Gunung Merapi: Kearifan lokal dalam manajemen bencana alam dan pengelolaan lingkungan

Gunung Merapi: Kearifan lokal dalam manajemen bencana alam dan pengelolaan lingkungan

oleh : Agus Hendratno
Jurusan Teknik Geologi – Fakultas Teknik UGM Yogyakarta

Menurut para ahli kebudayaan di Yogyakarta, Merapi sering dipahami sebagai salah satu jagad khusus dalam kesadaran masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta. Sebuah konstelasi semesta gaib yang integral dengan kehidupan profan sehari-hari. Laut Selatan Jawa Keraton Yogyakarta – Gunung Merapi adalah sebuah poros yang saling berinteraksi menyusun sebuah pengejawantahan alam raya, menyelimuti khalayak maupun individu-individu seorang demi seorang. Sejauh mana para pengambil keputusan, penggagas dan pengelola pembangunan di area tersebut memahami jiwa Merapi ? Sejauh mana mereka mengerti semangat spiritual antara para penduduk sekitar Merapi dan gunung tersebut sehingga mereka bisa mencipta sedemikian rupa, tidak mengusik secara frontal alam batin sang gunung. Karena usikan semacam itu tak ubahnya seperti melemparkan sebongkah batu bata ke permukaan air danau yang tenang dan jernih, menciptakan riak-riak gelombang yang meskipun halus tak kentara di permukaan tetapi merecoki tatanan di dalam danau, mengaduk lumpur di dasarnya dan membuat keruh airnya. Tidak bisakah dicoba melakukan pendekatan yang lebih arif ? Dengan memahami dan menangkap apa sebenarnya yang diinginkan penduduk setempat. Mendengarkan apa yang mereka ucapkan dengan mulut maupun dengan hati mereka. Sehingga campur tangan para pencipta wadah dan manajemen pembangunan ini menjadi senafas dengan irama batin maupun fisik di sana. Jadi bukannya melempar bongkahan batu bata yang kasar dan kaku melainkan menebar bunga teratai cantik yang tumbuh mengambang di atas permukaan danau, menyatu dengan bahasa harmoni alam fisik dan spiritual di situ.

Gunung Merapi di perbatasan Jateng-DIY (2911 m) banyak menyimpan ”misteri”. Ia bagaikan lelaki jangkung kekar, gagah, energik sekaligus cantik mempesona, menggairahkan bagaikan gadis muda. Merapi adalah kedahsyatan alam. ’Mengagumkan sekaligus menakutkan. Ia menawan sekaligus membahayakan’. Merapi itu magnit yang menarik kita untuk mendekat, tetapi sekaligus mengingatkan jangan dekat-dekat. Merapi itu ”roh suci” yang menghidupkan jiwa manusia untuk lebih bertakwa pada Tuhan Sang Pencipta dan Mahaagung. Merapi itu ”roh gelap” yang memproduksi ketakutan dan kecemasan. Ia sering dan bahkan rutin ”marah”, ”berulah”, ”tak kepalang tanggung”. Menurut catatan, sejak 1806 hingga 2001 terjadi 36 kali letusan. Merapi itu ”dewa” yang haus sesaji, upacara, doa dsb. Ia juga ”dewa” yang mengirim gratis kekayaan alam tiada henti, memelihara kesuburan tanah, mengucurkan air kehidupan semua makhluk. Dan seterusnya dan seterusnya. Banyak kata, simbol, ungkapan dll., yang masih bisa dicari untuk menggambarkan sebuah gunung yang namanya Gunung Merapi. Itu semua tergantung tingkat kecerdasan pikiran, kecerdasan hati dan kecerdasan emosi manusia. Memanglah Merapi itu ”misteri”, dalam arti sudah banyak yang kita ketahui, kita rasakan, kita dapati, namun jauh lebih dalam banyak yang belum. Entah mana yang benar, belum atau tidak mungkin.

Merapi itu ibarat ladang kekayaan alam (baca : ada gula ada semu). Maklumlah semut-semut pun berdatangan, ngrubung Merapi. Telah ribuan tahuan, ada banyak penduduk tinggal di sekitar Merapi yang termasuk dalam kategori kawasan rawan bencana erupsi letusan dan aliran lahar dari Merapi itu. Mereka adalah penduduk asli. Mereka hidup dari bertani secara alamiah, ekologis, tidak melawan alam, apalagi merusaknya. Ketika datang ”kebudayaan semen” mereka mencari pasir dan batu untuk membuat rumah atau menjualnya ke kota. Caranya sama yakni alamiah, ekologis, tak merusak, tidak serakah. ”Misteri Merapi”, disikapi dengan penuh hormat. Tidak menyebut Merapi ”meletus”, melainkan ”Eyang Merapi ewuh” (Merapi punya kerja), ”ojo cedhak-cedhak, ojo ngrusuhi” (jangan mendekat, jangan mengganggu). Doa, sesaji, hidup rukun, adalah sikap mulia dan alamiah terhadap Gunung Merapi yang mereka yakini sebagai cara alamiah yang akan membebaskan dari kemarahan Merapi”

Erupsi vulkanik Gunung Merapi, yang selalu memuntahkan aliran awan panas (material piroklastik) dan juga aliran lahar, baik pada status Waspada Merapi, Siaga Merapi, dan Awas Merapi, bagi masyarakat Merapi selalu dimaknai sebagai : Sang Eyang sedang punya kerja. Kondisi ini kemudian memunculkan,sikap : ”Ojo cedhak-cedhak” dan ”ojo ngrusuhi”. Makna : ojo cedhak-cedhak (jangan mendekat) tersebut penuh makna dalam manajemen bencana berbasis kultural, yaitu : berusahalah menghindar dari area yang memungkinkan terkena aliran awan panas (untuk sementara waktu). Sikap ini muncul, setelah tokoh masyarakat yang selama ini dianggap sebagai Juru Kunci Merapi : Mbah Marijan memberikan pernyataan sikap-nya, pada saat Krisis Merapi. Ini merupakan salah satu bentuk dari kearifan lokal masyarakat Merapi dalam mensikapi kemungkinan terjadinya bencana letusan Merapi. Disamping itu, setiap terjadi aliran awan panas maupun aliran lahar, masyarakat Merapi terbiasa dengan mengucapkan : Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh, ya Allah Gusti, berikanlah wilujengan (baca : keselamatan dari adanya proses vulkanik Gunung Merapi tersebut). Bukan malah berucap : ”Minggir-minggir, awas ada aliran lahar”. Ucapan yang demikian perlu dihindari, demikian kata Mbah Maridjan, Juru Kunci Gunung Merapi di Kinahrejo, Desa Umbulharjo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: