Momentum Baru untuk Perdamaian di Aceh

Senin, 24 Januari 2005
TAJUK RENCANA

Momentum Baru untuk Perdamaian di Aceh

APAKAH yang menyentuh semua orang dari bencana gempa dan gelombang tsunami di Aceh dan Sumatera Utara? Semua perasaan dan pertimbangan masyarakat dunia dikalahkan oleh pertimbangan setia kawan dan kemanusiaan.

Lenyap atau terdesak ke belakang, perasaan simpati atau antipati, pertimbangan aman atau tidak aman. Pemerintah banyak negara spontan mengirimkan bantuan barang, obat-obatan, perlengkapan, serta alat transpor. Datang pula secara spontan relawan-relawan dalam negeri dan mancanegara.

APALAGI yang bangkit dari bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang dahsyat itu? Kita, sesama warga dan saudara sebangsa dan se-Tanah Air, bertanya dan menggugat diri. Apa yang mengusik hati kita dari bencana yang memorakporandakan bangunan, jalan, pasar, perkantoran, sumber air, dan merenggut jiwa lebih dari 160.000 orang, menimbulkan lebih dari 700.000 pengungsi, dan membuat puluhan ribu anak yatim piatu?

Sebagai kaum beragama, dari setiap peristiwa apalagi peristiwa dahsyat seperti bencana tsunami, kita serentak bertanya, mengapa semua itu terjadi. Apa maksud Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui? Isyarat dan tanda-tanda kita cari dengan rendah hati dan hati yang tulus. Pasti ada maksudnya.

KITA juga bertanya dengan akal sehat dan suara hati, lantas apa yang harus kita perbuat? Perbuatan telah kita lakukan bersama: membantu, menolong, mewujudkan solidaritas, sehati sepenanggungan.

Kita secara pro-aktif dan semampu kita masing-masing mengerjakan apa yang harus dilakukan dalam suatu masa krisis yang dikenal sebagai masa tanggap darurat. Pemerintah menyingsingkan lengan baju. Masyarakat aktif berpartisipasi.

Segera akan dilakukan perbaikan dan pembangunan kembali Aceh dan Nias. Akan segera kita masuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi.

Bantuan dari bangsa-bangsa di dunia lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun secara bilateral sudah dijanjikan. Mereka, sesuai anjuran Sekjen PBB Kofi Annan, tidak akan berjanji kosong atau berlarut, tetapi segera mencairkan atau mewujudkan jumlah bantuan yang mereka janjikan.

Pemerintah segera menghitung ulang anggaran belanja tahun 2005, disesuaikan dengan keperluan khusus dan darurat bagi rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias.

BERSAMA dengan langkah dan komitmen-komitmen itu, ada hal lain yang terutama merupakan tugas dan pekerjaan rumah kita. Kita warga Aceh sekaligus kita warga Indonesia.

Ketika bencana reda, masa tanggap darurat surut, pemulihan kehidupan warga Aceh berangsur dipulihkan dan akan dilakukan pekerjaan besar merehabilitasi dan merekonstruksi, muncul pertanyaan. Syarat-syarat apa lagi yang kita perlukan agar fase-fase rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dilaksanakan secara lebih efektif, efisien, lancar, dan tepat waktu.

Beberapa peringatan sudah disampaikan dan juga kita sampaikan. Di antaranya, jangan sampai dana rehabilitasi dan rekonstruksi bahkan juga dana masa tanggap darurat disalahgunakan, dikorup. Jangan organisasi tumpang-tindih, sehingga mengurangi koordinasi dan kelancaran kerja. Jangan berpacu wewenang, tetapi berpacu jasa pelayanan dan pengabdian.

ADA satu hal lagi yang juga amat menentukan keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh khususnya, menentukan pembangunan jiwa dan kepribadian masyarakat Aceh, yakni perdamaian.

Masih ada permusuhan politik yang disertai konflik bersenjata di sana. Masih berlanjut permusuhan dan perlawanan politik serta bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah.

Inilah momentum baru. Sebagai kaum yang beragama dan juga sesama warga bangsa yang berakal sehat dan berhati nurani, kita tangkap isyarat bahwa dengan bencana dahsyat, kita terutama di Aceh diingatkan agar berdamai.

Sementara itu, akal sehat dan suara hati kita pun menegaskan, pemulihan dan pembangunan kembali Aceh dan masyarakatnya memerlukan kondisi damai. Kondisi damai tanpa ancaman konflik bersenjata akan membuat pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi lebih lancar.

Kondisi damai jelas merupakan suatu kondisi yang sangat diperlukan untuk memulihkan trauma warga dan masyarakat Aceh dari trauma bencana serta entakkan jiwanya. Bahkan boleh kita katakan itulah prasyarat utama sebelum hal-hal lain bisa kita lakukan

SESAMA warga dan sesama saudara, mana mungkin tidak bisa dicapai kesepakatan dan perdamaian. Pemerintah telah menyatakan maksudnya berunding untuk mencapai kesepakatan dan perdamaian.

Inilah momentum yang harus bisa menciptakan iklim bagi usaha bersama ini. Setia kawan dan kepercayaan kita sebagai sesama warga bangsa memperoleh peluang kondusif untuk menyertai usaha damai di Aceh.

Kita bahkan boleh dikatakan tidak punya pilihan lain untuk melakukan itu, karena ibaratnya Aceh sudah habis disapu bencana tsunami. Meski hanya pantai barat yang rusak parah, tetapi kerusakannya begitu dahsyat dan otomatis memengaruhi seluruh Aceh dan juga seluruh Indonesia. Kalau boleh diperbandingkan, situasi ini sama dengan apa yang dialami bangsa Jepang pada Perang Dunia II. Sebab, meski hanya Hiroshima dan Nagasaki yang dijatuhi bom atom, kerusakannya menggetarkan dan dirasakan oleh seluruh rakyat Negeri Sakura itu.

Dibutuhkan kerja keras untuk membangun kembali pantai barat Aceh. Pembangunan fisik tentunya relatif lebih mudah. Sepanjang kita memiliki dana, hal itu dengan cepat akan bisa kita lakukan. Namun, yang rusak di sana bukan hanya prasarana fisik, tetapi kehidupan. Dibutuhkan waktu yang lama bagi warga yang selamat untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Bisa kita bayangkan, perjuangan yang semakin berat harus dilalui apabila konflik bersenjata di sana tidak segera kita akhiri. Karena itu, marilah kita beri kesempatan kepada warga Aceh untuk membangun kembali masa depannya secara tenang dan sesuai dengan kebutuhan serta nilai-nilai budaya yang mereka kenal selama ini.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/24/opini/1514786.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: