Menyiapkan Padang Hadapi Tsunami

Menyiapkan Padang Hadapi Tsunami

Pascatsunami di Banda Aceh terjadi kepanikan yang meluas di kalangan masyarakat Padang. Sampai-sampai permukiman di kawasan pantai ibu kota Sumatera Barat itu nyaris kosong. Penduduknya ketika itu berbondong mencari daerah jauh dari pantai atau di kawasan perbukitan.

Penyebab eksodus itu adalah pemberitaan yang dilontarkan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr Danny Hilman, yang menurut hasil penelitiannya, dalam kurun waktu 10 tahun ke depan akan terjadi gempa berskala 9 skala Richter hingga menimbulkan tsunami yang sedahsyat di Aceh.

Namun, hal ini justru membangkitkan kesadaran di kalangan terpelajar, perguruan tinggi, dan pemerintahnya untuk menggalang kemampuan membangun sistem evakuasi bencana untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman itu. Melalui swadaya masyarakat yang digalang oleh kalangan akademisi, warga dari beberapa kelurahan di kota itu telah menjalankan beberapa langkah persiapan dan pelatihan evakuasi ke daerah yang aman dari terjangan gelombang pasang laut.

Tentang kesiapan Padang menghadapi tsunami, Dr Eng Febrin A Ismail, Koordinator Tenaga Ahli Kogami (Kelompok Siaga Tsunami) Padang, beberapa waktu lalu, menjelaskan, latihan evakuasi telah dilakukan Juli tahun lalu dengan melibatkan 7.000 warga dari Kelurahan Gunung Pangilun dan Kelurahan Rimbo Kaluang. Dua daerah ini termasuk daerah zona merah di Kota Padang yang rawan dilanda tsunami. Namun, jumlah penduduknya sebagian kecil dari sekitar 400.000 warga yang bermukim di daerah rawan tsunami.

Pada peringatan gempa Aceh, 26 Desember 2005 di Padang, dilakukan kembali pelatihan evakuasi seluruh warga Padang, terutama yang bermukim di daerah rawan bencana tsunami. ”Meski tanggal pelatihan telah diberi tahu sebelumnya, jam dikeluarkannya peringatan dirahasiakan. Ini sama seperti kondisi sebenarnya, yaitu kedatangan gempa dan tsunami yang tidak dapat diprediksi waktu kedatangan,” ungkap Febrin yang juga Dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas.

Pada latihan itu Wali Kota Padang membunyikan sirene tanda bahaya tsunami yang kemudian diteruskan ke seluruh wilayah kota itu. Para warga kemudian harus segera bergegas menuju zona kuning lewat jalur-jalur jalan yang telah ditentukan sebagai jalur evakuasi. Simulasi kejadian tsunami yang melibatkan ribuan warga berlangsung dengan baik.

Dalam menghadapi tsunami tahun lalu, ujar Febrin, telah dilatih 74 tenaga sukarelawan untuk ditempatkan di tiap kelurahan. Tugas mereka membantu warga mendesain mikro evakuasi dan mengidentifikasi gedung-gedung tinggi yang dapat dijadikan tempat untuk menyelamatkan diri.

Untuk itu, Kogami telah membagikan peta evakuasi Padang ke tiap RT. Peta itu kemudian digandakan secara swadaya. Dalam peta itu dilengkapi dengan pembagian zona merah, kuning, dan hijau, yang menunjukkan tingkat rawan hingga aman. Penetapan zona aman dan rawan tsunami itu dibuat berdasarkan analisis para ahli gempa dan tsunami.

Upaya yang dilakukan warga Padang ini, yang kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk LIPI, BPPT, serta Kementerian Negara Riset dan Teknologi hendaknya menjadi model percontohan pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi tsunami di daerah lain. (YUN)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/16/HBBencana/2887648.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: