Tumpukan Arsip yang Terendam Masih Bisa Diselamatkan

Tumpukan Arsip yang Terendam Masih Bisa Diselamatkan

MASIH ada korban lain dari terjangan gelombang tsunami di sejumlah kawasan di Nanggroe Aceh Darussalam, yakni ribuan arsip yang terendam air dan lumpur. Selain sebagai dokumen autentik tiada tergantikan, arsip yang masih aktif atau digunakan seperti sertifikat tanah sangat dibutuhkan keberadaannya guna menghindari perselisihan di kemudian hari.

Sayangnya, permasalahan tersebut masih luput dalam penanganan pascabencana di Aceh. Arsip di Badan Arsip Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sempat terendam air dan lumpur selama sebulan lebih tanpa penanganan sama sekali. Walaupun, permasalahan kemanusiaan perlahan mulai terkendali, demikian kata Kepala Pusat Arsip Nasional RI Djoko Utomo.

“Kami dari pusat datang melihat kondisi pada awal Februari lalu dan baru saat itu juga kantor badan arsip dibuka. Arsip itu sudah basah berlumpur hitam. Sebagian masih terendam air,” katanya.

Di kantor Badan Pertanahan Nasional Kota Banda Aceh, sebagian arsip sudah dibersihkan lumpurnya dan dikeringkan di matahari untuk dipindai. Sekitar 800 buku tanah yang setiap buahnya berisi 52 sertifikat tanah masih terselamatkan.

Namun, masih ada harapan merestorasi arsip-arsip memprihatinkan itu. Direktur Tokyo Restoration and Conservation Center, sekaligus pakar restorasi arsip, Isamu Sakamoto tertarik membantu menangani arsip-arsip tersebut.

RESTORASI arsip di Aceh pascabencana amat menarik para ahli restorasi karena selama ini hanya ada referensi penanganan arsip akibat bencana saat terjadi banjir besar di Florence, Italia, tahun 1966.

Kerusakan arsip saat itu hanya basah, tetapi tidak berlumpur. Memang kasus banjir berlumpur pernah terjadi di Fue, Vietnam, pada tahun 1999. Tetapi, banjir dan lumpur di sana tidak hitam pekat seperti yang terjadi di Aceh.

Pekerjaan restorasi arsip di Aceh pascatsunami merupakan pekerjaan berat. Terlebih lagi penanganannya sangat terlambat karena sudah enam minggu dibiarkan.

Seperti dikatakan Sakamoto, ketika terjadi gempa besar di Kobe, arsip langsung ditangani setelah dua minggu kejadian. Saat itu masalah kemanusiaan sudah terkendali. “Bisa dibayangkan naskah-naskah tua terendam air, lumpur hitam, serta kotoran-kotoran lain selama berminggu-minggu di Aceh,” ujar Sakamoto.

Walau begitu, bagi seorang konservator, naskah yang sudah tidak keruan itu ternyata masih “bernyawa”.

Tim dari Tokyo yang tergabung dalam Committee for Culture Heritage and Victim Area, termasuk Sakamoto, akan mengidentifikasi ke lokasi arsip yang terkena bencana terlebih dahulu. Setelah itu baru ditentukan bentuk bantuan. Pada tahap awal, mereka menyiapkan puluhan kotak tahan air.

Sakamoto mengatakan, dalam penanganan arsip rusak terendam itu, yang pertama kali harus diperhatikan ialah kesehatan pekerja arsipnya. Arsip rusak tersebut dapat mendatangkan virus berbahaya karena bibit penyakit dan virus yang belum mati. Jamur, misalnya, dapat memicu tuberkulosis.

“Kami membawa banyak etanol yang digunakan untuk menghentikan kuman dan memudahkan pekerjaan. Selain itu, dokumen atau arsip masih harus difumigasi menggunakan obat berdaya bunuh kuat, yaitu methyl bromide,” katanya.

SALAH satu teknik penanganan arsip rusak terendam ialah dibekukan pada suhu minus 40 derajat Celsius. Pendinginan itu guna menahan jamur. Jamur dapat menyebabkan aksara hilang dan kertas rapuh. Naskah kemudian dikeringkan dengan vacuum dry. Di Florence digunakan teknik tersebut.

“Di kantor pertanahan yang sebagian arsipnya sudah dikeringkan di matahari dapat dibasahkan lagi dan disatukan dengan arsip basah lain. Untuk pendinginan, dapat meminta tolong sebuah perusahaan ikan Jepang yang berkedudukan di Medan. Arsip basah itu bisa disimpan sementara di pendingin mereka dan berangsur diperbaiki,” kata Sakamoto.

Sedangkan merestorasi naskah dalam jangka panjang diperlukan peranan Pusat Arsip Nasional RI yang memiliki berbagai peralatan restorasi naskah, mulai dari pengukuran kadar asam, laminating, penambalan dengan bubur kertas, pengepresan, sampai pengeringan. Setelah direstorasi, naskah dapat disimpan lama.

Selama ini, kerap terjadi kesalahan penanganan arsip terendam di tengah masyarakat. Naskah basah dijemur di matahari, termasuk di kantor BPN Kota Banda Aceh. Padahal, itu bisa membuat kertas rapuh dan tidak tahan lama.

Penanganan secara sederhana, lebih baik naskah dikeringkan dengan kertas khusus penyerap air atau sebagai pengganti bisa digunakan kertas koran. Dengan demikian, saat kering kertas tidak keriting.

Selain itu, naskah basah dapat juga diangin-anginkan di dalam ruangan. Setelah agak kering, lalu digantung. Intinya, jangan sampai naskah menempel di suatu permukaan karena jika terdapat stempel bisa hilang atau rusak.

Saat membersihkan dokumen yang terkena lumpur harus dilihat kondisi tinta. Saat dokumen diusap dan tinta luber berarti jangan sampai naskah terkena air. Dokumen tersebut dapat langsung dikeringkan dengan digantung, setelah itu lumpur yang mengering dibersihkan perlahan dengan kuas.

JIKA tinta tidak luber dapat disiram air, sepanjang tidak merusak dokumen, baru dikeringkan. Untuk dokumen penting yang rusak parah sebaiknya menghubungi ahlinya.

Djoko menambahkan, dalam kearsipan sebenarnya dokumen bisa diduplikasi. Ini sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan yang menyebutkan, dokumen perusahaan dapat dan sah jika dialihmediakan serta dilegalisasi. Akan tetapi, ketentuan ini jarang dipraktikkan.

Di samping itu, buku tanah yang asli masih sangat diperlukan untuk bukti di pengadilan. Oleh karena, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana masih mensyaratkan hardcopy sebagai bukti. Itulah pentingnya merestorasi arsip yang rusak tersebut.

Sementara itu, perselisihan terutama di bidang pertanahan diperkirakan akan pelik di Aceh pascabencana mengingat batas- batas tanah tidak jelas lagi atau patoknya hilang.

“Jadi, tugasnya sekarang adalah merestorasi bukti asli dan mengupayakan kesahan bentuk lain dokumen di pengadilan. Termasuk hasil pindai yang dikerjakan kantor pertanahan,” kata Djoko.

DI Jepang, kesadaran akan konservasi arsip sangat baik. Ketika terjadi bencana, yang pertama diselamatkan tentu saja kelangsungan hidup manusianya. Namun, dalam rehabilitasi, masalah arsip ini sangat diperhitungkan.

“Naskah merupakan memori. Di dalamnya terdapat identitas asli masyarakatnya. Untuk bangunan rusak bisa dibangun kembali, tetapi naskah sulit dicarikan gantinya. Kadang, naskah berusia ratusan tahun tersimpan di rumah-rumah masyarakat yang tertimpa bencana,” kata Sakamoto.

Ketika terjadi gempa bumi besar di Kobe, misalnya, dalam waktu dua minggu arsip sudah ditangani. Selain itu, organisasi penyelamatan naskah sampai membuat poster agar masyarakat tidak putus asa menyelamatkan arsipnya dan terdapat posko penyelamatan arsip. Warga Kobe membuat kelompok relawan yang bekerja sama dengan pakar untuk merestorasi arsip masyarakat.

“Yang penting, masyarakat dan Pemerintah Indonesia sendiri harus bersemangat dengan asetnya, termasuk arsip. Kalau di sini tidak peduli, kami tak bisa berbuat apa-apa. Kesadaran naskah disimpan untuk dapat dilihat generasi berikutnya itu sangat penting dan perlu ditumbuhkan,” ujar Sakamoto. (INE)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/14/humaniora/1554453.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: