Kesiagaan Bencana: Simulasi pada Anak-anak di Berbagai Kesempatan

Kesiagaan Bencana: Simulasi pada Anak-anak di Berbagai Kesempatan

Yogyakarta, Kompas – Untuk memberi bekal pengetahuan yang memadai mengenai bencana dan apa saja yang harus dilakukan jika terjadi bencana, berbagai pihak terus menanamkan kesiagaan bencana pada anak-anak. Tak hanya lewat pemberian materi khusus di sekolah-sekolah, kesiagaan bencana juga disimulasikan pada berbagai kesempatan.

Pada Pameran Teknologi Penanganan Bencana Gempa yang digelar di Jogja Expo Center, Jumat (25/5)-Minggu (27/5), misalnya, masyarakat termasuk anak-anak dapat mempraktikkan kesiagaan bencana dalam Panggung Goyang yang disediakan oleh Arbeiter Samariter Bund (ASB) Jerman. Panggung ini merupakan instalasi panggung mekanik yang dirancang khusus untuk menunjukkan guncangan gempa dan cara berlindung ketika terjadi gempa.

Dalam Panggung Goyang, para pengunjung diberi kesempatan untuk merasai gempa buatan berskala 4,5-5 skala Richter selama 20-30 detik. Selanjutnya mereka mempraktikkan bagaimana harus segera berlindung di bawah meja dan tetap melindungi kepala ketika keluar sesudah gempa berhenti.

Pemahaman

Seperti yang terlihat Sabtu siang, murid-murid SDN Caturtunggal IV Sleman mencoba Panggung Goyang setelah terlebih dahulu diberi pemahaman bagaimana harus bersikap ketika terjadi gempa. “Sempat takut, seperti gempa beneran,” kata Gita, siswi kelas V yang mencoba Panggung Goyang dan mempraktikkan kesiagaan bencana dengan benar.

Project Coordinator School Emergency Preparedness ASB M Gofar mengungkapkan, materi kesiagaan bencana penting untuk diberikan sejak dini. “Isi materinya sederhana, meliputi pengetahuan praktis apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Jenis bencana pun disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing,” kata Gofar.

Program Coordinator Education Save the Children Lusi Margiyani mengemukakan, berdasarkan data Save the Children ketika terjadi bencana, jumlah korban pada komunitas yang sudah pernah memperoleh training kesiagaan bencana jauh lebih rendah dibandingkan dengan komunitas yang belum pernah mendapat pengetahuan.

Karena itu, pemberian pengetahuan mengenai kesiagaan bencana perlu dipikirkan secara serius. “Mengingat beban materi dalam kurikulum yang sudah sangat padat, kesiagaan bencana dapat disisipkan dalam materi pelajaran tertentu,” kata Lusi. Pada pelajaran IPS, misalnya, bisa disisipkan pengenalan letak Indonesia dan bencana apa saja yang rawan di daerah itu. (AB3)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/28/jogja/1037819.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: