorik ketimbang rencana terpadu dan mengikat kepada seluruh pesertanya.

“Kita harus mampu mengurangi setengah jumlah korban yang tewas akibat bencana-bencana alam pada dekade ke depan dibandingkan dengan dekade yang lalu,” kata Ketua Program Bantuan PBB Jan Egeland. Akan tetapi tujuan mengurangi jumlah korban tewas hingga setengahnya itu tidak muncul dalam dokumen akhir konferensi.

Meski demikian, Egeland menjanjikan PBB dalam beberapa bulan ke depan akan memiliki perangkat pengukur indikator untuk mengetahui bagaimana kemajuan dalam program pengurangan jumlah korban akibat bencana alam tersebut.

Dalam 10 tahun ke belakang hingga Desember 2003, jumlah korban tewas di seluruh dunia akibat bencana alam yang jumlah kejadiannya mencapai 3.600 peristiwa tak kurang dari 610.000 orang.

Sementara itu dalam pertemuan yang diselenggarakan secara paralel dengan konferensi, Kepala Badan Pengurangan Dampak Bencana PBB Salvano Briceno menjelaskan, negara-negara kaya menyampaikan komitmen mengucurkan sekurangnya 8,0 juta dollar AS guna pembangunan jaringan peringatan tsunami untuk Lautan Hindia yang diperkirakan akan menghabiskan dana 30 juta dollar AS. Sebanyak 4,0 juta dollar AS dari 8,0 juta dollar AS itu berasal dari Jepang.

“Sebuah konferensi seperti ini tidak akan menyelesaikan seluruh permasalahan atau memberikan solusi menyeluruh,” ujar Briceno. Meski demikian, menurut dia, setelah konferensi ini PBB mempunyai “senjata” baru untuk program pengurangan dampak bencana.

PBB yang akan mengoordinasikan pembangunan jaringan peringatan dini itu mengharapkan sudah bisa mengaktifkan jaringan peringatan dini tersebut pada pertengahan 2006.

Pada 28-29 Januari mendatang Thailand akan menjadi tuan rumah pertemuan para menteri dari 43 negara dan 13 lembaga internasional untuk membuat tabel rencana konkret bagi pembangunan sistem peringatan dini di Lautan Hindia. Sekjen PBB Kofi Annan menyatakan berminat hadir.

Surutkan bantuan

Dari Kobe, sejumlah lembaga bantuan juga menyampaikan adanya hambatan-hambatan politis di Indonesia telah menyurutkan organisasi-organisasi non-pemerintah dari berbagai negara untuk membantu para korban bencana di Indonesia.

“Kami mempertimbangkan untuk bekerja di Sri Lanka, tetapi sangat sulit untuk melakukan hal serupa di Indonesia,” ungkap Masakiyo Murai, Direktur Citizen Toward Overseas Disaster Emergency yang berbasis di Kobe.

Dia menambahkan, pihaknya siap menyediakan bantuan secara merata kepada para korban bencana alam, tetapi tidak bisa menyediakan bantuan yang hanya akan menguntungkan pemerintah dan partai-partai yang tengah berkuasa.

Manu Gupta, relawan asal India yang tergabung di Seeds, menambahkan, keputusan Jakarta untuk menerapkan pembatasan terhadap pekerja bantuan bukanlah sebuah solusi. “Jika seseorang membutuhkan pertolongan, pemerintah seharusnya memperbolehkan orang untuk membantu. Banyak pilihan bisa digunakan ketimbang menerapkan pembatasan-pembatasan,” papar Gupta.

Akan tetapi Datuk Jemilah Mahmood, Presiden The Malaysian Medical Relief Society, menyatakan, kelompoknya telah mengirimkan tim medis ke Aceh dan sejauh ini tidak menghadapi permasalahan apa pun.

“NGO juga harus terbuka kepada pemerintah dan membagi rencana-rencana dengan mereka,” ungkapnya sambil menambahkan bahwa organisasinya siap menjadi perantara antara pemerintah dan lembaga bantuan di Indonesia.

UE permudah perdagangan

Untuk menolong negara-negara yang menderita karena bencana tsunami, Uni Eropa (UE), Jumat, menyepakati untuk melonggarkan akses perdagangannya bagi negara-negara sedang berkembang korban tsunami.

Komisi Eksekutif UE dalam pernyataan tertulis setelah pertemuan menyebutkan, UE akan menerapkan skema perdagangan baru mulai April.

“Melalui rezim (perdagangan) baru ini, Sri Lanka mendapatkan manfaat dari pembebasan bea masuk atas seluruh produk ekspornya ke UE. Sedangkan India, Indonesia, dan Thailand akan mendapatkan keuntungan dari kondisi akses pasar yang dipermudah, khususnya untuk produk-produk perikanan.

Meski demikian, organisasi bantuan Oxfam mengkritik rencana reformasi sistem Generalised System of Preferences (GSP) UE tersebut karena masih terlalu menyulitkan negara-negara miskin.

“Indonesia dan India akan dikecualikan untuk mendapatkan akses atas GSP itu karena ekspor mereka secara keseluruhan lebih dari 1 persen dari perdagangan yang mendapatkan fasilitas GSP,” tulis surat Oxfam kepada para diplomat UE.

Sementara itu, usaha penghimpunan dana untuk membantu para korban tsunami terus dilakukan.

Di Wales, Inggris, sekitar 60.000 orang akan memenuhi stadion Millenium, Sabtu, untuk menyaksikan konser pop maraton yang diselenggarakan untuk menggalang dana bagi para korban tsunami. Dari konser yang akan diramaikan gitaris Eric Clapton itu ditargetkan akan bisa dihimpun dana 1,8 juta dollar AS.

Dari Italia dilaporkan, negara itu akan menjadi tuan rumah sebuah konferensi pariwisata internasional yang bertujuan untuk meyakinkan para penyelenggara paket wisata bahwa tempat-tempat tujuan wisata di Asia yang terkena bencana tsunami tetap aman dikunjungi.

Menteri Luar Negeri Italia Gianfranco Fini, Sabtu, menjelaskan, konferensi itu akan diselenggarakan 12 Februari di Milan bersamaan dengan penyelenggaraan pameran dagang internasional di kota tersebut. “Proposal kami sudah disetujui dan undangan akan disebarluaskan kepada seluruh negara yang terkena dampak bencana tsunami,” tuturnya.(AP/AFP/Reuters/OKI)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/23/UTAMA/1513915.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: