Hidup di Negara Rawan Bencana

Hidup di Negara Rawan Bencana

Oleh Lily Yulianti Farid

Jumat, 01 April 2005
TELAH menjadi pengetahuan umum bahwa dua pertiga dari wilayah Nusantara rawan gempa. Dan gempa paling akhir yang melanda Pulau Nias dan Pulau Simeulue pada Senin (28/3) malam makin menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat rawan bencana. Hanya tiga bulan setelah gempa dan tsunami 26 Desember, kita kembali menyaksikan murka alam yang menelan korban ratusan/ribuan jiwa dan kerugian material triliunan rupiah.

Memang harus diakui bahwa tenaga, pikiran, dan dana telah terkuras untuk membangun Aceh dan Sumatera Utara pascatsunami 26 Desember sehingga pertanyaan tentang bagaimana persiapan menghadapi kemungkinan munculnya gempa berskala besar dalam waktu dekat sepertinya tidak dianggap tepat untuk dikemukakan. Jadi, wajarlah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab menjawab pertanyaan semacam ini sebulan setelah gempa dan tsunami Aceh dengan kalimat, “Jangan dululah berandai-andai akan ada bencana lagi, sekarang yang penting bagaimana kita berkonsentrasi membangun kembali Aceh.” (NHK World Service, 25/1).

Padahal, dalam rentang waktu antara gempa dan tsunami 26 Desember dengan gempa Nias, tercatat terjadi gempa berkekuatan dahsyat di sejumlah daerah, antara lain yang terjadi di Palu dan Bau-Bau di awal tahun ini. Jadi, adalah alamiah apabila di negara rawan bencana seperti Indonesia pertanyaan tentang bencana alam yang bisa terjadi kapan saja, patut dikemukakan setiap saat, termasuk mempertanyakan bagaimana cara terbaik bertahan hidup di daerah rawan bencana.

Dari gempa Nias kita melihat bagaimana masyarakat secara sadar telah mengaplikasikan pengetahuan mereka tentang cara tercepat menyelamatkan diri dengan mencari tempat tinggi agar terhindar dari tsunami. Radio dan televisi pun dengan segera menyiarkan gempa ini serta berinisiatif mengumumkan bahaya tsunami. Media internasional seperti BBC, CNN, dan NBC, yang segera menyebarkan informasi gempa 28 Maret ini, memberikan pujian khusus bagi kecepatan media Asia, kewaspadaan penduduk, dan tindakan penyelamatan darurat yang berlangsung segera, serta kesigapan petugas mengevakuasi penduduk, dalam menghadapi gempa kali ini.

Apa yang kita saksikan dalam gempa Nias itu menjadi indikasi telah tumbuhnya kesadaran dan pola pikir masyarakat yang hidup di negara bencana meskipun baru pada tahap awal. Artinya, masyarakat bersama-sama dengan pemerintah, media, elemen lainnya telah bergerak hampir secara bersamaan memberi respons awal pada saat terjadi bencana. Langkah semacam ini bisa dikatakan sebagai tahap awal disaster awareness karena setelah gempa dan tsunami 26 Desember, hampir seluruh masyarakat boleh dikatakan telah memiliki pengetahuan umum tentang hal penting yang harus dilakukan bila terjadi gempa: secepat mungkin keluar dari dalam rumah/gedung, berlari ke tempat yang tinggi, dan memantau ketinggian air laut untuk mengetahui datangnya tsunami.

Namun, perlu dicatat bahwa tindakan seperti ini baru dikategorikan sebagai tindakan reaktif, yang pada dasarnya masih sangat jauh dari memadai untuk konteks negara rawan bencana, seperti Indonesia.

DI Jepang, salah satu negara paling rawan bencana di dunia, disaster awareness mencakup pemberian pengetahuan kepada masyarakat untuk tidak sekadar melakukan tindakan reaktif, tetapi yang lebih penting adalah melakukan tindakan antisipatif yang terkoordinasi pada saat terjadinya bencana. Pengetahuan praktis semacam ini termuat secara terperinci di dalam buku penduduk yang dibagikan gratis untuk setiap rumah tangga.

Informasi yang tersedia mencakup lokasi pengungsian darurat terdekat di lingkungan tempat tinggal kita, lokasi radio darurat terdekat untuk mendengarkan perkembangan bencana, serta saran untuk menyiapkan ransel bencana berisi air minum dan obat-obatan, yang harus senantiasa diperbarui isinya.

Tentu saja langkah antisipatif seperti yang dilakukan di Jepang membutuhkan intervensi kebijakan langsung dari pemerintah dan tidak bisa diharapkan hanya tumbuh secara alamiah di tengah masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana. Jepang sendiri baru mampu membangun sistem manajemen bencana yang memadai setelah terjadinya gempa Hanshin Awaji di kota Kobe, Provinsi Hyogo pada awal 1995, yang berkekuatan 7,2 pada skala Richter dan menelan korban jiwa kurang lebih 6.000 orang. Gempa Kobe inilah yang menjadi titik tolak manajemen bencana di mana Pemerintah Jepang membentuk Kementerian Negara Urusan Bencana yang menjadi pelaksana teknis Dewan Pusat Penanganan Bencana yang didukung oleh 37 badan publik, mulai dari badan meteorologi, badan penyiaran, perusahaan gas, perusahaan telepon, dan lain-lain.

Untuk Indonesia dan negara- negara di sekitar Samudra Hindia, tsunami 26 Desember 2004 tentunya menjadi titik tolak untuk membangun sistem manajemen bencana yang memadai meskipun sebenarnya di Indonesia usulan-usulan manajemen bencana yang bersifat antisipatif adalah wacana yang sudah lama didengungkan.

Misalnya, lima tahun yang lalu, setelah terjadinya gempa di Bengkulu pada pertengahan 2000, yang menewaskan 91 jiwa dan merusak 45.000 lebih rumah penduduk, Indonesian Urban Disaster Mitigation Project (IUDMP) menggelar jumpa pers yang menyuarakan perlunya pemerintah segara menyusun manajemen bencana yang bersifat antisipatif. Dalam berbagai kesempatan kita pun mendengar para pakar menyerukan agar bukan hanya sosialisasi daerah rawan bencana yang perlu dilakukan pemerintah, tetapi juga pendidikan praktis disaster awareness perlu segera diadakan di sekolah maupun di kelompok-kelompok masyarakat, serta pemberdayaan pemerintah daerah dalam menangani bencana.

Dari sekian banyak tindakan antisipatif yang dilakukan di daerah-daerah rawan bencana di Jepang, setidaknya ada dua langkah yang bisa langsung dicontoh Indonesia, yang dititikberatkan pada koordinasi antarpemerintah daerah. Langkah antisipatif pertama adalah pembentukan sistem kerja sama kota kembar (sister city) untuk mengatasi bencana, di mana dua atau lebih kota atau kabupaten melakukan perjanjian kerja sama penyediaan langkah tanggap darurat.

Contohnya bisa dilihat pada saat terjadinya gempa di Provinsi Niigata pada bulan Oktober tahun lalu. Kota Ojiya, salah satu kota yang paling rusak parah oleh gempa berskala 6,8 pada skala Richter itu, langsung mendapat suplai bahan bantuan berupa air bersih, makanan kering, tisu toilet, tenda darurat, dan selimut dari kota kembarnya, kota Komae, yang terletak di luar Tokyo. Seluruh bantuan ini tiba dalam waktu 24 jam, dan pemerintah kota Ojiya bisa berkonsentrasi mengevakuasi penduduk sambil menunggu datangnya bantuan dari kota kembarnya.

Seluruh bahan bantuan darurat ini telah dipersiapkan dalam jumlah besar yang disimpan di dalam gudang setiap kota kembar sehingga bila terjadi bencana, dapat langsung disalurkan. Dengan menguatkan sistem kerja sama antardaerah seperti ini, langkah tanggap darurat dalam skala besar tidak lagi harus semata-mata bergantung pada instruksi pemerintah pusat atau koordinasi antarinstansi. Di Jepang tercatat lebih dari 1.000 kesepakatan kerja sama kota kembar antar pemerintah daerah semacam ini, yang terbukti sangat efektif melakukan tanggap darurat.

Langkah antisipatif kedua yang dapat ditiru adalah penyebaran informasi tempat pengungsian yang wajib dimiliki oleh setiap rumah tangga. Untuk konteks negara rawan bencana, informasi tempat pengungsian dan pertolongan pertama saat terjadi bencana alam sangat penting sebab penduduk yang menyelamatkan diri di tengah terjadinya bencana seharusnya tahu ke mana mereka harus menyelamatkan diri. Pola pikir dan reaksi masyarakat yang memiliki disaster awareness yang tinggi adalah tidak sekadar menyelamatkan diri, tetapi tahu ke mana harus menyelamatkan diri serta kebutuhan apa yang diperlukan untuk menyelamatkan diri.

Pentingnya pemerintah daerah mendesain tempat yang ditunjuk sebagai pusat-pusat pengungsian juga membawa implikasi lebih lanjut, yaitu bahwa penunjukan itu mutlak diiringi dengan penyediaan kebutuhan darurat. Di Provinsi Hyogo, khususnya di kota Kobe, yang luluh lantak dalam gempa dahsyat 10 tahun lalu, taman dan gedung sekolah yang ditetapkan sebagai tempat perlindungan darurat dilengkapi dengan tangki air minum dan cadangan toilet portabel yang langsung dapat bisa dimanfaatkan saat terjadinya bencana. Di setiap wilayah terdapat fasilitas publik yang ditunjuk dan disiapkan sebagai tempat penampungan korban.

TENTU akan ada kalangan yang berpendapat bahwa menjadikan manajemen bencana di Jepang sebagai contoh untuk kondisi Indonesia tidaklah terlalu tepat mengingat Indonesia saat ini masih dililit berbagai masalah besar dan krisis ekonomi. Namun, pemerintah yang berkuasa sekarang ini hendaknya memikirkan pentingnya segera “mendeklarasikan” diri sebagai negara rawan bencana dalam arti tidak lagi menunda- nunda menyusun strategi disaster awareness yang antisipatif.

Di Jepang, ketika desain utama pembentukan Dewan Pusat Penanganan Bencana masih digodok oleh pemerintah pusat, pemerintah-pemerintah daerah yang rawan bencana telah saling bergandeng tangan menginventaris upaya lokal bersama yang dapat mereka lakukan untuk menghadapi bencana alam. Dan hasil kerja sama yang tampak saat ini menunjukkan betapa membumi dan mengakarnya program penanggulangan bencana di kota dan desa, yang misalnya terwujud dalam model kota kembar dan buku penduduk yang berisi informasi tentang bagaimana menyelamatkan diri bila bencana alam terjadi.

Idealnya, setelah belajar dari gempa Nias, kita tentunya tidak ingin lagi mendengar lambannya penyelamatan korban bencana hanya karena semua koordinasi masih sangat bergantung pada kesigapan dan instruksi dari Jakarta, serta minimnya kemampuan daerah, setiap kali terjadi bencana.

Lily Yulianti Farid Seorang Ibu, Tinggal di Tokyo

https://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/01/opini/1656589.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: