Pentingnya Sosialisasi Mitigasi

Pentingnya Sosialisasi Mitigasi

Monday, 28 May 2007, Rubrikasi – Liputan Khusus
MESKI program rehabilitasi dan rekonstruksi di Kota Yogyakarta sudah terselesaikan, tapi Walikota Yogyakarta Herry Zudianto mengakui, saat ini pihaknya belum cukup puas dengan rekonstruksi yang telah berjalan. Sebab rekonstruksi selama ini masih mengalami banyak kendala menyangkut ketersediaan anggaran sehingga pelaksanaannya belum maksimal.

Walikota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan, akibat gempa, secara ekonomi Kota Yogyakarta mengalami kemerosotan. “Kekayaan masyarakat sudah pasti akan berkurang. Bantuan dari pemerintah sebesar Rp 15 juta per rumah roboh/rusak berat belum tentu cukup untuk mengembalikan rumah ke keadaan semula. Kondisi ini menyebabkan daya beli masyarakat menurun,” kata Herry Zudianto.

Untuk itu, tugas ke depan adalah memulihkan perekonomian Yogya. Bagaimana perekonomian yang kemarin sempat lumpuh dapat pulih lagi. Minimal jangan sampai pendapatan menurun akibat merosotnya pertumbuhan ekonomi Yogya.

Upaya mengembalikan perekonomian ini akan dimulai dari sektor pariwisata. “Selama ini kita tahu bahwa lokomotif perekonomian Yogya adalah wisata. Untuk itu setelah penyelesaian rekonstruksi di tahun 2007, maka 2008 mendatang kita akan betul-betul menyeriusi program pariwisata,” ujar Herry.

Untuk merealisasikannya, Pemkot tengah menyusun rencana aksi pariwisata secara matang dengan melibatkan seluruh pelaku wisata. Masyarakat juga diharapkan menyadari bahwa pariwisata adalah lokomotif ekonomi Yogya yang membutuhkan dukungan banyak komponen. Di samping itu Pemkot juga akan melakukan koordinasi dengan seluruh Bupati/Kepala Dinas Pariwisata se-DIY untuk membicarakan bagaimana format pariwisata ke depan.

Menurutnya, pariwisata Yogya tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Perlu kerja sama yang baik antarkabupaten/kota, tidak bisa masing-masing wilayah memiliki rencana aksi sendiri yang tak komprehensif. “Kekuatan pariwisata kita itu bukan hanya Kota, Kulonprogo, Bantul, Sleman atau Gunungkidul saja. Kalau sudah bicara pariwisata kita harus bicara DIY. Seperti halnya di Bali,” ucapnya.

Pertimbangan memilih jalur wisata untuk membangkitkan perekonomian Yogya ini bukannya tanpa alasan. Karena pertanian di DIY tidak mungkin dikembangkan untuk masa-masa yang akan datang, maka harus dicari alternatif lain. Menurutnya, sektor pertanian hanya cocok untuk masa kini. Dalam 5-10 tahun ke depan pertanian mungkin masih bisa berjalan. Namun jika bicara 10-20 tahun mendatang pariwisatalah yang cocok digalakkan untuk jadi tulang punggung perekonomian bersama. Mengingat lahan pertanian juga akan semakin sempit.

Pada bagian lain Walikota juga mengatakan, gempa bumi 27 Mei 2006 hendaknya bisa menyadarkan masyarakat bahwa mereka tinggal di daerah yang rawan bencana. Sehingga masyarakat harus selalu waspada dan melakukan antisipasi sejak dini.

Perlu Pemetaan

Terkait soal mereduksi dampak bencana, dosen Teknik Arsitektur UGM Ikaputra PhD mengatakan, sebagai daerah yang rawan gempa, Yogya penting memiliki peta jalur sesar aktif, sehingga masyarakat yang bermukim di jalur sesar akan lebih waspada. Terutama dalam membangun rumah, kekuatannya lebih diperhitungkan. Bagaimana agar ketika diguncang gempa rumah tersebut cukup kaku dan fleksibel, tidak langsung ambruk. Demikian pula wilayah yang rawan angin lesus. Konstruksi bangunan harus disesuaikan yakni dengan memperkuat atap.

Ikaputra juga menegaskan pentingnya mitigasi. Mitigasi merupakan usaha untuk mereduksi dampak bencana alam. Dengan mitigasi ini diharapkan jika suatu saat bencana benar-benar terjadi, maka risiko dampak terutama korban manusia dan kerugian ekonomi dapat diminimalisir.

Mitigasi juga penting disosialisasikan kepada anak-anak supaya mereka paham apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri ketika terjadi bencana secara tiba-tiba. Bagaimanapun gempa bumi, angin lesus dan bencana alam lainnya merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, masyarakat harus menyesuaikan dengan kondisi alam.

“Saya kira arti istilah mitigasi ini tidak terlalu penting bagi masyarakat. Namun yang terpenting adalah memberi pemahaman kepada warga bagaimana menghadapi bencana alam,” ujar Ikaputra.

Banyaknya korban jiwa dan kerugian ekonomi ketika gempa berkekuatan 5,9 SR mengguncang Yogya, 27 Mei 2006, menyadarkan masyarakat bahwa ternyata selama ini kita belum terbiasa melakukan mitigasi dengan baik. q -e

http://222.124.164.132/article.php?sid=124974

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: