Mereka Rindu Pulang ke Rumah

Mereka Rindu Pulang ke Rumah

Ketika itu jam sudah menunjukkan sekitar pukul tujuh pagi, namun matahari Aceh masih terlihat malu-malu. Selain karena awan yang bergayut di langit, juga waktu di Aceh memang lebih lambat hampir sejam dari Jakarta.

Jadi, meskipun sama-sama memakai sistem WIB, tapi matahari di Banda Aceh masih belum sepenuhnya muncul seperti di Jakarta. Sehingga bisa dikatakan denyut kehidupan pusat Kota Banda Aceh pun lebih lambat dibanding kota-kota di daerah Jawa.

Namun Usman, sudah standby dengan motor becaknya di trotoar depan sebuah toko. “Biasa lah buat saya,” cetus Usman, ketika kami sudah melaju menuju Universitas Syah Kuala, Darussalam, tempat Media Center Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) dipusatkan.

Pembicaraan di tengah hujan pun mengalir meski seringkali tertelan raungan mesin motor 100 cc, yang menjadi “kuda” bagi becak yang ditariknya. “Iya pak, keluarga saya habis semua waktu tsunami lalu,” tutur pria berusia 52 tahun ini saat ditanya mengenai musibah yang menewaskan 130 ribuan orang dan 37 ribu orang hilang pada tanggal 26 Desember 2004 itu.

Deru mesin honda win mengerang ketika sampai di jalan yang sedikit menanjak, karena melewati jembatan di atas Sungai Krueng Aceh, Darussalam. Ia menunjuk ke tanah lapang yang terdapat di pinggiran sungai tersebut. “Dulu mayat-mayat bergeletakan di sana,” cetus Usman seraya menambahkan, tanah lapang itu pun menjadi semacam kuburan massal bagi korban gempa dan tsunami yang menerjang Aceh akhir tahun lalu itu.

Usman kembali cerita, akibat keganasan tsunami yang melumat desa Lampaseh, Aceh Besar, tempat tinggalnya dulu, saat ini hanya tinggal dia dan satu anaknya yang tersisa dari keluarganya. Itu pun, Siti, sebut saja nama anaknya itu, sempat tinggal di rumah sakit karena kakinya patah akibat amukan gelombang pasang tahun lalu itu. Selain istri, empat orang anak Usman sampai sekarang hilang entah di mana. “Sampai dua bulan saya mencari mereka,” ungkapnya getir.

Meski begitu, wajah Usman terlihat pasrah, dengan ujian yang menimpa dirinya serta masyarakat Aceh dan Nias satu tahun lalu itu. Bagi dia dan masyarakat yang terkena musibah yang membuat dunia bersatu padu ini, hanyalah ujian dari Tuhan. Ia pun harus meneruskan lembaran baru hidupnya untuk menghidupi anaknya yang sekarang duduk di bangku SMP.

Menurutnya sudah sejak sebelum tsunami ia berprofesi menjadi pengemudi becak motor. Dulu ia menyewa kendaraan itu kepada orang lain. “Namun sekarang ini punya saya. Ada yang memberi saya kredit,” ujar Usman mengenai becak motor yang jadi sumber mata pencahariannya. Dalam sehari ia mengaku bisa membawa pulang Rp60 ribu sampai Rp80 ribu.

Meski terlihat pasrah, namun Usman berharap bisa segera pindah ke rumah permanen untuk bisa meneruskan kehidupan supaya lebih tenang dan layak. “Sekarang saya hidup di tenda pengungsian di Lampaseh Kota,” tambahnya.

Pada awal bencana, diperkirakan 500.000 orang telah kehilangan tempat tinggal akibat bencana yang menerjang Minggu pagi di akhir tahun 2004 itu. Sebanyak 192.000 orang menganggap dirinya pengungsi, sedangkan 312.000 orang yang semula menganggap pengungsi, saat ini tidak lagi berangapan demikian. Untuk Aceh dan Nias diperkirakan membutuhkan 120.000 rumah baru dan 75.000 rumah harus direhabilitasi.

Namun sampai awal Desember, data BRR menyebutkan baru 16.200 rumah yang sudah dibangun dan 13.200 sedang dibangun. Menurut lembaga yang dibentuk pada April 2005 ini, 5.000 buah rumah baru sedang dibangun setiap bulannya.

Rumah memang menjadi suatu kebutuhan yang mendasar bagi tumbuh dan berkembangnya keluarga. Seperti diungkapkan Juliadi Muchdi, seorang korban tsunami asal Desa Monikeun, sebuah desa di daerah Lhok Nga, Banda Aceh. Dirinya belum bisa tenang bekerja bila belum ada rumah tempat keluarganya berlindung.

Saat ini, pria berusia 30 tahunan itu, tinggal di posko pengsungsian di Desa Lampaya, beberapa kilometer dari tempat tinggal dulu. Moniken merupakan kampung para nelayan yang letaknya paling dekat dengan pantai. Menurut Juliadi yang menjadi Sekretaris Panglima Laut Lhok Nga ini, terdapat 4 kampung nelayan di daerah itu, dan semuanya habis disapu gelombang dahsyat itu.

“Waktu kejadian, kami langsung kumpul di rumah habis gempa itu. Begitu kira-kira air sudah merubuhkan 20 rumah dari rumah saya, saya lari ke desa sebelah sambil gendong 3 anak-anak, satu digendong, satu dipundak, satu dituntun, istri lari di depan. Sampai di desa sebelah, kebetulan ada 3 rumah yang tidak terkena, saya panjat itu rumah. Sampai di situ banyak anak-anak, sekitar 50 orang, orang tua paling 5-6 orang. Jadi saya pikir selamatnya rumah itu karena banyaknya anak-anak,” papar Juliadi yang waktu itu baru menikah sekitar empat bulan.

Setelah sekitar 2 jam, Juliadi bercerita, ia baru berani meninggalkan rumah dan pergi ke tempat yang lebih tinggi. Setelah dirasakan aman baru ia menitipkan istri dan 3 adik sepupu yang sempat ia selamatkan pada kerabatnya di Banda Aceh. Sedangkan ia sendiri ke Lhok Nga mencari keluarganya yang hilang tersapu air. “Sembilan puluh sembilan persen (keluarganya hilang), orang tua semua habis, yang tinggal cuma anak-anak (adik sepupu) ada juga abang saya bersama anaknya 3 orang,” ungkapnya.

Tiap hari ia mencari-cari keluarganya, namun satu pun tidak ditemukan, baik orangnya maupun jasadnya. “Jadi keluarga yang hilang itu, satu pun tidak dapat mayat, sementara orang lain tiap hari kita ngangkatin mayat orang lain, keluarga sendiri tidak ada,” sebutnya.

Sembari mencari sanak saudaranya yang hilang tak tentu rimbanya, Juliadi mendirikan tenda sebagai pokso. Dengan bantuan tenda dari Koramil setempat, kemudian bantuan 75 tenda LSM dari Prancis, Juliadi pun mendirikan posko penampungan pengungsi bagi penduduk Desa Monikeun dan sekitarnya. “Saya ajak pulang orang-orang kampung. Alhamdulillah sebulan saya dirikan tenda semua pulang, 3 bulan saya jadi ketua posko, saya bilang mereka urus sendiri lah,” tutur Juliadi.

Setelah setahun, rumah pun menjadi idaman Juliadi yang sampai sekarang belum dikarunia anak. “Mungkin akibat tinggal ditenda,” candanya.

Menurut Juliadi, teman-teman sekampungnya pun sudah merindukan rumah sebagai tempat tinggal, apalagi bagi para nelayan yang sering meninggalkan keluarganya untuk melaut mencari ikan. “Kalau bisa secepatnya lah dapat rumah. Nggak mungkin kita 2-3 tahun ditenda terus,” tegas pria berambut pendek ini.

Dengan adanya rumah, imbuh Juliadi, bekerja pun akan semakin tenang, karena tidak memikirkan keluarga yang ditinggalkan di tenda pengungsian. Hidup di tenda menurutnya, memang membuat aktivitas kehidupan serba terbatas. “Air pun kadang ada, kadang tidak, kita harus menumpang ke rumah-rumah sekitar itu,” ujarnya.

“Tapi kalau sudah ada rumah itu, otomatis pikiran kita sudah enak untuk bekerja. Sekarang ini kita pergi kerja, keluarga tinggal di tenda, pikirannya tidak ikut kerja, malah mikir keluarga,” katanya seraya menilai pembangunan rumah untuk para pengungsi di Aceh sangat lambat.

Satu tahun tsunami memang menjadi ukuran bagi berbagai pihak untuk menilai perkembangan yang terjadi di Aceh dan Nias, daerah yang porak poranda akibat gempuran gempa dan gelombang tsunami. Masyarakat tentu melihatnya dari segi fisik pembangunan yang sudah terwujud.

Banyak suara yang menilai pembangunan di Aceh, seperti penyediaan perumahan bagi korban tsunami, berjalan dengan lambat. Bukan hanya masyarakat Aceh yang menjadi korban dan merasakan satu tahun hidup di tempat-tempat penampungan sementara, di tenda-tenda, tapi juga masyarakat Indonesia luar Aceh, juga warga dunia ikut serta menilai proses rekonstruksi Aceh dan Nias.

Namun tolong lihat dari sisi lain dong, seru pemerintah. BRR membandingkan dengan negara-negara lain yang proses rekonstruksinya mencapai tahunan, Seperti di Honduras, Badai Mitch menimbulkan kerusakan di beberapa negara Amerika Tengah pada tahun 1998. Baru empat tahun kemudian, sekitar 85.000 rumah telah dibangun kembali, tetapi ratusan orang masih tinggal di tempat-tempat penampungan sementara. Sedangkan di Kobe, Jepang akibat gempa tahun 1995, diperlukan waktu tujuh tahun untuk mencapai pemulihan sepenuhnya berkaitan dengan kependudukan, pendapatan, dan industri.

Tak urung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun turut bicara terhadap komentar miring yang menggugat lambatnya pekerjaan pemerintah dalam pembangunan rumah.

Simak ujaran Presiden saat ditanya hal ini dalam konferesi pers waktu peringatan 1 tahun tsunami, “Bagi saya daripada kita berdebat terlalu cepat, terlalu lambat. Ok, kurang Ok. Apa yang bisa kita percepat kita percepat, apa yang bisa kita prioritaskan kita prioritaskan. Saya berkali-kali, bagaimana Dr Kuntoro (Kepala BRR) pembangunan perumahan ini bisa dipercepat, tanpa meninggalkan kualitas. Saya tidak ingin puluhan ribu dipaksain dibangun, tahun depan sudah bocor. Tahun depan sudah ambruk karena tidak memperhatikan kualitas. Paduan dari kualitas dan kecepatan menjadi sangat penting. Tetapi yang penting sebelum mereka pindah ke yang permanen masih diperumahan sementara, perhatikan kebutuhan hidup sehari-harinya.”

Sepakat Pak Presiden….

(Erlangga Djumena)

Url : /utama/news/0601/02/004020.htm

http://www.kompas.com/kirim_berita/print.cfm?nnum=87209

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: