Waspadai Tsunami di Timur

Waspadai Tsunami di Timur
Dalam 46 tahun terakhir, tsunami melanda Indonesia sekitar dua tahun sekali

Jakarta, Kompas – Potensi gempa tektonik yang menimbulkan tsunami di kawasan timur Indonesia patut diwaspadai. Selama ini publik cenderung menyoroti potensi tsunami di barat Sumatera dan selatan Jawa, padahal tsunami tercatat paling banyak terjadi di Laut Banda dan Laut Maluku.

Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana dan Pencemaran Lingkungan pada Departemen Kelautan dan Perikanan, Subandono Diposaptono mengatakan hal itu, terkait dengan terjadinya gempa tektonik berkekuatan 5,7 Skala Richter yang mengguncang Gorontalo, Rabu (30/5) pada pukul 03.12 WIB.

Gempa yang berpusat di Teluk Tomini Sulawesi Tengah itu menyusul tiga gempa berskala di atas 5 SR yang terjadi di tiga lokasi terpisah di Indonesia, Selasa (29/5).

Menanggapi adanya peningkatan kejadian gempa berskala sedang beberapa hari terakhir ini, pakar dinamika Bumi dan geologi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wahyoe S Hantoro, juga mengingatkan masyarakat di wilayah tersebut meningkatkan kewaspadaannya terhadap gempa bersumber di pesisir yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Lanjut Wahyoe, kewaspadaan terhadap risiko atau dampak gempa di kawasan perairan Laut Sulawesi dan Laut Maluku ini sangat dibutuhkan, terkait dengan penemuan “jejak” tsunami di Kepulauan Talaud di utara Sulawesi belakangan ini. Jejak itu terlihat dari penelitian tim LIPI terhadap kondisi terumbu karang di pesisir wilayah tersebut.

Ditengarai gempa tersebut disebabkan oleh adanya pergeseran Lempeng Filipina yang menumbuk Lempeng Eurasia di kawasan utara Pulau Sulawesi. Kejadian gempa di Gorontalo ini berbeda dengan gempa yang terjadi sehari sebelumnya di Labuha dan Jayapura, yang disebabkan pergeseran Lempeng Pasifik. Sedangkan gempa yang mengguncang Sukabumi pusat gempa di daerah pertemuan Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia.

Serangkaian gempa yang muncul ini menunjukkan pergerakan semua lempeng yang memengaruhi wilayah Indonesia begitu aktif.

“Hingga saat ini kejadian gempa tempat dan waktunya memang tidak dapat diprediksi, namun dengan melihat potensi yang ada, setidaknya masyarakat dapat makin waspada,” kata Wahyoe.

Jejak tsunami ditemukan Wahyoe berupa bongkah-bongkahan terumbu karang di tiga pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Talaud, meliputi Pulau Karakelong, Pulau Salibabu, dan Pulau Keburuan.

Wahyoe memperkirakan, tsunami pernah terjadi di kawasan utara Sulawesi itu, setidaknya dalam waktu 100 tahun yang lalu.

“Gempa yang mengakibatkan tsunami waktu itu diperkirakan pula menimbulkan pengangkatan pulau di kawasan tersebut, sebagai dampak dari proses penunjaman lempeng Pasifik terhadap lempeng Eurasia. Proses pergerakan yang aktif lempeng ini berpotensi menimbulkan gempa besar,” kata Wahyoe.

Tsunami

Sementara itu Subandono mengingatkan peningkatan perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap potensi tsunami di kawasan timur Indonesia. Karena catatan kegempaan menunjukkan tsunami juga paling banyak terjadi di Laut Maluku dan Laut Banda, sebagai dampak dari interaksi lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia.

“Gempa di dekat Gorontalo atau di perairan Laut Maluku yang menuju Teluk Tomini akan berpotensi menimbulkan tsunami, kalau kekuatannya di atas 6 skala Richter. Kemudian pusat gempanya kurang dari 60 kilometer di bawah dasar laut, dan terjadi deformasi secara vertikal yang relatif cukup besar,” jelas Subandono.

Lanjut dia, patahan yang ada di Laut Maluku tergolong kompleks. Pada lokasi tersebut terdapat pertemuan patahanPalukoro dengan dua subduksi Bujur Mayu dan Bujur Halmahera.

Catatan tsunami sejak tahun 1600 sampai 2006, terjadi sebanyak 108 kali tsunami, atau dalam 406 tahun itu rata-rata terjadi tsunami setiap empat tahun sekali. Tetapi, jika dibandingkan periode 46 tahun terakhir, 1960-2006, tsunami yang terjadi sebanyak 21 kali. Ini menunjukkan periode tsunami di Indonesia sekarang setiap dua seperempat tahun sekali.

Urutan lokasi paling sering menimbulkan tsunami meliputi Laut Banda (33 persen) dan Laut Maluku (29 persen). Kemudian baru disusul di Samudera Hindia barat Sumatera, selatan Jawa, dan selat Makassar. (NAW)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/31/humaniora/3569173.htm

Satu Balasan ke Waspadai Tsunami di Timur

  1. Agus Hendratno / Geologist UGM mengatakan:

    Lha memang indonesia itu Super Market Bencana, yachh.wajar-wajar saja kita mempunyai potensi ke arah sana baik di Indonesia timur maupun Indonesia bagian barat. Tetapi yang lebih penting, Mari kita siapkan edukasi yang memberikan pendidikan untuk HIDUP TENANG BERSAMA BENCANA…, Baik edukasi secara formal atau informal….

    MATUR NUWUN
    AGUS HENDRATNO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: