Menempuh Jalan yang Tak Banyak Ditapaki

Menempuh Jalan yang Tak Banyak Ditapaki

Kamis, 07 Agustus 2003
TIDAK banyak orang tahu bahwa pada tanggal 30 Juli 2003 lalu, seorang warga Indonesia mendapat penghargaan Gawad Kalasag, yakni penghargaan nasional dari Pemerintah Filipina untuk bidang penanggulangan keadaan darurat dan bantuan kemanusiaan.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana Nasional Filipina (semacam Bakornas di Indonesia) kepada Dr Pujiono, ahli penanggulangan bencana yang saat ini bekerja di Kantor Regional Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk masalah Pengungsi (UNHCR) di Jakarta.

Pemberian penghargaan itu didasari atas pertimbangan bahwa selama tiga tahun terakhir ini Dr Pujiono (41) telah bekerja tanpa kenal lelah di bidang penanggulangan bencana yang didasari prinsip-prinsip humanitarian, dan penerapan perencanaan kontingensi dalam situasi darurat yang kompleks di Filipina, khususnya di Mindanao Selatan.

Berkat pelatihan-pelatihan yang dengan konsisten dilakukan oleh Pujiono, negeri itu kini memiliki panduan kerja yang bisa diterapkan sampai di tingkat paling lokal, dan diterbitkan dengan judul “Contingency Planning for Emergencies: Manuals for Local Government Units”. Panduan itu diluncurkan pada saat pemberian penghargaan tersebut oleh Menteri Pertahanan Angelo T Reyes, yang juga Ketua Bakornas Filipina dan Wakil Ketuanya Menteri Dalam Negeri dan Pemerintahan Lokal, Jose D Lina, Jr di Teatro Aguinaldo, Quezon City, Filipina.

“Saya hanya ingin membagikan apa yang saya miliki, karena kerja ini adalah kerja besar,” ujar Pujiono tentang penghargaan tersebut, di kantornya, Selasa siang. “Saya selalu memulai semuanya dengan melatih kelompok-kelompok kecil.”

Setelah pelatihan, Pujiono menunggui implementasi perencanaan kontingensi di lapangan untuk mengetahui berbagai kemungkinan yang terjadi. Ia juga membantu pemerintah daerah untuk mengambil peran koordinasinya dengan semua pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana berdasarkan skenario ke depan.

SEJAK awal kariernya, Pujiono sudah bekerja dengan isu-isu pengungsi. Ia baru masuk tingkat IV-setelah menyelesaikan sarjana muda-di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) di Bandung ketika mendapat tawaran bekerja dengan pengungsi di Pulau Galang pada tahun 1984. Selama lima tahun di Pulau Galang, ia bekerja pada UNHCR dan Palang Merah Indonesia untuk membantu mereka yang cacat, dan anak-anak yang terpisah dari orangtuanya, sampai mereka dikirim ke negara ketiga.

Ada satu peristiwa yang tak pernah ia lupakan. Itu terjadi pada hari pertama ia bekerja. Waktu itu ada satu keluarga yang akan dikirim ke Perancis, tetapi kepala keluarga itu menolak. Karena dinilai mengganggu orang itu dimasukkan ke sel. “Begitu tiba, saya langsung bilang ke teman-teman dari kepolisian, saya mau ketemu keluarga itu.”

“Saya tidak bisa berbahasa Vietnam, sementara dia tidak bisa berbahasa Inggris,” lanjutnya. Mereka berkomunikasi dengan bahasa tubuh, yang diyakininya “lebih berbicara dibanding ribuan kata.”

“Setelah beberapa saat, ia akhirnya menerima keputusan tersebut,” ujar laki-laki yang kini menguasai bahasa Vietnam, Inggris, Perancis, Tagalog, Indonesia, dan Jawa ini.

Namun, pekerjaan seperti itu tak bisa dilakukannya sendiri. Ia pun melatih teman-temannya agar bisa melakukan pendekatan seperti itu. “Sejak awal itu saya banyak melatih untuk membagikan keterampilan pada orang lain agar dapat memberikan pelayanan dalam pekerjaan ini dengan baik,” sambungnya.

Setelah Pulau Galang, Pujiono pindah ke Hongkong, Di negara itu ia dan kawan-kawannya membentuk organisasi nonpemerintah di bidang pelayanan keluarga dan masyarakat internasional, Community and Family Services International. “Kami memulai pelayanan sosial di penjara,” ujarnya. Penghuni tempat itu adalah orang-orang asing yang karena peraturan setempat harus berada di tempat seperti penjara.

“Karena tidak punya pengalaman bekerja dengan kasus-kasus seperti ini, kepala penjaranya memperlakukan orang-orang ini seperti tahanan biasa. Kami berusaha berbicara dengan kepala penjara untuk memanusiakan lingkungan penjara, sampai kepada hal-hal kecil, seperti supaya seorang ibu boleh menyiapkan susu untuk anaknya dan hal-hal kecil lainnya, tetapi penting dalam kehidupan sehari-hari,” lanjut Pujiono.

Dimulai dari hal-hal seperti itu, Pujiono dan kawan-kawannya kemudian berhasil membuat penghuni “penjara” duduk bersama dengan penguasa penjara untuk membicarakan hajat bersama, peraturan bersama,” sambung Pujiono, yang bekerja untuk pengungsi Vietnam di Hongkong selama empat tahun dan membawanya bermukim di Manila dan Ho Chi Minh City.

Setelah 12 tahun bekerja untuk isu-isu kemanusiaan di Asia Tenggara dan memiliki karier yang cukup baik, ia mulai gelisah. “Saya mulai sering bertanya pada diri saya sendiri, apa arti pekerjaan ini? Saya kira, kita seharusnya bisa meletakkan struktur pada pengalaman kehidupan,” ungkapnya.

Karena merasa hanya pendidikan yang bisa membantunya, Pujiono memutuskan kuliah lagi. Ia mengambil MA-nya di bidang Pekerjaan Sosial di University of the Phillipines, dan melanjutkannya ke tingkat lanjut di bidang Public Administration. “Sejak hari pertama masuk program Doktor itu saya sudah memilih isu penanggulangan bencana,” ujar Doktor lulusan University of the Phillipines tahun 1998, yang selama menempuh pendidikannya di Filipina mendapat beasiswa dari lembaga kepresidenan Filipina itu. Pendidikannya di Tokyo Institute of Technology di Jepang tidak bisa diselesaikan karena ia diminta UNHCR untuk ikut mengurusi masalah pengungsi dari Timor-Timur.

“SUB kawasan ini sebenarnya rentan dengan gelombang pengungsian,” ujar Pujiono. Ayah satu anak ini menyebut wilayah Sabah dan Mindanao, misalnya, yang memang untuk beberapa waktu dipenuhi perasaan saling curiga. “Kita sendiri memiliki beberapa wilayah yang prone,” ujar Pujiono, seraya menyebut Aceh semenanjung, Timor, dan Papua sebagai wilayah-wilayah yang harus diwaspadai. Namun, diakuinya, masalah Aceh dan Malaysia merupakan isu sensitif dan sulit dibicarakan.

Meski persoalan internally displaced persons (IDPs)-Indonesia sempat memiliki sekitar 1,2 juta IDPs akibat konflik di berbagai wilayah di Indonesia- tidak termasuk ke dalam wilayah kerja UNHCR, namun prinsip-prinsip kerja penanganan pengungsi dari UNHCR bisa diterapkan.

“Persoalan IDPs sangat kompleks,” ujar Pujiono, yang kini bersama teman-temannya membentuk Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia. Dia juga aktif membantu Pusat Kajian Pengungsi STKS Bandung.

Pujiono yang semasa remaja tidak menjadikan kerja kemanusiaan sebagai cita-cita-“Waktu kecil saya ikut paman, jadi saya mencari sekolah yang bisa cepat kerja,” katanya-kini menemukan hidupnya di dalam pekerjaan yang ia geluti sepenuh hati selama 17 tahun terakhir ini. Suatu pekerjaan yang, ironisnya, tak banyak dipilih orang; suatu jalan hidup seperti the road less traveled, meminjam puisi yang ditulis penyair Amerika Serikat, Robert Frost. (Maria Hartiningsih)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0308/07/naper/480064.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: