Kesiagaan Bencana Itu Perlu

Kesiagaan Bencana Itu Perlu

Para pekerja sedang membersihkan lokasi bekas gempa di Payakumbuh, Sumatera Barat. Gempa berkekuatan 6,3 skala ricther menggunvang dan memorak-porandakan kota itu dan menelan 70 orang korban jiwa pada 6 Maret lalu. [Foto: AFP]

Bencana alam memang datang tanpa permisi dan kompromi. Tidak hanya harta benda yang lenyap tetapi juga nyawa manusia turut melayang. Kata-kata seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor sepertinya akhir-akhir ini mulai akrab di telinga masyarakat Indonesia. Hampir setiap hari di koran, majalah, radio, maupun televisi selalu menayangkan berita seputar bencana tersebut.

Selepas tsunami dahsyat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang memakan korban ratusan ribu jiwa akhir tahun 2004 lalu, beberapa bencana susulan datang silih berganti ke negeri ini. Mulai dari gempa di Bantul, Yogyakarta dengan korban ribuan jiwa sampai terakhir terjadi di Sumatera Barat awal tahun ini.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia memang meski ekstra waspada, karena bencana-bencana alam seperti sepertinya masih akan terus terjadi di Indonesia meskipun tidak diketahui kapan, di mana, dan dengan daya dobrak berapa bencana itu akan terjadi.

Sekadar pengetahuan bahwa bencana-bencana yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia secara ilmu pengetahuan lebih disebabkan faktor geografis dan geologis yang kurang menguntungkan.

Sebuah penelitian dari Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) menemukan fakta bahwa Indonesia menjadi salah satu kawasan di Asia Pasifik yang masuk jalur “lingkaran api” atau Ring of Fire (RoF).

Secara sederhana RoF dapat diartikan sebagai jalur gunung berapi berbentuk cincin yang membentang sepanjang 40.000 km dimulai dari kawasan Cile, Amerika Selatan ke arah pantai Amerika Tengah, menuju Meksiko, dan pantai bagian barat Amerika Serikat. Selanjutnya ke selatan Alaska, Jepang, Filipina, dan Indonesia sebelum berbalik ke arah barat daya Pasifik dan Selandia Baru.

RoF ini terjadi akibat tumbukan tiga lempeng besar kulit bumi yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Karena ada dinamika pada bagian inti bumi, maka lempeng tersebut juga mengalami pergerakan yang menimbulkan tumbukan antar lempeng yang mengakibatkan gempa.

Pada setiap tumbukan di sekitar kedalaman 100-150 km, terjadi apa yang dinamakan partial melting (pelelehan sebagian). Pelelehan batuan tersebut jika menemukan celah, dengan cepat akan menyusup dan berusaha menuju ke atas menembus kerak bumi sehingga muncullah gunung api.

Indonesia yang merupakan negara bahari dengan laut mencapai 5,8 juta km2 memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km dan sekitar 17.508 pulau memang sangat rawan gempa khususnya di pantai Sumatera, Selatan Jawa, Selatan Nusa Tenggara, Maluku dan Pantai Utara Papua.

Jadi, sudah jelas sepertinya bencana tidak akan jauh-jauh dari Indonesia di masa depan. Pertanyaannya kemudian, bisakah manusia menghentikan dinamika alam (bencana) tersebut? Mungkin pertanyaan itu sangat susah dijawab, pertanyaan paling logis yang bisa diajukan adalah mampukah kita (bangsa Indonesia) meminimalkan jumlah korban akibat bencana?

Regu penyelamat mencari korban di reruntuhan tanah longsor di Dusun gunungraja Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (5/1). [Pembaruan/Alex Suban]

Manajemen Bencana

Deputi Bidang Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jan Sopaheluwakan, dalam sebuah diskusi baru-baru ini memastikan sampai saat ini belum ada satu teknologi pun yang mampu mendeteksi kapan, di mana, dan dengan kekuatan berapa bencana itu akan terjadi.

“Yang bisa diupayakan adalah bagaimana kita melakukan kesiapsiagaan sedini mungkin untuk mengurangi jumlah korban yang bakal jatuh,” ujarnya.

LIPI, kata Jan, sudah melakukan berbagai upaya untuk memperkenalkan manajemen penanggulangan bencana kepada masyarakat khususnya yang bermukim di lokasi rawan bencana.

Peneliti Komunikasi LIPI, Fidel Bustami mengungkapkan, dari berbagai sosialisasi dan advokasi yang dilakukan LIPI menemukan tiga kendala utama yang membuat penanggulangan serangkaian bencana di Indonesia tidak maksimal. Birokrasi yang berbelit-belit, merupakan salah satu penyebab kesulitan dan lambannya penanganan bencana di Indonesia.

Dikatakan, persoalan birokrasi tentang siapa yang harus bertangung jawab menangani saat ini, masih belum jelas. “Pernah kami bertanya kepada anggota dewan di sebuah kabupaten di Sulawesi tentang penanggulangan bencana, mereka (anggota dewan) itu berkata semua harus melalui kebijakan partai. Kalau begini bisa jadi panjang rantai birokrasinya,” kata Fidel.

Kendala utama lainnya adalah kurangnya pengetahuan, kemiskinan. Menurutnya, tidak maksimalnya proses penanggulangan bencana berdampak pula kepada jumlah korban yang jatuh pada bencana yang bersangkutan.

Dia menjelaskan, dalam hal pengetahuan khususnya menyangkut bencana gempa atau tsunami, masyarakat harus memahami risiko yang harus dihadapi, jika tinggal dekat daerah yang rawan terjadi gempat atau tsunami. Sementara kemiskinan juga memberikan kontribusi yang cukup besar karena dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai bencana menjadi sangat terbatas akibat tidak adanya biaya.

Jika LIPI sudah menemukan akar persoalan dari penanggulangan bencana, selayaknya sebagai manusia yang diberikan pikiran, kita tentu tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Pemerintah yang dipercaya rakyat mengelola negara seharusnya mencari solusi alternatif pemecahan persoalan. Mungkin, pemerintah bisa belajar dari negara langganan bencana lainnya seperti Jepang.

Menyosialisasikan mengenai bencana dan penanggulangannya sejak usia sekolah melalui mata pelajaran sepertinya bisa menjadi solusi masa depan yang tidak terlalu banyak menghamburkan uang negara. [dari berbagai sumber/E-7]

Last modified: 24/3/07

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/25/Iptek/iptek01.htm

2 Balasan ke Kesiagaan Bencana Itu Perlu

  1. shuzi mengatakan:

    Indonesia Rawan BEncana, Mari kita Siaga!!

  2. shuzi mengatakan:

    masyarakat haus akan pemahaman tentang kebancanaan dan cara penanggulangannya… mari kita tularkan virus-virus siaga bencana kepada masyarakat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: