Pengalaman Digoyang Gempa di Jepang

Pengalaman Digoyang Gempa di Jepang
Untung Ada “Menteri Bencana”

Farid M Ibrahim

Sabtu, 30 Oktober 2004
JEPANG adalah negeri gempa dan angin topan (typhoon). Sabtu (23/10) petang itu, di apartemen tempat tinggal saya yang tak jauh dari Balai Indonesia di Meguro, Tokyo, kami sekeluarga sedang menantikan azan isya, menunggu datangnya saat tarawih.

WAKTU buka puasa baru saja lewat, sekitar pukul 17.00 karena Jepang di musim semi ini punya waktu siang yang lebih pendek. Tiba-tiba bumi terasa bergoyang-goyang, kiri kanan, naik turun, sekian lama sebelum akhirnya reda. Selang beberapa menit, goyangan bumi ini berulang lagi, sedemikian hingga empat kali. Kali keempat yang rasanya paling “sengit”.

Tomoko Yoshimura, yang produser siaran Bahasa Indonesia di Radio NHK, sudah mengingatkan ketika awal Juni silam kami sekeluarga tiba di Tokyo untuk pertama kali. Katanya, kalau ada gempa, ikuti saja standar keselamatan: keluar dari rumah, matikan gas, listrik, dan jangan lupa “ransel keselamatan” yang berisi obat-obatan, air minum, dan kebutuhan dasar lainnya. Tapi kalau gempanya tidak seberapa, tetap saja tinggal di rumah, dan segera nyalakan radio atau TV untuk mengetahui perkembangan yang terjadi. Lantas mana yang dimaksud “gempa yang tak seberapa itu?” “Kalau ada gempa, dan Anda sudah sulit berdiri, itu baru bahaya,” jelasnya. Wah!

Benar saja, semua saluran TV segera menghentikan program regulernya, diganti dengan breaking news soal gempa. NHK yang milik pemerintah bahkan menyajikan liputan live sejak petang itu hingga keesokan harinya. Dilaporkan bahwa pusat gempa berkekuatan 6,8 pada skala Richter ini berada di Provinsi Niigata di barat laut Jepang. Karena orang Jepang punya tradisi memberi julukan kepada setiap bencana alam, gempa kali ini dinamai ‘”Gempa Bumi Niigata-ken Chuetsu” dengan mempertimbangkan kekuatan daya rusaknya.

Laporan-laporan berbagai TV menyebutkan goyangan gempa yang pertama dan yang terkuat terjadi pada pukul 17.56 yang berpusat 20 kilometer di bawah tanah wilayah Chuetsu di provinsi itu. Gempa kedua menghantam dengan kekuatan 6,2 pada skala Richter pada pukul 18.03, disusul hantaman berikutnya dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter pada pukul 18.12. Gempa susulan masih saja terjadi dengan kekuatan 6,3 pada skala Richter pada pukul 18.34, berturut-turut disusul 5 pada skala Richter (18.36), 5,1 (18.58), 5,9 (19.46). Badan Meteorologi menyebutkan, sedikitnya 257 gempa susulan yang lebih ringan dalam bencana kali ini.

Akibatnya pun langsung terdata secara cermat dan teliti. Hingga Minggu (24/10) malam, tercatat 21 korban jiwa, dan lebih dari 1.500 mengalami luka-luka dan cedera. Tujuh korban hilang sejauh itu belum ditemukan oleh 300-an polisi yang dikerahkan dari provinsi-provinsi terdekat. Pasukan bela diri Jepang (SDF) juga diterjunkan untuk membantu penanganan gempa, termasuk mengungsikan sebanyak 68.000 penduduk. Juga tercatat 76 bangunan rumah hancur berantakan, 37 tanah longsor terjadi di berbagai titik, jalan-jalan amblas dan patah di setidaknya 211 titik. Akibat lain, 278.000 rumah dan bangunan kehilangan pasokan listrik yang putus, termasuk juga 14.000-an pelanggan tak mendapat suplai gas.

“Korban” lainnya adalah kereta api Shinkansen, yang terjerembab keluar rel. Kereta bernama Toki 325 yang beroperasi pada jalur Joetsu yang menghubungkan Tokyo dan Niigata ini berlari dengan kecepatan 210 kilometer per jam sebelum akhirnya keluar rel pada Sabtu malam antara stasiun Urasa dan Nagaoka di Provinsi Niigata. Ini merupakan yang pertama kalinya ada Shinkansen keluar dari rel sejak kereta listrik ini dioperasikan tahun 1964. Shinkansen sebenarnya dilengkapi dengan sistem yang secara otomatis akan menghentikan suplai listrik jika alat itu mendeteksi adanya gempa. Pada gempa-gempa sebelumnya, Shinkansen tetap saja “berlari” karena sistemnya hanya menghentikan pasokan listrik bersamaan dengan terjadinya gempa di wilayah yang dilaluinya. Untungnya, tak seorang pun dari 150 penumpang yang cedera.

Yang segera kelihatan bagi orang Indonesia seperti saya adalah “kehebatan” pemerintah Jepang dalam menangani bencana. Ini mungkin satu-satunya pemerintahan di dunia yang kabinetnya memiliki Kementerian Penanganan Bencana (Disaster Management Ministry) yang menterinya saat ini adalah Yoshitaka Murata. Ia telah berada di lokasi sejak Sabtu malam dan baru kembali ke Tokyo Minggu malam untuk menyampaikan laporan dalam sidang kabinet yang dipimpin Perdana Menteri Junichiro Koizumi. Sepanjang hari Minggu suplai listrik telah dipulihkan, meskipun separuh dari rumah dan bangunan belum juga akan mendapat pasokan listrik maupun gas.

“Pemerintah akan melakukan yang terbaik untuk mengordinasikan upaya-upaya pemulihan,” kata Koizumi seperti dikutip NHK.

Kabinet segera memberlakukan UU Pemulihan Bencana untuk 29 lokasi di provinsi itu, dalam mana pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan menanggung semua biaya pemulihan bencana dan fasilitas-fasilitas penampungan. Karena Jepang berpengalaman panjang dengan gempa dan typhoon (yang tak kalah hebatnya membawa bencana banjir dan tanah longsor), tak heran jika APBN negara itu juga menganggarkan biaya pemulihan bencana secara rutin. Namun, karena tahun ini bencana typhoon telah terjadi melebihi perkiraan, termasuk angin topan Tokage dua pekan lalu, jumlah anggaran ini pun tidak lagi mencukupi untuk meng-cover gempa Niigata. Sang Menteri bencana pun berjanji mengambilkan anggaran tambahan untuk menangani akibat gempa kali ini.

Menteri Keuangan Sadakazu Tanigaki sebagaimana dikutip The Asahi Shimbun mengungkapkan, untuk tahun ini, dalam periode Januari hingga 15 Oktober, bencana alam telah menyebabkan kerugian sebesar 725,9 miliar yen atau 300 miliar yen lebih besar dibandingkan “tahun anggaran” sebelumnya. Ini umumnya akibat serangan typhoon, yang hingga angin topan nomor 10 (orang Jepang memberi nomor untuk tiap angin topan), telah mengakibatkan 220 orang meninggal. Disebutkan bahwa Jepang baru lagi mengalami musim angin topan seperti kali ini sejak tahun 1982 di mana korban meninggal atau hilang mencapai 524, sehingga antisipasinya dalam penyediaan anggaran memang meleset. Bencana alam dahsyat terakhir yang mengakibatkan banyak orang meninggal adalah ketika gempa menghantam Kobe dan sekitarnya tahun 1995.

Rakyat Jepang yang berduka akibat bencana sebenarnya patut bersyukur karena adanya “menteri bencana”. Setidaknya, kabinet telah menyiapkan anggaran (yang pasti tepat sasaran tanpa melenceng kiri-kanan!) untuk pemulihan. Di banyak negara lain perhatian pemerintah seperti ini kedengaran hanya seperti mimpi. Orang harus memulai dari nol lagi, dan itu pun belum tentu akan pulih kembali. Di Jepang, dalam hitungan hari, rumah-rumah dibangun kembali, jalan-jalan dan jembatan dipulihkan. Demikian pula fasilitas penunjang lainnya seperti suplai listrik, air, gas dan telekomunikasi, tak perlu menunggu tanpa akhir.

Meskipun demikian, kabinet Koizumi tetap saja menuai kritik, terutama menyangkut informasi mengenai kapan peringatan evakuasi harus dikeluarkan. Yoshiaki Kawata, seorang peneliti bencana pada Universitas Kyoto, menilai, pemerintah kadang-kadang tidak tanggap bagaimana bencana dapat terjadi secara seketika. Ia mencontohkan, pada saat typhoon nomor 21 menerpa Miyagaya di mana tujuh orang dilaporkan meninggal, Badan Meteorologi Jepang telah mengingatkan bahaya tanah longsor. Namun, aparat setempat masih menunggu 30 menit sebelum mengeluarkan peringatan evakuasi. Akibatnya, saat peringatan dikeluarkan, bencana telah terjadi.

Namun, Yoshitaka Murata, sang “menteri bencana” mengatakan, banyak faktor yang harus diingat: Jepang tidak melakukan persiapan untuk mengatisipasi bencana sampai pada skala seperti yang terjadi tahun ini.

Ketika laporan ini ditulis sekitar pukul 00.30, Senin (25/10), tiba-tiba terasa lagi satu goyangan gempa menggucang bumi. Untunglah ada “Menteri Bencana!”

Farid M Ibrahim Warga Indonesia di Tokyo, Jepang

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/30/Jendela/1354033.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: