Yang Sudah Terjadi dan yang Akan Datang

Yang Sudah Terjadi dan yang Akan Datang

oleh Brigitta Isworo Laksmi

Bumi Pertiwi selalu digambarkan subur makmur dan kaya akan sumber daya mineral. Padahal, posisi geologisnya amatlah labil sehingga rentan akan bencana geologi. Merupakan daerah pertemuan tiga lempeng besar yang aktif, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Eurasia, nyaris semua wilayah Indonesia terus bergerak secara relatif satu sama lain, tergantung di atas lempeng mana dia berada. Hanya Pulau Kalimantan yang relatif stabil meski juga tidak 100 persen aman dari dampak pergerakan lempeng.

Penanda pertemuan dua lempeng, baik lempeng benua-benua, samudra-benua, atau lempeng samudra-samudra tampak jelas. Daerah pertemuan antarlempeng ini ditandai oleh keberadaan Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera, sesar Semangko di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, serta rangkaian gunung api yang berderet dari Sumatera bagian utara, membentuk busur di Jawa hingga ke timur Indonesia. Rangkaian gunung api yang membentang sepanjang 5.500 kilometer ini merupakan bagian dari cincin api atau ring of fire dunia.

Akibat aktivitas geologi yang sedemikian tinggi, Indonesia memiliki 129 gunung api, 70 di antaranya adalah tipe A, tercatat pernah meletus dalam rentang sejarah sejak tahun 1600. Indonesia juga ”kaya” akan gempa. Karena dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, maka gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami.

Memegang rekor bencana

Mari kita tengok ”kekayaan” kita (akan bencana!). Gunung Tambora di Kabupaten Bima-Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, telah membuat Tanah Air kita ”masyhur”. Jumlah korban letusan Tambora pada 1815 sebanyak 92.000 jiwa belum ada pesaingnya dalam catatan sejarah modern letusan gunung api di dunia.

John Crawfurd yang tinggal di Surabaya memberikan kesaksiannya saat Tambora meletus: sehari setelah suara yang diiringi gempa terdengar di Surabaya, mulai turun hujan abu dan pada hari ketiga langit benar-benar gelap; untuk beberapa hari saya melakukan transaksi bisnis di bawah sinar lilin. Selama beberapa bulan, matahari tidak terlihat jelas, sementara udara juga tidak cerah.

Kedahsyatan letusan Tambora juga terungkap dalam Syair Kerajaan Bima:

”Bunyi bahananya sangat berjabuh

Ditempuh air timpa habu

Berteriak memanggil anak dan ibu

Disangkanya dunia menjadi kelabu…”

Kesaksian dan syair tersebut menggambarkan dahsyatnya letusan Tambora. Dan ternyata korban yang langsung tewas mencapai sekitar 10.000 jiwa. Sebanyak 38.000 orang tewas di Sumbawa dan 44.000 orang meninggal di Lombok akibat kelaparan dan penyakit yang terjadi menyusul perubahan iklim akibat letusan tersebut. Lebih dari separuh penduduk Sumbawa tewas. Dari sekitar 170.000 jiwa yang tersisa sekitar 80.000 jiwa. Tambora juga mengubur dua kerajaan di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yaitu Pekat dan Tambora. Tebal abu mencapai 0,5 meter-1,2 meter.

Mengutip tulisan Bernice de Jong Boers, Mount Tambora in 1815: A Volcanic Eruption in Indonesia and Its Aftermath, saat aktivitas vulkanik mencapai puncaknya, suara letusan terdengar—ketika itu diduga suara tembakan meriam—hingga P Bangka (1.500 km) dan Bengkulu (1.775 km), langit di P Madura (500 km) gelap selama tiga hari. Di Besuki, Jawa Timur, gelombang pasang hingga dua meter tingginya. Batuan piroklastik (dari dapur magma) berdiameter 2-15 cm jatuh sejauh 40 km dari puncak, yang terpotong dari tinggi 4.200 meter tinggal 2.800 meter.

Letusan besar dimulai hari Rabu (5 April 1815) dan mencapai puncaknya Senin (10 April 1815) sejak pukul 07.00 dan berakhir 12 April 1815. Tanggal 12 Juli 1815 kegiatan vulkanik Tambora berhenti. Suara gemuruh masih terjadi sesekali hingga Agustus 1819. Pascaletusan terbentuk kaldera (kepundan) berdiameter 6 km lengkap dengan danaunya. Letusan Tambora ini 10 kali lipat letusan Krakatau yang menelan korban 36.000 jiwa akibat abu panas dan tsunami yang ditimbulkannya.

Letusan Tambora merupakan letusan dengan Indeks Eksplosivitas Vulkanik (VEI) 7, tertinggi dalam catatan sejarah, dari maksimal indeks 8. Gunung itu memuntahkan sekitar 150 km kubik batuan vulkanik. Tingkat VEI maksimal 8 hanya dicapai supervulkano purba Toba yang meletus 73.000 tahun lalu. Pascaletusan, terbentuk Danau Toba yang diameternya 3.000 km. Letusan supervulkano itu kekuatannya 100 kali lipat letusan Krakatau (27 Agustus 1883) yang kekuatan letusannya 6 VEI.

Tsunami Aceh

Bencana tsunami—bahasa Jepang yang artinya gelombang panjang—di pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam yang menelan korban hingga sekitar 310.000 jiwa, termasuk korban di negara-negara lain, kini berada di urutan teratas tsunami paling dahsyat karena korban jiwa begitu banyak. Pada 26 Desember 2004, tangan-tangan bencana tsunami meraih hingga ke berbagai negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara seperti India, Sri Lanka, Thailand, Somalia, Myanmar, dan sejumlah negara lainnya.

Bencana tersebut dipicu gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter yang pusatnya berada di Samudra Hindia. Kita semua gagap seketika saat pantai tiba-tiba menjadi bersih dari bangunan dan manusia tersapu hilang tanda daya ditelan air.

Jumlah korban jiwa yang 0,3 juta jiwa itu bukanlah yang terbesar untuk bencana geologi. Bencana gempa bumi tanpa diikuti tsunami yang menelan korban terbanyak adalah gempa Shaanxi, China, pada tahun 1556 dengan jumlah korban tewas sekitar 830.000, hampir satu juta orang. Yang mutakhir adalah gempa di Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan korban sekitar 6.000 jiwa, menghancurkan dan merusak lebih dari 200.000 rumah.

Catatan bencana geologi itu masih bisa lebih panjang lagi. Kita tentu masih ingat letusan Merapi 14 Juni lalu yang menewaskan dua orang, gempa dan tsunami di Pantai Pangandaran, letusan Gunung Agung di Bali yang memakan korban 1.148 jiwa (1963), Gunung Kelud (1919) dengan korban lebih dari 5.000 jiwa. Juga bencana tsunami di Flores (1992), di Pulau Biak (1996), atau tsunami di Ambon (1899) yang menelan korban sekitar 3.800 jiwa. Dan masih banyak lagi….

Yang tertulis di atas hanya cuplikan pendek dari deretan panjang kisah bencana yang mendatangkan kerugian besar bagi kesehatan, sosial, dan ekonomi. Sebagian bencana bahkan telah membuat ”bangkrut” kita secara material dan kejiwaan. Yang pasti, kita harus sadar, sesadar-sadarnya, bahwa bencana-bencana besar lainnya masih menunggu kita di depan pintu.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/16/HBBencana/2887575.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: