Mitigasi Bencana Mau Tak Mau Disempurnakan

Mitigasi Bencana Mau Tak Mau Disempurnakan

Saturday, 26 May 2007, Rubrikasi – Tajuk Rencana
GEMPA 27 Mei setahun lalu merupakan tragedi terbesar bagi Yogya dan Jawa Tengah. Sejak beberapa hari ini banyak warga di wilayah yang parah diguncang gempa mengadakan berbagai ritual ‘selamatan’ dengan doa dan sebagainya.

Bagi saudara-saudara kita yang rumahnya hancur dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, apalagi yang kehilangan sanak saudara atau cacat seumur hidup, tragedi gempa benar-benar membekas di hatinya. Ratapan, rintihan, jeritan dan kedukaan yang mendalam akibat gempa, takkan terlupakan seumur hidup. Trauma tak mudah lenyap, karena tak sedikit korban gempa yang masih harus menempuh kehidupan berat karena kehilangan sanak keluarga yang selama ini menopang kehidupannya. Terlebih bagi mereka yang hingga sekarang masih tinggal di tenda.

Gempa telah menjadi fenomena alam yang melahirkan peristiwa kemanusiaan yang multidimensional, karena membawa dampak kejiwaan, sosial, ekonomi dan lain-lainnya.

Tak lama setelah gempa mengguncang, warga Indonesia semua agama, suku, ras dan golongan dari berbagai penjuru tanah air, dan masyarakat dunia di hemisphere barat dan timur berdatangan di Yogya dan sekitarnya untuk membantu para korban gempa. Sehingga tragedi gempa telah menyatukan naluri kemanusiaan warga dunia untuk satu hal, yakni menolong sesama manusia.

Perikemanusiaan dan kegotongroyongan dengan segala keterbatasan kemampuan menampak jelas dari kasus gempa di Yogya. Di tengah kesengsaraan yang mencekam pun tersembul pikiran-pikiran baru dalam ilmu bangunan yang disampaikan para pakar melalui media, dan inisiatif langsung dari warga korban gempa, karena semua menyadari bahwa dinamika alam di luar kekuasaan dan kemampuan manusia. Apalagi teknologi yang dimiliki manusia belum mampu meramal bakal terjadinya gempa.

Bencana alam telah menambah jumlah warga miskin. Tapi yang terjadi selama ini adalah tiadanya gempa sosial akibat gempa bumi. Hal ini tentunya sangat menggembirakan dari segi Kamtibmas. Meski demikian langkah lanjut untuk bantuan tetap diperlukan, karena masih tersisa masalah yang menyangkut dana rekonstruksi untuk Pokmas, dan masih adanya warga yang tinggal di tenda.

Dari sisi spiritual bisa ditarik hikmah bahwa Tuhan bisa mengubah nasib manusia hanya dalam hitungan detik, dan hal ini bisa berlaku kepada semua manusia. Tak hanya pada korban gempa.

Kalau selama ini muncul ungkapan ‘bahaya dari bumi adalah bumi itu sendiri’, maka kesadaran akan tempat hunian yang nyaman dan aman mau tak mau harus disertai penyadaran akan dinamika bumi.

Untuk ini berbagai sistem yang dikembangkan, seperti pembuatan peta lempeng kontinental dan perubahan morfologi tanah didata, dipetakan agar nantinya membuat zona subduksi yang diketahui menjadi bahan kajian bagi kemungkinan ‘warning’ tentang perubahan struktur bumi.

Dengan kata lain, di antara trauma bencana harus diiringi inisiatif bagi mitigasi bencana yang lebih sempurna, mengingat Indonesia masuk jajaran ‘Ring of Fire’. q – m

http://222.124.164.132/article.php?sid=124673

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: