KORBAN GEMPA BERUSAHA BANGKIT ; Merajut Harapan di Tengah Keterpurukan

KORBAN GEMPA BERUSAHA BANGKIT ; Merajut Harapan di Tengah Keterpurukan

Monday, 28 May 2007, Rubrikasi – Liputan Khusus
Hingga satu tahun bencana gempa berlalu, masih banyak korban gempa terpuruk. Mereka belum sepenuhnya bangkit. Sebagian masih tinggal di rumah sementara, sebagian yang lain menunggu cairnya bantuan. Beberapa di antaranya kini tengah mencoba merajut kembali apa yang pernah digenggam. Sekalipun harus memulai dari bawah, mereka tidak lagi patah semangat. Bagaimanapun ada tanggung jawab yang harus diemban. Pemerintah, swasta atau siapapun, mestinya juga tak henti-hentinya memotivasi agar mereka cepat bangkit.

TOBONG itu ambruk ketika gempa mengguncang Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan Sleman. Tapi, karena tak ada dana, sampai sekarang belum juga diperbaiki. Padahal, bangunan pembakaran genteng dan batu bata itu menjadi penopang ekonomi utama keluarga.

Sumardianto, warga RT03/RW09 Pedukuhan Klaci I mengaku belum mampu membangun kembali tobong dan tempat menyimpan cetakan genteng dan batu batanya. Bangunan seluas 9 x 12 meterpersegi ini hancur total dihantam gempa. “Butuh uang minimal Rp 7 juta untuk membangunnya kembali. Tapi darimana saya punya uang sebesar itu,” katanya terus terang.

Kendati demikian, produksi tetap jalan. Caranya ? Ia menyewa tobong milik saudaranya yang harga sewanya Rp 300 ribu untuk satu kali produksi genteng dan batu bata. Tapi uang hasil penjualan produk untuk membangun rumah itu tak pernah cukup untuk membiayai tobongnya yang ambruk. “Sebab sudah terpakai untuk ongkos produksi dan kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Ia dan istrinya terpaksa memfungsikan dapur di rumahnya untuk menyimpan genteng dan batu bata yang belum bisa dibakar, sambil menunggu giliran tobong milik saudaranya bisa kembali disewa. “Rasanya sekarang tambah berat sejak harga genteng dan batu bata mulai turun, tapi kayu bakar dan bahan bakunya naik,” akunya.

Dukuh Klaci I, Muladi, saat ditemui terpisah menuturkan, sebenarnya ia sudah berusaha mencarikan bantuan untuk membantu warganya. “Pernah ada bantuan gempa untuk industri kecil, tapi yang mendapat cuma satu orang yang tobongnya juga ambruk. Pak Sumardianto juga tak menerima dana rekonstruksi, karena tidak masuk kategori. Sebab dana itu diperuntukkan bagi rehabilitasi rumah yang ambruk dan rusak berat,” jelasnya.

Muladi menambahkan, pembuat genteng dan batu bata di Pedukuhan Klaci I sebanyak 24 orang. Sekarang ini, masih ada 5 perajin yang tobongnya rusak dan kondisinya membahayakan. Sebab sewaktu-waktu bisa runtuh. Namun tetap nekat dipakai pemiliknya, karena tuntutan pemenuhan ekonomi keluarga.

Hal yang sama juga ditemui KR di beberapa tobong yang berada di pedukuhan lain di Desa Margoluwih. Ada yang tobongnya sudah dhoyong (miring), tapi tetap saja dipakai. Demi mencukupi ekonomi keluarga, rupanya risiko apapun mereka tempuh ketimbang mengharapkan bantuan yang tak kunjung datang.

Tak Ada Modal

Keluhan serupa ditemui di Klaten. Lantaran tak ada modal, sejumlah pedagang alih usaha menjadi buruh bangunan. Bantuan modal dari pemerintah belum juga kepegang, sementara duit dari kocek pribadi cupet. Buat makan sehari-hari saja pas-pasan, apalagi mikir modal. Belum lagi soal untuk membangun kembali rumahnya yang porak-poranda.

Yanto, salah seorang korban gempa warga Jabung Kecamatan Gantiwarno Klaten mengemukakan, sebelum gempa dirinya bisa menghidupi istri dan lima anaknya dengan membuka bengkel dan toko kelontong. Namun semua peralatan bengkel dan dagangan hancur saat gempa. Hingga kini dirinya belum bisa bangkit lagi, karena perlu modal untuk membeli peralatan bengkel maupun dagangan kelontong, tapi sampai kini pemerintah belum turun tangan.

Setelah gempa, otomatis ia tidak bisa berjualan lagi dan penghasilannya macet. Demi menghidupi keluarga, ia harus mau bekerja lebih keras menjadi buruh bangunan. Kebutuhan makan dan biaya sekolah anak-anaknya hanya menggantungkan penghasilanya yang per minggu rata-rata Rp 200 ribu. Uang sejumlah itu sebenarnya jauh dari cukup apabila dibanding dengan kehidupannya sebelum gempa. Kendati demikian ia berusaha irit dan hidup bersahaja agar penghasilan itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Satu-satunya bantuan perekonomian yang pernah ia terima hanyalah sebuah lemari etalase dari Persepsi. Tapi lemari itu belum bisa digunakan, karena belum ada barang dagangannya.

Selain itu rumah sekaligus toko miliknya juga belum jadi. Ia mendapat bantuan rumah dari Java Reconstruction Fund (JRF). Dana yang turun baru tahap pertama senilai Rp 6 juta. Kemudian ia berusaha mencari pinjaman Rp 10 juta untuk mulai membangun kiosnya, tapi hingga sekarang belum selesai. Yanto sangat berharap bantuan tahap berikutnya dari JRF bisa segera turun.

Dibantu Polisi

Beberapa korban gempa lainnya juga mengaku belum mendapat bantuan modal dari pemerintah. Ny Lanjar, warga Sengon, Prambanan sudah mulai bangkit dengan bantuan Rp 50 ribu dari seorang polisi yang kebetulan sedang berjaga pengamanan kunjungan presiden di Sengon saat itu. Ia sendiri tidak mengenal siapa polisi tersebut.

“Waktu itu ada Pak Polisi tugas di sini (Sengon), lalu saya diberi uang Rp 50 ribu. Kalau lihat orangnya saya hapal, tapi namanya saya tidak tahu,” kata Lanjar berterimakasih pada polisi tersebut.

Dengan uang Rp 50 ribu itu ia membeli beras untuk kemudian berjualan bubur. Selanjutnya ia juga berjualan singkong goreng dan makanan gorengan lainnya. Hasilnya memang jauh dari yang diharapkan, namun usaha kecil-kecilan itu bisa menjadi penghibur serta bisa mendatangkan uang.

Menjual bubur memang sudah lama dilakukan Ny Lanjar. Bahkan, ketika gempa mengguncang, ia juga sedang berjualan bubur. Maka ketika ada bantuan modal, ia pun kembali merintis usahanya itu.

Mulyadi, korban gempa warga Canan Wedi yang rumahnya roboh akibat gempa juga tengah berusaha bangkit sendiri. Ia kini berjualan ayam berikut dagangan lainnya di pasar Wedi. Sama seperti nasib korban gempa lain, ia pun belum mendapat bantuan modal dari pemerintah. Tapi ia berusaha mencari pinjaman untuk modal usahanya meski hanya kecil-kecilan.

Slamet, warga Dukuh Bayanan Desa Gesikan Kecamatan Gantiwarno Klaten juga berusaha untuk segera bangkit dan menata kembali kehidupan keluarganya. Cita-citanya membangun rumahnya kembali yang roboh akibat gempa, membuatnya bersemangat berjualan siomay keliling.

Semangat itu pula yang membuat Slamet bisa mengatasi segala kendala untuk berjualan. Gerobak yang dulu biasa dipakai untuk berjualan keliling sudah hancur saat gempa melanda. Untung sepeda butut satu-satunya harta berharga masih tersisa. Selanjutnya Slamet mengumpulkan papan bekas reruntuhan bangunan untuk dibuat bronjong guna membawa dagangan saat berjualan keliling.

Gempa menelan semua harta yang dimiliki Slamet, sehingga untuk bangkit berjualan lagi, ia terpaksa mengutang Rp 300 ribu pada orang yang masih mempercayai kejujurannya. Uang itu digunakan membeli panci kecil untuk memasak siomay seharga Rp 100 ribu. Sedangkan sebagian lainnya untuk modal membeli bahan seperti tepung kanji, daging dan juga saus, serta bahan untuk membuat es. Peralatan dagang yang digunakan masih jauh dari memadai.

Dari hasil berjualan siomay itu Slamet mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Rata-rata ia mendapat untung Rp 20 ribu hingga 25 ribu, sebagian untuk mengangsur utang.

Ny Parto, penjual jenang dan Ny Harto (60) penjual tahu di Pasar Balong Desa Kragilan Gantiwarno mengatakan, saat terjadi gempa pasar tersebut roboh tak bersisa. Sejak saat itulah para pedagang tidak pernah berjualan lagi. Selain karena tak ada tempat untuk berjualan, juga dikarenakan para pedagang masih trauma, takut ada gempa susulan.

Setelah hampir satu setengah bulan hanya duduk-duduk di tenda dan rumah darurat, akhirnya semangat beberapa pedagang mulai bangkit. Mereka mengatakan, tak bisa hanya mengandalkan bantuan, karena tidak setiap saat bantuan diberikan serta tidak akan mencukupi kebutuhan mereka.

Dikatakan, selain untuk mencari nafkah, kegiatan berdagang itu dilakukan kembali juga sebagai alat untuk menghibur diri. Para pedagang yang asli warga Gantiwarno hampir seluruh rumahnya roboh.

Muryanto, warga Branjangan Jabung Gantiwarno, belum bisa lagi memulai usahanya. Ia berharap penanganan korban gempa tidak hanya difokuskan untuk perumahan. Menurutnya, justru bantuan modal yang saat ini diperlukan warga agar mereka bisa bangkit lagi dengan membuka usaha yang semula hancur akibat gempa.

Kredit Lunak

Bantuan yang diharapkan tentunya bukan kredit dengan bunga tinggi, tapi juga bukan dengan bantuan cuma-cuma. Kalau ada kepercayaan pemerintah atau pihak swasta, korban gempa khususnya pengusaha kecil berharap ada bantuan kredit lunak atau tanpa bunga. Kalau dengan bunga tinggi tentu mereka tidak akan bisa mengembalikan, karena usahanya harus dimulai dari nol lagi.

“Sekarang justru kita perlu modal untuk usaha lagi. Kalau hanya diberi bantuan langsung berupa makanan atau rumah yang sampai sekarang juga belum jadi, kita sulit untuk bangkit. Dengan bantuan modal dan bisa usaha sendiri, lambat laun kita bisa menata ekonomi,” kata Muryanto.

Di Bantul, semangat untuk bangkit dari keterpurukan, agaknya menjadi agenda utama pasca gempa bagi siapa saja. Dalam berbagai sektor, khususnya kerajinan, warga Bantul yang menjadi korban gempa tidak lagi patah arang. Tapi sebaliknya berusaha mencari jalan keluar agar bisa tetap survive dalam bidang yang sudah berlama-lama ditekuni.

Suradi M, salah satunya. Perajin wayang kulit dan berbagai souvenir yang tinggal di Pucung Wukirsari Imogiri Bantul ini, sejak 4 bulan pasca gempa sudah berusaha meraih kembali apa yang pernah digenggamnya. Dengan segala upaya, ia berhasil memulai usahanya. Kini berbagai order kerajinan wayang kulit dan souvenir mengalir cukup deras.

Ketika gempa terjadi, kata Suradi, dirinya mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Selain rumah dan tokonya hancur, beberapa barang kerajinan yang siap kirim ikut pula berantakan. Belum lagi ia harus memikirkan karyawannya yang semula diperkirakan meninggal. Tapi ternyata tidak demikian. Semuanya selamat. Karena memang sulit mencari tenaga perajin seperti mereka. q -e

http://222.124.164.132/article.php?sid=124973

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: