Jakarta (Belum) Waspada Bencana

Jakarta (Belum) Waspada Bencana

Selasa, 03 Mei 2005
ALAM berkembang menjadi guru. Sebuah ungkapan bijak dalam menyikapi berbagai bencana beruntun yang melanda di berbagai belahan kota di Indonesia. Mulai dari ujung Aceh, Nias, Palembang, Bandung, Alor, hingga Nabire di Papua. Sementara kecemasan akan gempa bumi yang terus menggoyang (dan ketakutan datangnya tsunami) terus membayangi warga kota Aceh, Nias, Padang, Bengkulu, Lampung, hingga Palu.

SIAPA bilang Kota Jakarta aman dari bencana? Jakarta sebenarnya justru rawan bencana alam (gempa bumi, tsunami, angin badai) dan buatan (banjir, kebakaran, krisis udara dan air bersih, kemacetan lalu lintas, intrusi air laut, amblesan tanah, abrasi pantai). Sebuah pekerjaan rumah (PR) yang tidak pernah dituntaskan sejak dulu kala.

Sungguh naïf apabila kita selalu tergugah dan membangkitkan kesolidaritasan dalam berkota yang ramah lingkungan jika harus menunggu datangnya bencana secara berulang kali. Sikap solidaritas sering kali surut dan cepat terlupakan seiring dengan proses waktu tenggelam dalam banalitas keseharian kehidupan “normal” (yang egosentris) sehingga PR penanggulangan dan pencegahan bencana ikut pupus, tiba-tiba menjadi “basi”, dan tidak tuntas dikerjakan bersama.

Masih ingatkah kita bahwa Jakarta hampir tenggelam di bulan Februari 2002? Semua meneriakkan penyelamatan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai daerah resapan air. Namun, setelah itu pembangunan kota (tak) berkelanjutan justru semakin menggila dengan maraknya kehadiran infrastruktur jalan tol, pusat-pusat perbelanjaan dan apartemen baru telah melahirkan warga kota yang konsumerisme materialistis, duniawi, dan lebih peka(k) terhadap alam. Jika penguasa dan pengusaha sudah sepakat, tanah RTH seperti situ, taman, makam, dan hutan kota pun digadaikan, serta ribuan pohon ikut ditebangi. Kualat kita semua.

Lalu apa yang harus kita lakukan ke depan?

Bencana yang terus terjadi berulang-ulang seharusnya menimbulkan niat serius melakukan tindakan antisipasi dan mitigasi bencana agar tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun seterusnya bencana tersebut tidak terulang kembali, atau setidaknya dampak korban dapat ditekan semakin kecil.

Perencanaan kota tanggap bencana mensyaratkan perencanaan yang rasional, aplikatif, dan berorientasi hasil (feasible, implementable, and achievable). Pemerintah (dan masyarakat) harus proaktif berinisiatif mereformasi perencanaan kota yang tanggap bencana. Kota yang terbangun kembali harus lebih baik dari sebelumnya. Salah satunya adalah membangun kota taman waspada bencana yang terkonsep, terencana, dan dilaksanakan secara sistematis.

Kota yang terkonsep seharusnya berdasarkan pada pengalaman/kejadian bencana yang terus terjadi. Kejadian di titik- titik rawan bencana dianalisis dan dijadikan bahan penyusunan rencana strategis dan program kegiatan pembangunan yang terarah tepat sasaran untuk rencana mitigasi bencana.

Bencana tidak bisa diperkirakan dengan tepat, tetapi upaya mitigasi bencana tetap perlu disiapkan untuk meminimalkan korban (nyawa dan harta). Lebih baik mencegah daripada memperbaiki berulang kali kerusakan yang sama dan boros dana.

Sistem peringatan dini bencana harus dibangun secara menyeluruh, baik di bidang fisik kota (pembangunan peralatan mutakhir pendeteksi dini dalam sistem kota taman waspada bencana), dan psikis kota (pendidikan dan pelatihan tanggap dan evakuasi bencana). Hidup di kota rawan bencana harus mulai dibudayakan kepada seluruh warga kota bahwa bencana bisa terjadi setiap saat. Untuk itu perlu dipersiapkan bagaimana cara terbaik mengakrabi, waspada, evakuasi, dan bertahan hidup di daerah rawan bencana. Warga ditumbuhkan budaya sikap hidup ramah lingkungan dan bencana alam sebagai bagian dari fenomena alam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran masyarakat, terutama di titik-titik rawan bencana, untuk sukarela tinggal di rumah susun sedang (berlantai empat) yang layak huni akan menyisakan ruang-ruang terbuka sebagai taman kota multifungsi yang signifikan. Taman dapat menjadi ruang evakuasi bencana, tempat bermain dan belajar alam bagi anak-anak, dan tempat berolahraga (nilai sosial, budaya, edukatif), taman konservasi kota-paru-paru kota dan daerah resapan air (nilai ekologis dan estetis), serta tempat tujuan wisata kota (nilai ekonomi).

KEHADIRAN rumah susun memberikan peluang dan manfaat penghematan beban biaya hidup kolektif warga terhadap pemakaian listrik (apalagi bila dikembangkan pemakaian energi terbarukan seperti energi surya, angin, atau biogas), kesehatan sanitasi (menekan wabah tahunan diare dan demam berdarah dengue), kebersihan lingkungan, dan pengelolaan daur ulang sampah (ingat kasus Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bojong belum usai), serta membentuk budaya perilaku sehat dan tanggap bencana.

Sementara itu, sikap hidup tanggap bencana juga harus mulai disosialisasikan dalam kurikulum pelajaran wajib segala tingkatan, disertai penyusunan panduan dan pelatihan evakuasi bencana (banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami) di seluruh pelosok perkampungan dan permukiman kota. Kelak warga tahu persis apa, ke mana, dan bagaimana proses evakuasi harus dilakukan saat bencana tiba. Selama ini, latihan evakuasi bencana (kebakaran) dan ancaman bom hanya dilakukan di gedung-gedung perkantoran. Lalu bagaimana dengan evakuasi bencana banjir dan kebakaran yang sering terjadi di perkampungan padat penduduk, yang notabene belum memiliki budaya tanggap dan evakuasi bencana.

Kini setelah 10 tahun pascagempa, Kota Kobe (1995, 7,2 skala Richter) dan kota-kota lain di Jepang telah berhasil membangun kota-kotanya sebagai kota taman waspada bencana. Taman-taman kota diefektifkan sebagai ruang evakuasi dilengkapi tangki air minum, toilet portabel, papan petunjuk, alat komunikasi, bahkan ada yang tersedia bungker sebagai gudang makanan dan obat-obatan (untuk bertahan selama 10 hari).

Taman dilengkapi pompa hidran untuk pemenuhan kebutuhan air bersih atau cadangan untuk pemadaman kebakaran di musim kemarau. Pohon-pohon terpilih (jenis tertentu) juga ditanam di sepanjang koridor jalur-jalur evakuasi bencana (rute penyelamatan) menuju taman atau bangunan penyelamatan lainnya. Pohon-pohon besar tersebut juga dapat difungsikan sebagai pohon penyelamatan yang lentur tapi kokoh.

Sudah waktunya Kota Jakarta membangun diri menjadi kota taman waspada bencana mulai saat ini juga.

Membangun kota taman waspada bencana berarti membangun sistem jaringan RTH yang komprehensif, menyatu tak terputus, mulai dari hutan kota, taman kota, taman makam, lapangan olahraga, jalur hijau jalan raya dan di bawah jalan layang, bantaran rel kereta api, bantaran sungai, hingga tepi pantai (hutan mangrove) dihubungkan oleh taman-taman penghubung (connector parks) dengan dominasi pohon-pohon besar berusia puluhan tahun berdiameter lebih dari 50 sentimeter dan hamparan padang dan/atau bukit rumput.

Membangun kota taman waspada bencana berarti membangun sistem peringatan dini secara alamiah dalam mengantisipasi bencana yang penting bagi kota dan paling murah untuk dibangun. Penciptaan habitat-habitat satwa liar seperti burung, tupai, ular, atau serangga lainnya, di sekeliling kota dan mengakrabi perilaku satwa liar dapat menumbuhkan kepekaan warga terhadap perubahan alam yang sering kali ditandai oleh perilaku satwa liar.

Pengoptimalan RTH dalam kota taman waspada bencana adalah RTH dirancang sebagai ruang-ruang evakuasi bencana dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik untuk memitigasi bencana. Taman-taman dihubungkan jalur pedestrian lebar dan kuat untuk dilalui kendaraan logistik. Lapangan olahraga (lapangan bola) menjadi tempat ideal penampungan darurat dan posko penanggulangan bencana yang aman. Bencana yang sering kali menimbulkan korban massal membutuhkan taman makam yang terencana baik, luas memadai, teknik penguburan canggih, dan dikelola secara profesional. Prinsipnya efisien, higienis, dan ramah lingkungan.

Jika kita tidak pernah mau mempersiapkan diri secara serius dan tuntas (mulai dari sekarang juga) untuk membangun kota taman waspada bencana, maka kota dan kita akan selalu tergagap-gagap menghadapi bencana demi bencana.

Nirwono Joga Arsitek Lanskap, Tinggal di Jakarta

https://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/03/metro/1719272.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: