Perlu Museum untuk Akses Data Tragedi 27 Mei

SEMINAR REFLEKTIF: HABIS GEMPA TERBITLAH TERANG (2-HABIS) ; Perlu Museum untuk Akses Data Tragedi 27 Mei

Wednesday, 30 May 2007, Berita Utama (Hlm Luar)
WILAYAH DIY punya potensi bencana berbeda-beda. Di Kabupaten Bantul gempa dan gelombang pasang, Sleman Gunung Merapi, Kulonprogo tanah longsor dan Kota Yogya rawan puting beliung. Untuk itu kesiapan masyarakat dan mitigasi perlu disosialisasikan, sehingga jumlah korban bencana alam bisa diminimalisir. Bagaimanapun masyarakat harus membiasakan bersahabat dengan bencana.

Demikian dikatakan Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Stasiun Geofisika Yogyakarta, Tiar Prasetya SSi dalam Seminar Reflektif ‘Habis Gempa Terbitlah Terang’ yang diselenggarakan Harian Kedaulatan Rakyat bersama ‘Universitas Teknologi Yogyakarta’ (UTY) dan ‘Partnership’ di Inna Garuda Hotel, Senin (28/5). “Saat ini yang dibutuhkan adalah kerjasama, bukan sama-sama kerja,” lanjut Tiar.

Kecuali sosialisasi mitigasi, Wakil Direktur Pasca Sarjana Teknik Sipil UGM Ir Suprapto Siswosukarto PhD menggarisbawahi pentingnya sosialisasi bangunan tahan gempa. Ini penting dalam penanggulangan bencana. Karena banyaknya korban saat gempa 27 Mei 2006, antara lain terkait rendahnya kualitas bangunan. “Gempa bumi rutin terjadi. Untuk mengurangi jumlah korban, sistem pembangunan rumah tahan gempa perlu diperhatikan,” katanya.

Suprapto juga menuturkan, agar bencana yang terjadi tidak terlupakan begitu saja, maka untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses peristiwa tersebut, ada baiknya Pemda membuat semacam museum. “Tidak perlu mewah, yang penting masyarakat bisa mengakses semua informasi terkait gempa 27 Mei 2006, sehingga selain tidak terlupakan, pada saat bencana terjadi masyarakat tahu tindakan apa yang harus dilakukan,” terangnya. Dalam hal ini, Bupati Bantul HM Idham Samawi mengatakan, akan membangun musem gempa di Bantul.

Guna meminimalisir risiko bencana, Pemprop DIY tengah menyusun Rencana Strategi Daerah (Renstrada) tentang penanggulangan bencana dengan melibatkan berbagai pihak. Renstrada ini nantinya akan ditindaklanjuti hingga ke tingkat kabupaten/kota dalam bentuk rencana aksi. Untuk sementara, rencana aksi ini sudah mulai disusun di Kota Yogya.

Danang dari Bapeda DIY mengatakan, untuk memberikan informasi secara jelas kepada masyarakat mengenai potensi bencana dan cara penanggulangannya, peta kerawanan bencana juga akan menjadi bagian penting dalam Renstrada. “Tapi yang menjadi masalah, sekarang ini kami masih bingung menangani banyaknya data yang masuk dan berbeda-beda, sehingga kami harus hati-hati ketika akan menerapkan suatu kebijakan,” kata Danang.

Sedangkan Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Indonesia (Apdesi) Bantul Jiyono menilai, penanganan bencana berbasis desa sangat efektif. Ke depan empatic government yang dilakukan pemerintah seperti memberi bantuan petani berupa benih dan pompa, pedagang diberi pasar darurat dan perajin bisa mengakses modal dan fasilitas kerajinan, ini sangat membantu pemulihan di segala sektor.

Lurah Desa Mangunan Dlingo ini optimis Bantul bisa mewujudkan good government tanpa meninggalkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat.

Meski berjalan relatif cepat, namun proses rehabilitasi dan rekonstruksi di DIY tak luput dari berbagai kendala. Seperti dikemukakan Ketua Paguyuban Dukuh (Pandu) Bantul Sulistyo. Belajar dari pengalaman gempa bumi 27 Mei 2006 diperlukan sebuah kesiapan disaster manajemen. Bahkan, agar bisa digunakan di kemudian hari jika terjadi bencana serupa, manajemen penanganan bencana bisa dijadikan sebuah buku yang berisi pengalaman dari lapisan masyarakat, akademisi, praktisi hingga pembuat kebijakan.

Lain halnya Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Istidjab Danunegoro. Hingga sekarang masih ada beberapa hotel, terutama hotel melati belum bisa beroperasi. Untuk membantu membangkitkan dunia pariwisata di Yogya, pihaknya berharap pemerintah ikut ambil bagian.

(R-4/R-5/R-3/Wan)-z

http://222.124.164.132/article.php?sid=125144

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: