Keinginan Kurangi Korban Bencana Muncul di Konferensi Kobe

Senin, 24 Januari 2005
TAJUK RENCANA

Keinginan Kurangi Korban Bencana Muncul di Konferensi Kobe

KONFERENSI internasional untuk meminimalisasi dampak bencana, yang berlangsung lima hari di Kobe, Jepang, ditutup akhir pekan lalu dengan kesepakatan membangun sistem peringatan dini atas bahaya tsunami di Lautan Hindia. Sistem itu diharapkan mulai berfungsi tahun depan.

Pertemuan yang dihadiri para pakar dan pejabat dari 168 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga sepakat untuk melakukan upaya terpadu mengurangi angka kematian akibat bencana alam sampai setengahnya dalam 10 tahun mendatang.

Selama satu dasawarsa terakhir, jumlah korban bencana hanya bisa ditekan sebesar sepertiga dari korban satu dasawarsa sebelumnya. Jumlah korban satu dasawarsa terakhir sekitar 610.000 orang, tidak termasuk 227.000 korban gempa dan tsunami yang pada 26 Desember lalu menerjang Indonesia dan 11 negara lainnya.

Konferensi Kobe semakin memiliki urgensi dan mendapat perhatian luas karena dunia, khususnya negara-negara yang bersinggungan dengan Lautan Hindia, baru diterjang tsunami hebat. Sedikitnya 227.000 orang tewas, kebanyakan di Indonesia (Aceh). Kerugian harta benda tidak sedikit pula, sementara kehancuran ekologi mencapai ratusan juta dollar AS.

TIDAKLAH kebetulan konferensi tahunan tentang bencana itu diselenggarakan di Kobe. Sepuluh tahun lalu, kota itu diguncang gempa dahsyat yang menewaskan 6.433 orang dan menimbulkan kehancuran hebat.

Konferensi lima hari pekan lalu yang disponsori PBB tidak hanya ingin memperingati bencana Kobe 10 tahun lalu, tetapi juga mendapat urgensi oleh gempa dan tsunami yang pada 26 Desember lalu menerjang sejumlah negara Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Tanduk Afrika.

Gempa dahsyat berkekuatan 9 pada skala Richter dan terjangan tsunami yang begitu hebat memperlihatkan betapa alam melepaskan kekuatannya yang luar biasa. Manusia benar-benar dibuat tidak berdaya menghadapi kekuatan dan kekuasaan alam.

Jelas sekali, alam tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi sekaligus menjadi sumber bencana, lebih-lebih lagi kalau dirusak.

Selama 10 tahun ke belakang, sampai Desember 2003 lalu, bencana alam berlangsung sampai 3.600 kali dan menewaskan sedikitnya 610.000 orang. Angka kematian bertambah dramatis setelah tragedi gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004.

SUDAH terbayang jumlah korban akibat bencana alam akan terus tinggi jika tidak ada upaya untuk menangkalnya. Apalagi tingkat kepadatan penduduk Bumi terus bertambah.

Sejumlah bencana, seperti gempa tektonik, gempa vulkanik, terjangan tsunami, dan topan, tidak bisa dicegah. Tetapi, sesungguhnya lebih banyak bencana yang bisa dicegah.

Jenis bencana seperti banjir dan tanah longsor sebenarnya bisa dicegah jika hutan tidak dihancurkan. Hutan dalam kenyataannya terus saja dibabat meski bencana banjir terus-menerus mengancam. Gundulnya hutan juga menimbulkan bencana kekeringan dan kelangkaan air.

SUDAH sering diingatkan, dalam menghadapi bencana, manusia sering menjadi tidak berdaya, bahkan menjadi korban. Gempa dan tsunami pada 26 Desember lalu memperlihatkan keganasan alam, jauh di luar kemampuan manusia untuk menghadapinya.

Jumlah korban dan kehancuran yang ditimbulkannya dianggap paling buruk selama 100 tahun terakhir, bahkan sepanjang sejarah. Meski gempa dan tsunami sulit dicegah, sesungguhnya angka korban masih bisa dikurangi.

Dalam zaman teknologi tinggi dan era informasi yang sangat maju saat ini, bencana alam seperti gempa dan tsunami sebenarnya dapat diantisipasi untuk mengurangi kematian dan kehancuran harta benda.

Sesungguhnya banyak bencana yang dapat diramalkan, tetapi peringatan dini sering datangnya terlalu terlambat sehingga banyak korban berjatuhan. Sekiranya sistem penerangan dan peringatan dini memadai, barangkali korban tidak terlalu banyak.

Meski bencana tidak mengenal pengandaian, tetapi upaya meminimalisasi dampak bencana merupakan sesuatu yang mungkin. Dalam konteks itulah konferensi Kobe menemukan relevansi dan maknanya.

HANYA saja, kesepakatan yang dicapai di Kobe memancing kritik karena tidak menyentuh rincian tentang pendanaan pendirian sistem peringatan dini maupun upaya terpadu mengurangi angka kematian akibat bencana selama 10 tahun ke depan.

Menurut proyeksi, dana yang dibutuhkan untuk mendirikan sistem peringatan dini mencapai delapan juta dollar AS sampai berfungsi 12-18 bulan mendatang. Sejauh ini, Jepang yang sering dilanda gempa dan tsunami menyatakan kesediaan memberikan dana empat juta dollar AS.

Namun, sejak dini sudah muncul keraguan terhadap realisasi kesepakatan Kobe. Terutama karena proyeksi dana sebesar delapan juta dollar AS tidak sampai menghasilkan kesepakatan yang mengikat.

Tambahan lagi, tujuan mengurangi korban tewas akibat bencana hingga setengahnya itu tidak muncul dalam dokumen akhir konferensi. Masalah realisasi kesepakatan konferensi masih menjadi pertanyaan besar.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/24/opini/1514786.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: