Bersahabat dengan Gempa

Bersahabat dengan Gempa
Oleh : Prof Sarwidi MSCE PhD

Saturday, 26 May 2007, Kolom – Analisis
BERADA dalam posisi lintasan lempeng, maka sebagian besar wilayah Indonesia adalah daerah yang rawan terhadap guncangan gempa. Dengan kondisi alam seperti itu, maka adalah suatu keniscayaan bahwa gempa dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa dapat diduga pada wilayah yang memang rawan gempa. Apabila masyarakat masa bodoh dengan ancaman yang dihadapinya tersebut, maka permasalahan akan menjadi sangat besar manakala ancaman tersebut benar-benar menjadi kenyataan.

Karena itu, masyarakat yang tinggal di lingkungan rawan gempa harus peduli akan kondisi riil yang dihadapinya tersebut. Dengan demikian, masyarakat perlu menyesuaikan diri dengan kondisi riil lingkungannya dengan cara bersahabat. Bersahabat dengan gempa menjadi salah satu solusinya. Apalagi gempa dapat mengancam wilayah-wilayah pantai tertentu dengan tsunaminya. Sedangkan guncangannya tidak hanya memberikan ancaman di wilayah pantai, namun dapat menjangkau hingga ke wilayah-wilayah pedalaman.

Bersahabat dengan gempa berarti perlu pengetahuan tentang fenomena gempa bumi, sikap terbaik dan persiapan apa saja untuk mengantisipasinya. Untuk persiapan mengantisipasi tsunami, maka dapat dilakukan dengan memasang alat peringatan dini dan dengan membuat tata ruang pantai yang memadai. Sikap terbaik saat di pantai dan terjadi gempa, maka segera menuju tempat cukup tinggi dan aman, apalagi apabila permukaan laut menjadi surut.

Sikap terbaik saat terjadi guncangan gempa perlu terus disosialisasikan baik melalui pendidikan formal maupun non-formal sejak usia dini. Misalnya apabila di dalam bangunan setelah terasa guncangan awal, maka cari tempat untuk melindungi anggota badan atau apabila cukup dekat dengan akses keluar dari bangunan maka segera menuju ke sana.

Goncangan gempa yang menjangkau pemukiman hanya akan menyebabkan bencana apabila banyak bangunan yang roboh dan menimpa penghuni serta merusak harta benda di dalamnya. Oleh karena kerentanan bangunan adalah menjadi penyebab awal dari bencana yang disebabkan oleh goncangan gempa. Untuk menghindari dampak lanjutan, bangunan harus direkayasa sedemikian rupa, sehingga tahan terhadap guncangan gempa.

Bangunan yang rusak selama ini didominasi oleh bangunan beton dan tembok. Bangunan semacam itu sangat populer di Indonesia dan perlu dijadikan prioritas. Dengan demikian untuk menghindari bencana yang akan terjadi perlu bangunan semacam itu perlu direkayasa sedemikian rupa sehingga tahan terhadap guncangan gempa.

Bangunan tahan gempa tidak harus mahal dan rumit, hanya memerlukan keahlian khusus bagi masyarakat konstruksi untuk merekayasa bangunan agar tahan terhadap gempa. Sosialisasi yang dilakukan untuk membuat bangunan non-teknis yang tahan gempa pada kelompok masyarakat konstruksi, yang sebagian besar adalah mandor sudah membuahkan hasil nyata, yaitu bangunan-bangunan tahan gempa yang dibangun dekat dengan sumber gempa Yogyakarta-Jawa Tengah setahun silam, tidak mengalami kerusakan, walaupun bangunan biasa roboh ataupun rusak berat di sekelilingnya.

Hasil tersebut menunjukkan, bahwa masyarakat mampu untuk membuat bangunan yang tahan gempa. Bangunan tahan gempa juga tidak harus mahal. Apabila kenyataan itu sudah merata, maka Insya Allah gempa tetap menjadi fenomena alam tanpa menimbulkan bencana. Bersahabat dengan gempa, akan bisa membantu kita lebih siap dan selamat, jika terjadi bencana. (Penulis adalah Direktur CEEDEDS/Dosen FTSP UII)-z.

http://222.124.164.132/article.php?sid=124773

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: