CATATAN BUDAYA: Bencana, Idealitas dan Spiritualitas Kita

CATATAN BUDAYA: Bencana, Idealitas dan Spiritualitas Kita

Sunday, 27 May 2007, Rubrikasi – Budaya
Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan (dahsyat). Bumi mengeluarkan beban-bebannya. Dan manusia bertanya ‘mengapa bumi (bisa) demikian”. Hari itu bumi menceritakan rahasianya. Karena Tuhan telah memerintahkan itu kepadanya. Pada hari itu manusia berlarian keluar, menyaksikan akibat pekerjaan mereka dalam keadaan bermacam-macam. Barang siapa yang berbuat kebaikan sebesar debu pun, niscaya melihat keuntungannya. Demikian pula barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar debu pun, niscaya juga melihat akibatnya (QS.99:1-8)

BAGI insan-insan kreatif mereka yang bekerja di bidang kebudayaan (seni, sastra dan ilmu pengetahuan) bencana dalam bentuk apapun seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran dan lain-lain, mustinya dimaknai sebagai ‘darah’ (inspirasi kreatif) penciptaan. Karena derajat signifikansi ke arah itu sedemikian nyata dan hegemonik. Bencana mengingatkan kita akan banyak hal tentang problem dan kesadaran akan diri dan kedirian kita berhadapan hidup sosial, budaya, politik bahkan ideal dan spiritualitas (teologi) manusia.

Bencana, misalnya mengingatkan akan kesadaran kosmik. Yakni menyangkut hubungan manusia dengan alam dan lingkungan. Bahwa kita ternyata hidup di dunia yang rentan, alam yang labil dan traumatis. Maka kita harus memaknai dan mengerti posisi kita terhadap alam dan lingkungan geografis kita. Wajar jika bumi berulah, manusia bertanya, mungkinkah ada yang salah atau ada ketidakberesan-ketidakberesan akut manusia dalam memperlakukan alam lingkungannya. Karena notabene ‘kerusakan di darat dan di laut adalah akibat ulah tangan manusia’. Demikian apa yang diamanatkan dalam Alquran.

Bencana juga mengingatkan kita akan tata idealitas dan spiritualitas kita. Bahwa adanya bencana, kita diingatkan bahwa kuasa Tuhan ternyata sedemikian nyata dan hegemonik. Dengan guncangan bumi kurang satu menit saja ternyata manusia telah dibuat panik dan kocar-kacir, tak bisa berbuat apa-apa. Sehingga mengalami situasi traumatis yang tak alang-alang kepalang berhari-hari bahkan berbulan-bulan lamanya. Maka patutlah kita bertanya, bagaimana sesungguhnya hubungan kita manusia dengan Tuhan selama ini. Sudah sesuaikah dengan idealitas kemakhlukan kitakah? Artinya dengan bencana, kita diingatkan untuk kembali menziarahi ‘hati nurani’ kita. Sebab ternyata jika terjadi bencana, tak ada yang dapat menolong dan mengembalikan kesadaran diri serta kemanusiaan kita, kecuali kesadaran akan hati nurani dan spiritualitas kita. Maka patutlah jika manusia dalam gerak dan diamnya selalu berada sedekat mungkin, denganNya (transendensi) agar senantiasa dilimpahi cahaya ilahiah. Sehingga mampu bangkit dari keterpurukan bencana.

Di sisi lain, bencana mengingatkan akan tata dan hubungan kesosialan kita. Akibat bencana, ternyata ada hubungan kekerabatan, kekeluargaan kita yang terkoyak. Ada sesuatu yang tiba-tiba berubah. Ada begitu banyak jiwa yang kita cintai, tiba-tiba harus hilang, terenggut bencana. Bencana juga mengingatkan kita akan tata hubungan dan perlakuan kita terhadap benda-benda (eksistensial). Yakni kesadaran eksistensial akan keakuan dan kepemilikan benda-benda (material) tersebut. Bahwa bertahun-tahun kita menumpuk-numpuk, menghitung-hitung, bermegah-megah dan berbangga dengan materi, ternyata tersapu habis dalam sekejap mata.

***

DARI beberapa problem eksistensial dan krusial berikut pertanyaan dan kesadaran yang mendera akibat bencana sangatlah signifikan jika menggerakkan renungan akaliah dan batiniah manusia yang muaranya menjadi inspirasi kreatif penciptaan. Yakni darah kebudayaan yang menggerakkan aktivitas dan aksi yang lebih konkret bagi lahirnya karya-karya besar sejarah. Selain itu juga menyadarkan kita akan ‘Apa yang musti bisa dan harus segera kita kerjakan’. Sehingga dalam batas paling minimalis dapat mengurangi stres, traumatik dan skyzoprenia berkepanjangan. Demikian kerja besar yang musti segera direalisasikan oleh insan-insan kreatif seperti seniman dan sastrawan, filsuf atau pemikir kebudayaan serta intelektual sosial humaniora dalam memaknai bencana. Sehingga bencana tidak hanya meninggalkan sisi gelap manusia dan kemanusiaan kita. Tetapi juga harus sumber inspirasi penciptaan sejarah dan kebudayaan demi hari depan yang lebih baik, dinamis dan signifikan bagi hidup dan kehidupan manusia. q – o

*) Otto Sukatno CR, Penyair dan pemerhati sosial, budaya dan ketimuran..

http://222.124.164.132/article.php?sid=124788

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: