REFLEKSI SATU TAHUN PASCA GEMPA; Momentum Penyadaran Bencana Alam

REFLEKSI SATU TAHUN PASCA GEMPA; Momentum Penyadaran Bencana Alam

Sunday, 27 May 2007, Berita Utama (Hlm Luar)
SUDAH setahun ini bencana gempa berlalu, tapi trauma itu belum juga hilang. Bahkan, sebagian dari mereka sampai sekarang ada yang belum berani tinggal di rumah permanen. Tak heran jika hingga kini masih ada sebagian warga Bantul memilih tinggal di rumah sementara bantuan NGO.

”Saya masih sering tidur di rumah sementara karena masih takut kalau ada gempa susulan. Apalagi kalau gempanya besar masih deg-degan,” ujar Hadi, salah seorang lansia yang tinggal di Serut Bawuran Pleret. Begitupun dikatakan Sumirah, warga Jonggrangan Srihardono Pundong. Rumah bantuan dari pemerintah dibiarkan untuk tinggal anaknya, sementara dirinya dan suami menempati rumah gedhek bantuan dari Yakkum.

Lain pula cerita Ny Waginem. Warga Desa Sendangadi Kecamatan Mlati Sleman ini mengaku gelisah dalam beberapa hari terakhir. Ia mendengar isu akan ada gempa besar yang terjadi tepat satu tahun peristiwa gempa bumi hebat 5,9 SR, Minggu (27/5) hari ini. ”Isu itu mungkin tidak benar, sebab saya sudah kerap mendapatkan informasi dari televisi dan radio, kalau gempa besar tak akan terjadi pada waktu yang berdekatan. Namun kabar semacam itu tetap saja membuat batin saya resah,” akunya.

Dulu, ceritanya, ketika terjadi gempa hebat dirinya sedang menyapu halaman. Tiba-tiba tanah bergerak-gerak. ”Saya melihat rumah seperti diumbul-umbulke (diguncang-guncangkan). Saya sampai merangkak untuk masuk ke rumah, menyelamatkan cucu saya yang masih tidur,” tuturnya. Untunglah anggota keluarganya selamat, meski rumah kontrakannya rusak sedang.

Ny Rutinem, warga RT2/RW1 Karangmojo Tamanmartani Kalasan juga mengaku belum bisa melupakan peristiwa gempa yang merobohkan rumahnya satu tahun lalu. ”Untunglah ketika itu seluruh keluarga sudah bangun dan berada di luar rumah. Saya sempat pingsan ketika melihat rumah saya roboh dan rata dengan tanah,” ujarnya.

Peristiwa dahsyat itu memang masih terekam di benak warga Yogya. Terutama korban gempa. Karena itu, seperti dikatakan Kepala Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM Dr Sunarto MS, peringatan refleksi satu tahun gempa Yogya hendaknya dijadikan momentum untuk memberikan penyadaran pada masyarakat terhadap bencana alam. Sebab, jika upaya penyadaran itu hanya dilakukan lewat penyuluhan, dikhawatirkan hasilnya tidak maksimal.

Masyarakat Yogya, lanjut Sunarto, juga perlu menyadari bahwa bahaya yang mengancam tidak hanya gempa, tapi juga longsor, puting beliung dan bahaya Merapi. ”Saya kira sudah saatnya masyarakat Yogya mulai membiasakan diri untuk bersahabat dengan bencana, sehingga pada saat bencana itu datang mereka tahu apa tindakan yang harus dilakukan. Bukan sebaliknya saling menyalahkan dan mempertanyakan dosa siapa. Karena semua itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah,” tambahnya.

Sunarto juga mengusulkan agar di tempat-tempat strategis dipasang rambu tentang tinggi tempat. Sehingga jika masyarakat tahu hal itu mereka tidak akan mudah panik. Karena ketinggian tsunami maksimal hanya 40 meter.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Geofisika Yogyakarta Drs Jaya Murjaya MSi mengatakan, bencana gempa bumi 27 Mei 2006 bisa dijadikan indikator bahwa Yogya termasuk daerah rawan bencana. ”Saya kira berbagai persoalan yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini merupakan pelajaran yang cukup berharga bagi masyarakat, mengingat gempa bumi adalah fenomena alam yang tidak bisa dihindari. Mereka tidak perlu panik, tapi sebaliknya tetap waspada dan mulai membiasakan diri untuk bersahabat dengan alam,” terangnya.

Kecuali itu, sebaiknya pembangunan infrastruktur masyarakat mematuhi petunjuk teknis yang sudah dibuat instansi terkait, sehingga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan bisa diminimalisasi.

Terkait dengan monumen peringatan gempa, Sekda Bantul Drs H Gendut Sudarto Kd BSc MMA mengungkapkan, Pemkab Bantul tidak akan membangun prasasti atau monumen secara khusus. Namun tetenger itu akan dijadikan satu dengan panti khusus penyandang cacat (penca) akibat gempa yang rencananya akan dibangun di atas tanah Sultan Ground (SG) di Jetis. Sampai saat ini, Pemprop DIY dan Pemkab Bantul tengah memilih lokasi serta merencanakan desain untuk pembangunan panti tersebut.

”Kalau biasanya monumen atau prasasti itu tidak hidup. Tapi monumen gempa ini adalah hidup yakni panti untuk penca yang di dalamnya tinggal warga Bantul yang cacat akibat gempa. Di sana akan dibangun sebuah kawasan terpadu untuk para penca. Panti itu akan mengingatkan kita bahwa di Bantul pernah terjadi musibah gempa yang mengakibatkan ribuan warga meninggal dunia, ratusan cacat serta bangunan dan rumah rusak,” terangnya. (Tim KR)-b.

http://222.124.164.132/article.php?sid=124897

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: