KISAH Setahun Gempa di Jateng-DIY (1 – 3)

Sabtu, 26 Mei 2007 NASIONAL
Line
KISAH Setahun Gempa di Jateng-DIY (1)
Merasakan Getaran Truk Lewat pun, Masih Takut

SM/Achmad Hussain PASANG BATAKO :Dua tukang batu memasang batako di rumah nenek Sadimin, warga Sengon, Prambanan. Warga mulai membangun setelah dana rehabilitasi dan rekonstruksi tahap II cair pekan lalu.(30)

Setahun lalu, 27 Mei 2006, gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Klaten sekitarnya dan DI Yogyakarta. Puluhan ribu bangunan rusak, ribuan jiwa meninggal, dan belasan ribu warga lainnya luka-luka akibat bencana itu. Sejak tahap rehabilitasi dan rekonstruksi dicanangkan Presiden pada 3 Juli 2006, warga terus berbenah. Betapa pun sulitnya, tidak ada pilihan lain bagi warga kecuali memulai kehidupan baru. Berikut laporannya.

WANITA tua itu berdiri di depan rumahnya yang masih berupa tembok batako. Matanya menerawang ke kusen kayu yang baru dipasang dua tukang batu. Terik matahari tak dihiraukan. Seratus meter di samping rumah terlihat SDN 04 Sengon, Prambanan terlihat megah. Seperti cemburu, nenek Sadimin Wiharjo (70), warga Sengon, Prambanan itu memungkasi kegalauan dengan tersenyum dan melangkah.

Di halaman SD itu pada Juli 2006 Presiden mencanangkan dimulainya rehabilitasi dan rekonstruksi. Kini SD itu megah sedangkan rumahnya baru berupa tembok dan belum beratap. “Ini saja karena dana rehab tahap ke II baru diterima 18 Mei lalu. Dana tak cukup, apa yang saya punya terpaksa dijual dan pinjam ke saudara,” ujarnya.

Dana rehab I Rp 4,4 juta habis untuk membangun pondasi rumahnya seukuran 8×12 meter. Dana tahap II Rp 5,4 juta saat ini sudah dibelikan semen, pasir dan batako. Material lain seperti kayu menggunakan sisa rumah lama, yang rata dihempas gempa.

Untuk membayar tukang terpaksa ngutang ke sejumlah tetangga dan saudara. Sehari-hari sambil menunggu rumahnya dikerjakan, dia tinggal di rumah darurat berdinding triplek. Meski triplek, tetapi aman dan cukup nyaman.

Sekalipun rumahnya hancur, dia mengaku masih beruntung. Seisi rumah baik anak, suami maupun cucunya lolos dari maut dan tak tertimbun puing saat gempa terjadi pukul 05.50 setahun lalu. Semuanya selamat meski dua bulan harus menghuni tenda darurat yang gerah. Rumah petani itu hanya satu dari 95.892 unit rumah (data per 5 Juni 2006) yang rusak berat atau roboh akibat gempa. Jumlah sebanyak itu tersebar di 397 desa dan 26 kecamatan, Klaten.

Dibanding delapan kabupaten lainnya di Jawa Tengah, Klaten merupakan wilayah terparah akibat gempa. Wilayah yang diterjang gempa mancakup 90%. Tercatat 1.064 orang meninggal dan 18.127 lainnya luka berat atau ringan ditimbun puing. Ratusan pasar, gedung sekolah, fasilitas umum, kantor dan puluhan saluran irigasi rusak.

Meski setahun berlalu, sisa kengerian itu masih begitu terasa. Di kecamatan yang parah diguncang gempa seperti Wedi, Cawas, Gantiwarno, Prambanan, Bayat, Jogonalan, dan Trucuk puing-puing masih tersisa meski bangunan baru mulai bermunculan.

Mimpi Buruk

Kenangan buruk masih dirasakan Sarno (50), warga Dusun Slegrengan, Canan, Wedi. Setelah setahun gempa, dia masih memilih menjadi duda.

Rasa kangen sekaligus bayangan kengerian saat maut menjemput istrinya, Sri Supadmi, belum bisa hilang semuanya. Terlebih cucu kesayangannya, Nur Muhammad (6), dan adiknya Santoso juga direnggut gempa. “Kalau kangen saya sempatkan ziarah setiap pekan. Semoga mereka diberikan tempat terbaik,” ujarnya dengan wajah sendu.

Tiga orang tercintanya hanya bagian dari 21 warga Slegrengan yang meninggal dalam bencana itu. Untuk menghapus kenangan itu, selain ziarah dia juga mengubah bentuk rumah dan ruangan agar tak terbayang saat orang-orang dekatnya dijemput maut.

Nyatanya, upaya itu belum menyembuhkan trauma. Saat ada suara gemuruh di depan rumahnya yang kebetulan jalan dusun, dia masih sering terkejut. Kadang-kadang seperti tak sadar hendak lari keluar rumah meski yang lewat hanya truk pengangkut pasir atau semen yang mensuplai material untuk membangun rumah tetangga. (Achmad Hussain-60)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0705/26/nas07.htm

Minggu, 27 Mei 2007 NASIONAL
Line
kisah Setahun Gempa di Jateng-DIY (2)
Frustrasi, Tiga Kali Coba Bunuh Diri

MIRIP KANDANG: Siswa SPM Negeri 4 Pandak, Bantul, masih bersekolah di ruangan mirip kandang hewan. Hampir setahun mereka berada di sana, berdindingkan gedhek (anyaman bambu-Red) dan beratapkan seng. Bila siang hari suasana di dalam pengap dan panas. (30)

”SEBELUM gempa saya berencana menikah, tapi bencana membuat semuanya gagal, bahkan kaki ini lumpuh terkena reruntuhan bangunan…,” tutur Erna, perempuan dari Pleret, Bantul, terbata-bata. Matanya berkaca-kaca mengenang begitu indah impian hidup baru bersama sang kekasih kalau jadi naik ke pelaminan. Namun hancur hatinya, semua sirna karena keluarga kekasih tidak bisa menerima kondisi dia. Hanya kepedihan yang dirasakan selama satu tahun ini.

Frustrasi, depresi, gela dan nelangsa. Gadis berumur 26 tahun itu pun mencoba jalan pintas, mengakhiri semua penderitaan dengan memotong urat nadi tangan. Sekali, gagal, diulanginya kali kedua. Gagal karena ketahuan perawat, dia mencoba lagi menghentikan proses kehidupannya dengan cara sama, mengiris urat nadi.

Namun Yang Menciptanya berkehendak lain. Upaya tersebut selalu gagal karena pasti ada orang yang mengetahui dan kemudian menolong dia. Tiga kali tak juga berhasil upaya mengakhiri hidup, pemilik nama lengkap Erna Sulistyaningsih itu mulai berpikir, ”Ahh…mungkin Tuhan punya rencana lain dengan kondisi saya….”

Dia pun lantas menghilangkan keinginan bunuh diri. Perlahan dengan bantuan keluarga, teman, tetangga, saudara, dia mulai menapaki kehidupan baru. Semangat hidup kembali bersinar karena bukan hanya dia yang menderita, ada ribuan orang lain memiliki nasib sama, cacat, lumpuh, kehilangan orang tua, anak, suami, istri dan orang-orang terdekat.

”Berat…mencoba melupakan masa-masa indah dulu. Membangun rumah tangga menjadi impian yang tak akan pernah bisa saya lupakan, entah sampai kapan…,” ujar sarjana Matematika dan Ilmu Pasti Alam (MIPA) tersebut lirih.

Kini dia berusaha menjalin hubungan dengan para korban gempa. Dia hanya satu dari 1.500 korban gempa cacat seumur hidup. Sebagian di antaranya lumpuh dan hanya tergeletak atau duduk di tempat tidur.

Radio Komunitas

Iis Sumarwati yang juga menderita kelumpuhan akibat tertimpa tembok menuturkan bahwa korban gempa terutama yang cacat hidup dalam keterasingan. Tak ada harapan menjalani kehidupan lebih baik karena untuk beraktivitas saja tak mampu.

Akhirnya tak sedikit yang mencoba bunuh diri misalnya memotong urat nadi, menggantung, dan minum obat serangga.

Namun kondisi demikian berubah setelah Palang Merah Indonesia bersama International Federation of Red Cross (IRFC) mendirikan rehabilitasi medik dengan membuat radio komunitas korban gempa.

Di sanalah Erna, Iis dan teman-temannya bergabung, berdialog, curhat. Dengan begitu beban penderitaan berkurang karena ada orang yang mau diajak berbagi.

”Alatnya sederhana kok, dengan menggunakan HT yang ditambah sejumlah peralatan, korban gempa bisa bebas berkomunikasi dengan sesamanya atau bahkan orang lain yang bukan korban gempa,” tutur Koordinator Rehabilitasi Medik, Tutur Priyanto.

Pendirian radio komunitas memang bertujuan membangkitkan kembali semangat hidup korban gempa terutama yang cacat. Ketika mereka bisa berbagi pengalaman dengan sesamanya, penderitaan terasa berkurang. Selama ini mereka hanya bisa memendam rasa, akibatnya banyak yang mencoba bunuh diri.

Acara radio komunitas simpel dan sederhana namun hasil capainnya luar biasa, mengurangi percobaan mengakhiri hidup. Tiap pukul 05.00 sudah terdengar siaran rohani bertujuan mengingatkan para korban, Tuhan tak pernah tinggal diam.

Yang Maha Kuasa akan membantu umatnya yang berkesusahan. Siraman rohani kembali terdengar saat magrib. Setelah itu tim konsultasi melakukan dialog dengan pendengar. Selebihnya, Erna dan teman-temannya bebas memanfaatkan radio komunitas.

Di samping rehabilitasi psikis, Tutur mengungkapkan ada pula pemulihan kondisi fisik korban gempa. Setiap hari ada saja yang melakukan terapi fisik misalnya penyinaran untuk mengembalikan kekuatan anggota badan serta belajar berjalan atau menggerakkan kaki dan tangan.

Terapi psikis maupun fisik sama pentingnya untuk mengembalikan semangat hidup korban gempa. Mereka tak pernah membayangkan bakal menjadi orang cacat seumur hidup, namun itulah kenyataannya. Erna, Iis serta korban lain sedang berusaha keras menerima kenyataan tersebut seperti ketika mereka masih normal.(Agung PW-41)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0705/27/nas05.htm

Senin, 28 Mei 2007 NASIONAL
Line
KISAH Setahun Gempa di Jateng-DIY (3-Habis)
Sekolah Belum Jadi, Ujian di Lokasi Darurat

SM/Achmad Hussain UJIAN AKHIR : Para siswa SDN 01 Sukorejo, Wedi, Klaten terpaksa mengikuti ujian akhir sekolah di sekolah darurat berdinding bambu dan beratap ijuk.(30)

DAMPAK gempa bumi 27 Mei tahun lalu tidak kalah dengan tsunami Aceh. Rentang waktu setahun masa rehabilitasi dan rekonstruksi belum mampu memulihkan kerusakan fisik. Bantuan pemerintah yang terbatas memaksa warga memutar otak. Untukmengurangi beban penderitaan para korban gempa, pemerintah menggarap sektor perumahan dengan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) sebanyak 2.400 rumah dan melalui Java Reconstruction Fund (JRF) sebanyak 2.000 unit.

Toh, rehabilitasi perumahan ternyata tidak berjalan mulus. Ganjalan bermunculan. Mulai praktik bagi rata sampai penyunatan dana dengan alasan bermacam-macam. Di beberapa wilayah yang tidak begitu parah diterjang gempa, percik kecemburuan warga muncul. Antara yang menerima dana dan yang tidak. Untuk mengatasinya, warga mencari pemecahan sendiri dengan membagi dana.

Ada yang rela memberi tetangga, namun ada juga yang dipaksa membagi. Besarannya bervariasi antara Rp 200.000-Rp 2 juta. Sebuah ironi di tengah keterbatasan. “Kami tim fasilitator selalu mengimbau agar tak dipotong sehingga warga bisa menyelesaikan rumah. Namun tetap ada pemotongan. Alasannya demi kondusifnya desa,” ujar Mulyadi, salah seorang fasilitator pembagian dana di Desa Klepu, Ceper. Pemotongan sebesar Rp 613.000 di wilayahnya dilakukan sendiri oleh RT/RW serta warga atas dasar kesepakatan. Jadi fasilitator sama sekali tidak terlibat atau menikmati uangnya.

Sektor Pendidikan

Selain sektor perumahan, sektor pendidikan juga belum usai. Sebanyak 461 unit sekolah yang rusak 80% sudah selesai direhab menggunakan dana dekonsentrasi, dana alokasi khusus, APBD dan bantuan swasta. Namun terbatasanya dana membuat sebagian SD masih belajar dan pelaksanaan ujian di lokasi darurat seperti sekolah darurat, rumah warga, sekolah tetangga atau balai desa .

Sebanyak 21 SD bahkan sejak 21-25 Mei menggelar UAS di lokasi darurat karena sekolah belum selesai direhab. Jelas, susananya tak senyaman di bangunan permanen. “Udaranya panas jadi mengerjakan soal juga sulit karena keringatan,” ujar Ardiansyah, siswa kelas VI SDN 01 Sukorejo, Wedi.

Udara gerah di sekolah yang hanya beratap ijuk dan berdinding anyaman bambu sebenarnya sudah dilakoni setahun. Namun, jam pelajaran biasa lain dengan ujian yang butuh konsentrasi. Meski sulit mengerjakan dia tetap ingin lulus dan segera ke SMP. Paling tidak SMP sudah tidak menempati

sekolah darurat. Kepala sekolah SDN 1 Sukorejo, Sukiyo SPd mengatakan dibanding 21 SD lain mungkin SD-nya paling mengenaskan. Tanggal 27 Mei 2007 genap setahun sudah mereka menjalani hari-hari di sekolah berdinding bambu. “Kelas satu paling apes masih menempati tenda, sebab kelas menggunakan anyaman bambu hanya lima. Kalau siang panas kalau hujan becek,” ujar dia. Terpaksa usai hujan turjun deras siswa boleh tidak memakai sepatu.

Siswa bertambah tak konsentrasi karena aroma tak sedap dari tenda terpal yang usai kehujanan lalu diterpa terikmatahari. Untuk menggenjot kelulusan, kelas VI diberi les sore sehingga tidak gerah udaranya. Dia berharap setelah setahun pascagempa gedung selesai dibangun dan siswa kembali ke ruangan. “Meski sekolah baru lebih bagus, tetap saja gempa itu musibah,”ujar Kasek SMPN I Prambanan, Sutrisno.Sebelum gempa sekolahnya satu lantai. Sekarang dengan bantuan donatur jadi dua lantai dan megah. Jika diminta memilih, semua siswa tentu tak ingin ada gempa yang sudah mengganggu belajar mereka karena harus menghuni tenda yang panas.

Bupati Klaten, Sunarna SE mengatakan sektor perumahan dan pendidikan tetap diprioritaskan. Khusus untuk sektor perumahan, akhir Juni ditargetkan warga sudah selesai mendirikan rumah sampai atap. “Paling tidak Juni dana RR tahap III sudah selesai.Soal pemotongan apapun bentuknya tidak diperbolehkan,” ujar dia. Untuk rehab gedung sekolah tahun ini juga dievaluasi.

Ditaksir untuk merehab lanjutan dan mengisi peralatan mebeler masih diperlukan dana sekitar Rp 250 miliar baik dari pemerintah atau donatur. Dia berharap donatur langsung memberikan bantuan dalam bentuk fisik ke sekolah. Sarana seperti jalan dan bendung irigasi yang rusak akibat gempa juga akan dianggarkan Rp 80 miliar . Paling tidak 2008 rehab jalan dan saluran irigasi diterget selesai sehingga mobilitas dan sekotor pertanian tak terganggu. (Achmad Hussain-41)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0705/28/nas01.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: