Pelajaran Berharga dari Gempa

Pelajaran Berharga dari Gempa

Monday, 28 May 2007, Rubrikasi – Liputan Khusus
BENCANA gempa setahun lalu hendaknya dijadikan pelajaran berharga. Dengan memahami potensi bencana gempa, diyakini bisa menekan seminimal mungkin risiko yang terjadi, baik dari sisi sarana dan prasarana maupun korban jiwa.

Dalam pengamatan pakar Geologi UPN Veteran Yogyakarta Ir Bambang Sutejo HS MT, masyarakat umumnya mudah lupa setelah peristiwa dahsyat itu berlalu sekian tahun, sehingga tak menimbulkan bekas yang bermanfaat. “Peristiwa gempa besar seperti itu dulu kan pernah terjadi, tapi masyarakat tak mau mengambil hikmah dari kejadian tersebut, sehingga ketika muncul lagi sering saling menyalahkan,” komentarnya.

Diakui, mencegah terjadinya gempa jelas tidak mungkin. Karena ini merupakan peristiwa yang dikendalikan alam. Selama ini juga belum ada alat yang dapat memprediksikan waktu kejadian gempa secara pasti, menentukan di titik mana akan terjadi gempa dan menduga kekuatan gempa yang akan terjadi. Para ahli, baru bisa menentukan letak jalur sumber dan zona rawan bencana gempa. Termasuk menentukan adanya jalur sesar patahan.

Untuk mengurangi risiko, kata Bambang Sutejo, diperlukan empat pemahaman secara logika. Pertama, memahami potensi wilayahnya terhadap bencana alam gempa bumi serta membuat prediksi mengenai kejadian gempa bumi. Kedua, memahami potensi wilayahnya terhadap efek lanjut dari gempa bumi. Ketiga, memahami dan mempelajari perilaku bangunan dalam menerima beban gempa bumi dan keempat asuransi.

Menyangkut masalah asuransi, jelas Bambang Sutejo, cara ini merupakan usaha terakhir dalam rangka mengurangi kerugian material yang diakibatkan oleh suatu bencana. Namun ini memang merupakan pendekatan yang bersifat bisnis murni. Masalahnya, biaya yang diperlukan harus tersedia dan kerugian nyawa diganti dengan nilai yang sering dipandang kurang manusiawi, karena hal ini sangat tergantung pada kemampuan membayar premi asuransinya.

Tapi, lanjutnya, keberadaan dan keikutsertaan dalam program asuransi merupakan pembelajaran yang sangat baik, berapapun nilainya untuk tujuan kemandirian dalam mengatasi bencana alam.

Tak Hanya Pemerintah

Kepala Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM Dr Sunarto MS menjelaskan, banyaknya bencana yang terjadi di berbagai daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat. Apalagi bencana tersebut tidak hanya terjadi di satu daerah.

“Pada tahun 2007 pemerintah sudah merencanakan pengurangan terhadap risiko bencana dari Bapenas yang ditindaklanjuti oleh Bapeda. Tentunya upaya tersebut tetap harus mengacu pada UU No 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Jadi penanggulangan tersebut harus including dalam perencanaan pembangunan daerah/nasional. Tapi hal itu tidak akan bisa maksimal jika masyarakat tidak terlibat aktif,” jelasnya.

Menurut Sunarto, tanah yang subur atau gemah ripah loh jinawi itu pasti mempunyai risiko bencana yang cukup besar. Jadi gempa bumi yang terjadi di Yogya tidak perlu disikapi secara berlebihan. Begitu juga dengan Indonesia yang mempunyai pulau cukup banyak. Pasalnya, jika tidak ada pulau-pulau, tidak akan terjadi tubrukan lempeng yang menyebabkan gempa bumi.

Jadi masyarakat harus paham bahwa mereka tinggal di negara kepulauan sering terjadi bencana. “Kalau memang menghendaki daerah yang gemah ripah loh jinawi mau tidak mau mereka harus siap dengan proses alam yang bisa jadi menimbulkan bencana. Jadi sosialisasi dan simulasi yang terkait dengan bencana menjadi sesuatu yang penting,” tandasnya.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Geofisika Yogyakarta Drs Jaya Murjaya MSi mengatakan, letak geografis Indonesia yang terletak cukup strategis (berada di antara 2 benua), menjadikan Indonesia termasuk daerah yang rawan bencana, khususnya gempa bumi. Namun hal itu tidak perlu disikapi secara berlebihan. Pasalnya selain tidak menyelesaikan masalah periode ulangnya juga cukup lama.

Jaya menambahkan, daerah Pantai Selatan Jawa merupakan daerah pertemuan lempeng Australia dengan Eurasia. Jadi tidak mengherankan jika daerah tersebut rawan terhadap gempa bumi dan tsunami (biasanya terjadi setelah gempa besar). Mengingat sampai saat ini BMG dan pakar Geologi masih kesulitan untuk menentukan kapan dan di mana gempa tersebut akan terjadi, sehingga yang bisa dilakukan adalah membuat mitigasi bencana. Untuk mewujudkan hal itu masyarakat yang tinggal di daerah pesisir sebaiknya harus mengikuti petunjuk atau penggunaan tata ruang yang sudah ditentukan oleh pemerintah setempat. Di antaranya mendirikan bangunan minimal 500 meter dari garis pantai. Dengan harapan bisa menghindari tsunami dan gelombang pasang yang sifatnya mendadak dan temporer.

Di samping itu agar antisipasi terhadap bencana bisa lebih maksimal, sudah saatnya stakeholder terkait membuat peta rawan bencana. Dari peta rawan bencana tersebut diharapkan mereka bisa lebih mudah untuk menganalisis kebencanaan dan risikonya. “BMG siap bekerjasama dengan instansi manapun untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat, sehingga pada saat terjadi bencana masyarakat bisa tahu apa yang harus dilakukan dan tidak mudah percaya terhadap isu-isu yang menyesatkan,” ujarnya. q -e

http://222.124.164.132/article.php?sid=124962

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: