TEWS, Jitu Hadapi Tsunami?

TEWS, Jitu Hadapi Tsunami?

Serbuan tsunami di Aceh, meski sudah berselang satu setengah tahun, masih saja berbekas dalam ingatan. Namun, peristiwa mengerikan dan menyentak itu ternyata belum cukup kuat mendorong banyak orang di daerah lain yang rawan tsunami untuk bergerak membangun ”benteng-benteng” pertahanan menghadapi serangan berikutnya.

Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Unesco belum lama ini membuktikan, masyarakat di Aceh Besar saja yang satu provinsi dengan Banda Aceh tidak terusik untuk menata ruang dan menyiapkan diri menghadapi ancaman bencana serupa di kemudian hari. Ketidaktahuan dan sikap mengabaikan ancaman bencana tsunami juga terlihat dari masih banyaknya korban yang jatuh ketika terjadi tsunami di Pangandaran, Juli lalu.

Di pihak pemerintah sendiri, hanya pemerintah pusat yang terlihat begitu sibuk. Dengan dalih untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa, pemerintah pusat mencanangkan pembangunan Jejaring Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System/TEWS). Program ini terlaksana karena mendapat dukungan banyak pihak asing yang bersimpati atas musibah tsunami Aceh. Sebut saja yang paling gencar membantu adalah Jerman, Jepang, dan China. Jerman sendiri akan memberikan alat pengukur gelombang tsunami dan gempa di dasar laut bernilai 45 juta euro, gratis.

Dalam hitungan angka yang tertuang dalam skenario besar TEWS, semua sistem ini akan menyerap dana hingga Rp 1,2 triliun. Jejaringnya terdiri dari sensor untuk pemantauan, komunikasi data ke kantor pusat, pusat pengolahan data, komunikasi untuk penyebaran informasi peringatan bahaya, dan aspek nonteknik, seperti membangun kesiapsiagaan masyarakat dengan penataan permukiman dan membuat jalur-jalur evakuasi.

Menurut panelis dari Badan Meteorologi dan Geofisika, untuk membangun jejaring sistem pemantauan seismik secara online saja harus dikeluarkan dana setengah miliar rupiah. Jika pengadaan sistem itu sepenuhnya dibebankan pada anggaran pemerintah, hal itu tentu akan sangat berat mengingat Indonesia masih dibebani dengan proyek pemulihan Aceh dan Nias pascatsunami dan bencana lain yang datang beruntun kemudian.

Pembangunan jejaring TEWS itu, yang terdiri dari peralatan canggih, mau tak mau harus tergantung pada pihak asing, misalnya dari segi teknologi mulai dari pengadaan hingga pengelolaan alat. Saat ini Indonesia sudah sangat senang dengan datangnya bantuan peralatan pemantauan gempa dan tsunami yang cuma-cuma.

Padahal, penerapan sistem canggih itu menimbulkan implikasi, yaitu ketergantungan yang terus-menerus di kemudian hari pada pemberi hibah, di antaranya untuk mengirim tenaga teknisi dan ahli ke negara asal instrumen itu untuk mengikuti pelatihan. Untuk itu, pemerintah harus merogoh kantong juga. Belum lagi jika instrumen itu rusak dan mengharuskan penggantian komponen.

Karena itu, sekali TEWS terbangun sebagai pemantau gempa dan tsunami di Indonesia, maka untuk seterusnya dalam hitungan puluhan hingga ratusan tahun harus terus ada dan memerlukan alokasi anggaran untuk operasional, pemeliharaan, hingga pembaruan alat yang tidak sedikit. Untuk itu, hampir pasti industri dalam negeri tidak akan mampu menggantikannya tanpa melibatkan industri asal pembuat alat itu.

Alat berteknologi canggih yang dihibahkan kepada Indonesia dan telah dipasang di beberapa lokasi saat ini umumnya juga masih dalam tahap eksperimen. Kejadian tsunami besar di Aceh memang merupakan momentum yang tepat bagi peneliti asing untuk menjadikan alam Indonesia sebagai laboratorium lapangan guna uji coba instrumen tersebut sekaligus untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuan mereka.

Keberadaan TEWS sendiri saat ini masih jauh dari lengkap. Sejak tahun 2003, TEWS yang diusulkan BMG barulah terdiri dari jejaring seismograf dan GPS saja. Belum terbentuk jejaring alat pemantau pasang surut air laut yang dapat diandalkan untuk menyampaikan data secara cepat dan jejaring alat pemantau gelombang tsunami. Padahal, dua sistem ini dapat berfungsi untuk mengonfirmasi dan melengkapi data dari stasiun seismograf tentang adanya potensi tsunami yang merusak. Kecepatan penyampaian data ke lokasi-lokasi yang bakal diterjang tsunami pascagempa besar diharapkan akan berperan dalam mengurangi jumlah korban jiwa.

Pembangunan skenario besar TEWS tampaknya masih memakan waktu dan akan menyerap dana lebih besar lagi. Namun, kalau nantinya sudah terbangun dan tersosialisasi penggunaannya di masyarakat, apakah ada jaminan itu dapat meredam jumlah korban jiwa mengingat waktu datangnya tsunami sampai ke darat lima hingga 30 menit? Belum ada jawaban pasti.

Sosialisasi bencana

Tingginya jumlah korban pada setiap kali bencana gempa dan tsunami, dan karena mengingat ancaman bencana gempa dan tsunami tidak dapat diketahui kapan datangnya, dan cenderung kerap terjadi belakangan ini di bumi yang sudah semakin tua, panelis dari LIPI menekankan perlunya menempuh langkah nonteknis.

Upaya yang harus segera dilakukan adalah memberdayakan masyarakat untuk membangun kapasitasnya menghadapi bencana dengan menggali dan mengeksplorasi kearifan lokal, misalnya pada konstruksi bangunan tradisional tahan gempa, penyampaian peringatan atau bahaya akan datangnya bencana dengan cara-cara tradisional.

Dengan keterbatasan anggaran dari pemerintah, langkah penyadaran masyarakat yang berada di daerah rawan bencana untuk mengenal ancaman bencana — bukan hanya gempa dan tsunami, menurut panelis akan lebih efisien, efektif, cepat, dan hemat.

Program sosialisasi kebencanaan dan pemberdayaan masyarakat untuk mengantisipasi datangnya bencana haruslah dimasukkan, bahkan diprioritaskan, dalam perencanaan pembangunan.

Ke depan, demikian ditekankan panelis dari LIPI, pembangunan di Indonesia harus berorientasi pada kebencanaan. Bukan untuk tanggap darurat dan penanggulangan, tetapi untuk kegiatan yang berkaitan dengan upaya preventif dan antisipatif. (YUN)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/16/HBBencana/2888060.htm

Satu Balasan ke TEWS, Jitu Hadapi Tsunami?

  1. shuzi mengatakan:

    good news!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: