Hidup Bersama Bencana Alam, Tak Terelakkan

Hidup Bersama Bencana Alam, Tak Terelakkan

Saturday, 02 June 2007, Opini Publik
ADANYA isu bakal terjadinya gempa dan tsunami yang muncul dari SMS sebaiknya diredam dengan berbagai informasi yang lebih mendayagunakan akal pikiran dan tenaga masyarakat untuk lebih menyadari sekaligus pro aktif pada mitigasi bencana. Selama ini teknologi peringatan dini untuk jenis bencana tertentu, seperti gempa, belum ditemukan. Tapi sistem peringatan dini untuk tsunami sudah banyak terpasang di beberapa perairan Indonesia, sebagian buatan para pakar Indonesia sendiri. Warga Jepang yang kondang sebagai pelanggan gempa dan tsunami tak akan terusik sedikitpun jika muncul isu lewat SMS atau melalui media lain, karena sudah ada lembaga resmi yang dijadikan acuan untuk peringatan, dan untuk gempa sudah memiliki standar bangunan tahan guncangan. Kini orang Indonesia pun sudah cukup apresiatif soal bangunan tahan gempa, dan sudah cukup paham cara-cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa.

Berdasar perkembangan seperti itu, maka isu bencana lewat SMS atau cara apapun takkan meresahkan masyarakat. Apalagi kebanyakan warga masyarakat sudah menyadari bahwa Indonesia memang berada di ‘Ring of Fire’, dan gerakan lempeng kontinental takkan pernah mandeg. Dengan demikian alam pikiran orang Indonesia sudah bisa dikatakan sama dengan orang Jepang, karena apresiasi warga masyarakat tentang gempa dan tsunami orang Indonesia sudah cukup tinggi. Sehingga orang-orang yang ingin menebar keresahan dengan isu gempa dan tsunami lewat SMS yang muncul akhir-akhir ini terbukti tak menimbulkan dampak apapun. Lebih dari itu, dari sekian kali bencana alam, perhatian pemerintah, para pakar, dan lembaga-lembaga terkait seperti BMG dan lain-lainnya dengan peralatan yang ada, semakin seksama terhadap gejala-gejala yang muncul hingga penanggulangannya. Pihak luar negeri, terutama dari negara-negara maju juga aktif melakukan penelitian, dan sebagian menyumbangkan hasil penelitian peralatan. Sebab gerakan lempeng kontinental di satu tempat, suatu saat bisa mengguncang daerah yang sangat jauh. Artinya, gempa bukan monopoli Indonesia dan Jepang. Kita ketahui, Iran dan Pakistan juga sering diguncang gempa dengan Skala Richter tinggi. Beberapa bulan setelah gempa di Yogya, Taiwan juga diguncang gempa. Kalau pakar negara-negara maju meneliti kasus gempa dan tsunami di Aceh, dan gempa di Yogya, tentunya juga diwarnai kekhawatiran gerakan lempeng kontinental bisa melanda negaranya, karena apapun namanya, semua lempeng kontinental di bawah kaki semua manusia di bumi kait mengait. Kenyataan, selama ini para pakar di negara-negara yang maju teknologinya bisa banyak mengetahui luar angkasa. Bisa meramal kapan terjadinya gerhana bulan dan matahari secara tepat. Tapi apa yang sebenarnya terjadi di dalam bumi belum diketahui. Hal ini suatu ironi, karena negara yang paling maju teknologinya di dunia hingga sekarang belum menemukan alat peramal gempa. Orang Jepang sudah terbiasa ‘hidup bersama bencana alam’, karena selain jadi pelanggan gempa juga sering dilanda badai besar. Tapi sistim mitigasi dan kesadaran rakyatnya dalam mengantisipasi segala jenis bencana alam sudah begitu rapi. Kini orang yang bermukim di Indonesia mau tak mau harus ‘hidup bersama bencana alam’, sehingga perlu cara hidup yang lain, karena Jepang terbukti bisa jadi negara maju. q – m.

http://222.124.164.132/article.php?sid=125489

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: