Gagasan Pembangunan Pusat Riset Tsunami di NAD

Gagasan Pembangunan Pusat Riset Tsunami di NAD

Syamsul Rizal

KONFERENSI Dunia untuk Meminimalisasi Dampak Bencana yang diselenggarakan selama lima hari di Kobe, Jepang, akhirnya melahirkan kesepakatan yang diambil oleh 168 negara anggota PBB untuk membangun sebuah sistem peringatan dini tsunami bagi wilayah lautan Hindia. Sistem tersebut diharapkan berfungsi tahun depan (Kompas, 23 Januari 2005).

Sayangnya konferensi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan yang mengikat mengenai pendanaan sistem peringatan dini itu. Beberapa tokoh aktivis yang ikut dalam konferensi tersebut juga melancarkan kritik yang lagi-lagi lebih banyak menghasilkan kesepakatan retorik daripada rencana terpadu dan mengikat kepada seluruh pesertanya.

Bencana tsunami yang telah memakan lebih dari 200.000 korban jiwa hendaknya memberi pelajaran kepada kita bahwa ke depan hal ini harus diantisipasi. Tanpa antisipasi, fenomena alam yang demikian dahsyat ini akan berlalu begitu saja dengan tidak ada suatu hal pun yang dapat kita petik dari kejadian tersebut. Dengan demikian, korban jiwa manusia yang begitu banyak dan korban harta benda yang tak ternilai harganya itu betul-betul menjadi korban yang sia-sia. Oleh sebab itu, bencana yang demikian dahsyat ini harus menjadi pelajaran bagi kita bersama, seluruh umat manusia yang mendiami bumi yang terasa semakin kecil ini.

Kita tentu berharap bahwa dengan kejadian ini proses terjadinya tsunami dapat ditelusuri dan dijadikan pelajaran oleh kita semua. Dengan demikian, teori-teori dasar terjadinya tsunami dapat dipelajari secara detail dan dapat dijadikan dasar untuk pengambilan kebijakan secara tepat baik oleh Pemerintah Republik Indonesia maupun dunia internasional. Tanpa dasar teori yang betul-betul dapat menerangkan fenomena alam yang sangat dahsyat ini, kebijakan yang akan diambil juga akan keliru.

Peristiwa tsunami secara simpel dapat diterangkan sebagai akibat dari terjadinya gempa di dasar laut. Akibat dari pergerakan lempeng samudra sehingga akan menimbulkan ruang kosong di dasar samudra. Inilah penyebab air yang tiba- tiba surut. Namun, apa yang menjadi penyebab tingginya kadar belerang pada air yang telah meluluhlantakkan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)? Apakah ini disebabkan oleh letusan gunung berapi di dasar laut? Kemungkinan ini tidak bisa dinafikan karena Kepulauan Andaman dan Nicobar pada awalnya merupakan kawasan gunung berapi.

Ada kemungkinan air laut yang sebagian besar dilimpahkan itu berasal dari ledakan gunung berapi bawah laut yang berasal dekat dari Kepulauan Andaman dan Nicobar. Berapa besar energi yang dilepaskan oleh sumber (atau sumber- sumber) tsunami sehingga air laut bisa jauh sekali menjangkau daratan di NAD? Kalau sumber itu hanya merupakan gangguan (disturbance) kerak samudra, mengapa kadar belerang dari air limpahan yang penuh lumpur itu begitu tinggi?

Skenario tsunami tanggal 26 Desember 2004 agaknya perlu betul-betul kita pahami. Kita selaku umat manusia harus tertantang untuk mencari teori yang tepat guna dapat menerangkan kejadian yang mahadahsyat ini.

Indian Ocean Dipole

NAD yang berbentuk segi tiga ini sudah ditakdirkan terletak pada kawasan yang sangat atraktif dan dinamis, baik dari segi oseanografi, meteorologis, maupun geologis. Sebelah timur berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah barat dengan Samudra Hindia, dan sebelah utara berbatasan dengan Laut Andaman.

Kawasan laut yang membentengi NAD juga dikenal sebagai kawasan yang sangat sensitif terhadap angin musiman atau monsun (monsoon). Gelombang pasang surut (tides) dan arus pasang surut (tidal current) di sebelah barat dan timur NAD juga sangat kontras. Di sebelah barat, gelombang dan arus pasang surut laut lebih rendah. Di sebelah utara dan timur tidal current sangat dominan. Tetapi, arus yang disebabkan perbedaan massa air laut (density current) lebih dominan di bagian barat NAD daripada di sebelah timur.

Di samping itu, di bagian barat pantai Sumatera sampai ke Pulau Jawa ada fenomena aneh secara meteorologis. Fenomena aneh ini disebut dengan dua kutub lautan Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD). Satu kutub berada di kawasan pantai barat Sumatera sampai Jawa, sedangkan kutub lainnya berada di pantai Timur Afrika. Akhir-akhir ini studi tentang IOD sangat menarik, baik bagi ahli Meteorologi maupun ahli Oseanografi.

Kejadian IOD dimulai dengan anomali temperatur permukaan air laut (sea surface temperature/SST) yang mendingin di sepanjang pantai barat Sumatera dan Jawa di bagian timur Samudra Hindia selama Mei-Juni. Angin yang secara normal seharusnya berembus dari barat ke timur di ekuator, saat IOD justru berembus lemah dan bahkan berbalik arah menjadi dari timur ke barat pada bulan Juni- Agustus.

Kejadian IOD ini mencapai puncaknya pada bulan September, di mana SST di kawasan barat Samudra Hindia (atau pantai timur Afrika) lebih panas dari biasanya. Akibat SST yang lebih panas dari biasanya itu, curah hujan di kawasan Afrika menjadi tinggi. Sebaliknya, kekeringan terjadi di kawasan Sumatera dan Jawa.

Beberapa kejadian IOD ada korelasinya dengan fenomena alam terkenal lainnya, yaitu El Nino. Namun, beberapa kejadian IOD tak ada korelasinya sama sekali dengan kejadian El Nino. Dengan demikian, terhadap pertanyaan apakah ada hubungan antara IOD dan El Nino, masih terjadi perdebatan keilmuan (scientific debate): apakah IOD tergantung atau tidak tergantung pada kejadian El Nino. Debat keilmuan ini tentu saja melahirkan teori-teori baru, baik terhadap kejadian IOD maupun El Nino. Teori-teori baru ini ikut memperkaya khazanah budaya manusia.

Pusat Riset Tsunami

Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, NAD agaknya betul-betul tempat yang layak untuk dijadikan laboratorium alam di kawasan Samudra Hindia. Dengan akibat begitu dahsyat yang ditimbulkan tsunami di NAD, gagasan pembangunan Pusat Riset Tsunami (Tsunami Research Center/TRC) di bawah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, menjadi sangat relevan.

TRC akan menjadi sangat penting karena beberapa hal. Pertama, TRC akan berusaha mencari teori-teori dasar yang dapat menerangkan bencana tsunami tanggal 26 Desember 2004. Atas dasar teori inilah kebijakan rekonstruksi Aceh dapat dilakukan. Tanpa pijakan teori yang dapat menerangkan fenomena dahsyat ini, kebijakan rekonstruksi Aceh juga menjadi tidak tepat. Beberapa kolega dari Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Hamburg (Institut für Meereskunde der Universität Hamburg), Jerman, yang menggagas dan mewujudkan Hamburg Shelf Ocean Model (HAMSOM) yang telah dipakai di seluruh dunia itu, telah menunjukkan komitmennya untuk membuat model tsunami yang telah memorakporandakan NAD.

Kedua, diharapkan model teoretis yang dikembangkan nantinya di TRC dapat difungsikan pada wilayah-wilayah lain di Indonesia dan di seluruh dunia. Ketiga, sistem peringatan dini (early warning system/EWS) hendaknya dapat dikembangkan juga oleh TRC untuk kawasan Samudra Hindia. EWS tidak hanya untuk masalah tsunami saja, tetapi menyangkut masalah bencana kekeringan dan banjir di kawasan Samudra Hindia akibat dari kejadian IOD. Meskipun bencana kekeringan dan banjir ini tidak sekejam tsunami, tetapi karena periode kedatangannya yang lebih pendek, tetap saja membutuhkan perhatian kita bersama.

Mengingat tugas-tugas TRC yang sangat berat, strategis, dan penting, tidak saja buat Indonesia, tetapi juga buat dunia International, maka TRC tidak mungkin dikerjakan sendiri oleh ahli-ahli domestik, tetapi harus melibatkan ahli-ahli internasional. Demikian juga dari segi pendanaannya, pihak internasional harus turun tangan mendanainya.

Prof Dr Syamsul Rizal Guru Besar Fisika Kelautan pada Jurusan Ilmu Kelautan, FMIPA, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/17/ilpeng/1626822.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: