Diskusi Code of Conducts di Milis

Pengantar,

Materi di bawah ini merupakan hasil-hasil diskusi mengenai Code of Conducts di Milis Suara Korban Bencana, Milis Rembug Kemanusiaan, Milis Peduli Bencana dan Milis Lingkungan.

salam,
djuni
moderator diskusi code of conducts

———————————————————————-

To: suarakorbanbencana@yahoogroups.com
From: Ninil R MiftahulJannah
Subject: Re: [SUARA] DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Pengertian dan Ruang Lingkup

Salam,
Code of conduct tak ubahnya sebuah “kode etik” yang biasa kita ketahui dimiliki oleh sebuah asosiasi (biasanya terkait profesi atau institusi terbatas) untuk menjadi panduan-prilaku siapa saja yang memang bisa “diatur/dibatasi” oleh asosiasi/institusi tersebut (anggota asosiasi/institusi). Memberi panduan-prilaku berarti memberi juga pentunjuk apa yang menjadi prinsip-prinsip dasar (normatif dan konvensional) dan apa yang menjadi harapannya. Sifatnya non-legislatif, artinya lebih sebagai sebuah “code of practice” yang bersifat voluntary.

Tabik,
Ninil

———————————————————————-

To: suarakorbanbencana@yahoogroups.com
From: Syarief Aryfaid
Subject: Balasan: [SUARA] DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Pengertian dan Ruang Lingkup

Salam Hormatku
Buat Mas Djuni… yang terus mendedikasikan dirinya untuk kerja-kerja kemanusiaan ini… Pada prinsipnya, saya sepakat bila ada sebuah aturan main dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan, apalagi kita yang memposisikan diri sebagai lembaga swadaya masyarakat pekerja sosial Kemanusiaan… ? Jawaban saya atas pertanyaan mas Djuni

Apa itu c of c?
Code of Conduct menurut saya merupakan suatu rumusan bersama tentang tatacara dan aturan main dalam melakukan kerja-kerja, baik sosial, politik, ekonomi dan budaya, dimana landasan dasarnya adalah nilai-nilai etika dan moralitas dari masing-masing stakeholder yang terlibat merumuskan hal tersebut baik secara langsung mapun tidak langsung
Ruang lingkupnya lokal; dan nasional dengan kriteria persoalan, bisa sosial, ekonomi, politik dll. Akan tetapi pada moment ini kita bisa membatasi ruang lingkup pada level kerja-kerja sosial kemanusiaan, khususnya masalah penanggulangan dan penanganan pasca bencana di Jogja dan Klaten, d

Waktu sekarang?; maka C of C ini dapat difungsikan pada wilayah kerja koordinasi, konsolidasi dan pembagian peran yang profesional dan proporsional bagi semua lembaga yang berperan serta dalam penanganan warga korban bencana Jogja-Klaten, dimana interaksi dan komunikasi yang dialektika sosial didasari atas koorporasi jejaring sosial kemanusiaan , bukan dikotomi “besar dan kecil” “kaya dan miskin” lokal dan internasional” , “pemerintah dan non pemerintah”apalagi sampai pada dikotomi ideologi. Sedangkan yang akan datang; bahwa C of C ini dapat menjadi rolef of game yang dikonversikan menjadi role of law bagi semua pihak baik NGO maupun pemerintah pada level nasional, tentu saya tidak menggunakan prinsip uniformitas (penyeragaman c of c)

C of C bila dijadikan sebagai panduan bertindak, maka semua elemen, harus mematuhinya, dengan catatan bahwa substansi dari C of C tersebut tidak menghambat kerja dan kreativitas suatu lembaga atau elemen
Dan bila terjadi pelanggaran, maka harus ada komunikasi sosial antar elemen dan bisa jadi komunikasi sosial tersebut dikonversikan menjadi sanksi sosial

Yang akan menegakan aturan tersebut agar sesuai dengan panduan C of C tersebut adalah masing-masing lembaga, dan atau semua lembaga yang telah berkomitmen dengan nilai-nilai etika dan moralitas dalam melakukan kerja-kerja sosial kemanusiaan
Sanksinya jelas adanya sanksi sosial; dan moralitas

Okey… kawan saya kira ini beberapa hal yang dapat saya utarakan…. saran dan kritik dari kawan-kawan akan saya tunggu
thanks.
Arief

———————————————————————-

To: suarakorbanbencana@yahoogroups.com
From: Syarief Aryfaid
Subject: Balasan: [SUARA] DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Bahan diskusi 1

Code of Conducts is not imposible…

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa bumi baik diwilayah Jogja maupun Jateng, setidaknya telah memiliki report tersendiri oleh masing-masing lembaga yang terlibat dalam proses tersebut, artinya bahwa semua lembaga atau individu, baik pemerintah, swasta maupun NGO (lokal, nasional dan intrenansional) memiliki standar dan prosedur operasional yang berbeda-beda dalam menjalankan visi dan misinya, maka saya meyakini bahwa semua elemen tersebut dapat dan sudah mengevaluasi sejauh mana tingkat keberhasilan proses yang dilakukan, baik pada tataran teknis maupun pada tataran sosial. Namun yang terjadi adalah sampai saat ini kita masih sangat minim sekali mendengarkan “pengakuan-pengakuan” secara dialektika sosial terhadap hasil-hasil evaluasi tersebut…..

NGO Internasoinal yang diposisikan sebagai The Big NGO’s, karena dengan “kebaikan hatinya” melakukan kerja-kerja kemanusiaan, dengan mendesentralisasikan “uang dan program” kepada mitranya di level lokal. Proses mendesentralisasi ini tentu melewati berbagai kesepakatan-kesepakatan baik tertulis maupun tidak tertulis antara kedua belah pihak, sebab yang satu butuh dana dan yang satu pengen menghabiskan dana (dalam konteks kerja sosial kemanusiaan).
Artinya bahwa ada sebuah hubungan simbiosis mutualisime antara kedua belah pihak. Demikian juga NGO lokal/nasional dalam melaksanakan pogram-program-nya, maka ia juga merumuskan sendiri role of game dan role of law ketika mengimplementasikan programnya. Jadi bukan hal yang baru bila kemudian dilapangan terjadi “pergesekan-pergesekan”, klaim – mengkalim, karena memang kita sebagai “pekerjaan sosial kemanusiaan”berada disimpangan jalan yang subordinate dengan dikotomi-dikotomi ideologi.

Ketika beberapa hari pasca gempa, banyak organisasi melakukan koordinasi dan membentuk jejaring-jejaring kerjasama, dan menurut saya ini merupakan hal yang sangat berbeda dengan daerah lain. Lagi-lagi Jogja masih mengukuhkan dirinya sebagai barometer-nya kekuatan civil society…. yang sampai akhirnya sempat tercetus ide dan gagasan untuk membentuk sebuah role of game dalam melakukan kerja-kerja kemanusiaan yang saat itu diistilahkan code of conduct.

Bagi saya bahwa ide code of conduct yang pernah dicetuskan dan bahkan telah melahirkan beberapa point penting oleh kawan-kawan mengindikasikan bahwa sesungguhnya posisi kita semua adalah sama yaitu sebagai pekerja sosial kemanusiaan yang mendedikasikan diri sebagai “the lost volunteer”. sebab saya memahami code of conduct ini sebagai landasan moral bagi kita semua termasuk pemerintah dan juga NGO internasional, agar jangan sampai-kerja-kerja sosial kemanusiaan ini ternodahkan oleh kompetisi yang tidak sehat dengan saling mengkalim, mengkapling atau bahkan saling menuding….

Persoalan inilah yang kadang-kadang dan bahkan sering kita dengar cerita-cerita pendek dipalangan. pertanyaan saya kemudian adalah; Apa yang harus dikwatirkan jika kita membuat code of conduct tersebut? padahal kita semua mengakui sebagai “pekerja sosial kemanusiaann” yang melakukan pendidikan, pemberdayaan bagi masyarakat.

Harapan saya, kita tidak lagi hanya menarisikan kembali cerita-cerita dari masyarakat sipil Mindanao, akan tetapi kita bisa menyatukan persepsi bahwa kita semua diposisi yang sama “katong samua basudara”. mari kita lanjutkan lagi merumuskan code of conduct ini, agar kita lebih dekat-lebih solid dalam membangun masyrakat.

Salam kenal
Arief_the lost volenteer

———————————————————————-

From: Djuni Pristiyanto
Subject: Re: [SUARA] Re: DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Pengertian dan Ruang Lingkup

Mas Gogon yg tdk punya jambul🙂,

Bisakah sampeyan memberi contoh-contoh nyata dari lapangan atau basis mengenai ‘perilaku masyarakat korban bencana khususnya “oknum-oknum dalam masyarakat tersebut” yang terlibat dalam berbagai macam sindikasi distribusi bantuan bencana’? Tentunya nama dan lokasi kejadian sebaiknya disamarkan utk melindungi privacy mereka. Dalam hal ini yang penting adalah contoh-contoh nyata kasusnya, bukan siapa yg salah atau siapa yg benar. Sampeyan khan bergerak di tingkat basis, jadi saya yakin sampeyan banyak punya pengalaman lapangan yg aktual. Himbauan ini juga ditujukan kepada Ali, Ferry Endut, Arief, Endro, Sigit, dll.

Selain itu ada yg menarik dari uraian Mas Gogon, yaitu: “semakin banyak kejadian bisnis bantuan dengan berbagai macam variannya muncul di masyarakat, karena terus terang hal ini sangat memprihatinkan dan membuat masyarakat korban bencana yang sudah menderita menjadi semakin menderita”. Bisakah isu ini diekplorasi lebih lanjut, baik dengan contoh-contoh kasus dari lapangan maupun pengalaman dari tempat lain.

salam,
djuni

nb: sebaiknya kawan-kawan membaca buku berikut ini bila diskusi mengenai topik di atas (kalau tidak punya bukunya coba kontak Wiwid di Cindelaras)
Graham Hancock, Dewa-Dewa Pencipta Kemiskinan, Kekuasaan, Prestise, dan Korupsi Bisnis Bantuan Internasional.
Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, 2005, xxxvii + 443 hal.
Judul Asli: Lords of Poverty: The Power, Prestige, and Corruption of the International Aid Business

———————————————————————-

From: Djuni Pristiyanto
Subject: Re: [Rembug] DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Pengantar diskusi

Pak Meth,

Apakah arsip-arsip diskusi Bina Desa (1991), ICP/Yappika (1993) dan LP3ES (th?) masih ada? Bila ada saya mohon copy-annya dong, bahan-bahan itu mungkin sangat berguna untuk tambahan wacana agar “tidak jatuh ke lubang yg sama”. Alm. Mansour Fakih telah menulis buku “Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pergolakan Ideologi LSM Indonesia” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996). Walaupun bagus utk memahami sejarah pertumbuhan dan pergelutan LSM di Indonesia, tapi buku ini masih terlalu luas utk topik pembahasan kita sekarang ini.

Zaim Saidi menerbitkan bunga rampai yg berjudul “Secangkir Kopi Max Havelaar: LSM dan Kebangkitan Masyarakat” (Jakarta: Gramedia, 1995). Di buku ini banyak terdapat artikel menarik mengenai interaksi dan etika ber-LSM. Bahkan di bagian lampiran ada artikel al: “Tata Krama Internasional LSM”, “Pedoman Perilaku (Kode Etik) Kemitraan LSM”. Tampaknya kedua lampiran tersebut sangat relevan dg topik diskusi kita mengenai Code of Conducts. Bila ada waktu dan peralatan (scanner) akan saya usahakan kedua artikel tsb dpt menjadi file elektronik dan dapat dikirim kepada kawan-kawan peminat diskusi ini. Mungkin kawan-kawan ada yg bisa menghubungkan dg Zaim Saidi dan minta partisipasinya dlm diskusi ini (adakah yg punya alamat emailnya?).

SATUNAMA sudah mempunyai kode etik tersendiri, bolehkah kode etik itu di-sharing di forum ini guna pengayaan wawasan?

Lalu apa relevansi praktis dari penerapan DSF dan bagaimana cara kita utk “menyiasatinya”?

salam,
djuni

———————————————————————-

From: “Meth Kusumahadi”
Subject: Re: [Rembug] DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Pengantar diskusi

Mas Djuni yang baik,
trima kasih atas kiriman anda. Anda luar biasa konsisten dan saluut atas hal tersebut. Pada pihak lain, secara pribadisaya terlibat dalam diskusi hal tersebut sejak 1991 waku ada ide pertama kali di Kinasih Bogor untuk membuat Code of Conduct dimulau oleh Bina Desa, waktu itu saya salah satu pengurus Bina Desa. ide tersebut tidak diteruskan karena takut pemerintah Suharto akan lebih mudah menembak semua LSM. Ide yang sama diulang lagi oleh ICFyang kini bernama Yappika dimulai 1993 waktu itu saya juga terlibat karena status saya sebagai salah satu pendiri ICF yang kemudian dilanjutkan jadi Yappika. Ide tersebut dijadkan proyek besar LP3ES dan melibatkan 300 LSM lebih di beberapa propinsi. Saya juga terliat sebagai salah satu resource person. Tapi namanya proyek maka jalan hanya waktu itu setelahnya mati tak karuan rimbanya.

Kesimpulan sementara adalah. YANG LEBIH PENTING SETIAP ORGANISASI PUNYA CODE OF CONDUCT yang ditaati sendiri dari pada mendorong-dorong ada Conde of Conduct bersama. itu waktu itu. Dan saya tahu beberapa organisasi sudah punya Kode Etik (Kelompok LBH, ICW, KPSH, juga SATUNAMA). Maaf, aku tidak menyebut nama organisasi lain karena aku tidak tahu.
Tetapi saya sangat salut kalau hal itu dihidupkan lagi.

Ada ide menarik kalau mau dihidupkan. Salah satu alasan sbb.
Ada lembaga baru namanya DSF (Decentralized Service Facilities) yg didirikan oleh World Bank, ADB, Kedutaan Australia, Inggris dan Belanda..mungkin ada yg lain setahuku cuma itu) yang mempromosikan penguatan Masyarakat Sipil tetapi hanya yang Developmentalist dan bukan yang Advocacy. Proyeknya besar. Salah satu adalah yg dilakukan dengan Universitas Satya Wacana, Salatiga. Menarik tahu pertimbanganya memilih Satya Wacana, karena Universitas itu katanya DSF, adalah konsisten sejak dulu melawan Soeharto (Ini kankesalahan besar karena justru yang melawan Suharto dipecat oleh Satya Wacana sehingga berdiri Percik dan George serta Arifek lari ke Australia dan Ariel haryanto pindah ke Seingapura). Yang lebih menarik lagi adalah sekarang ii ada ide baru menyatukan pendekatan developmentalism dengan Advocacy yang menjadi inti dari prinsip pendekatan 3R (Rights, Resilience and Respects) yang dipromisikan pertama kali oleh Susan Waslh, Ph.D dari Ottawa. Selain itu, WB dan ADB sebagai bagian dari IFI (International Financial Institution) sudah biasa memberi hibah kecil lalu setelah itu menjual kreditnya secara besar2an. Ada beberapa proyek di Indonesia yg dilancarkan dengan cara promosi semaam itu. Nah dalam situasi korupsi masih begitu besar di Indonesia terutama dikalangan birokrat,dan IFI gencar promsi dan memberi hibah untuk menjual kreditnya, serta sekarang dengan hibah itu mau didukung hanya LSM developmentalis dan bukan advicacy, maka bisa diduga ada trends konspirasi masuk Indonesia lewat DSF. ini bukan kwecurigaan tetapi sekedar pengamatan dan analisis serta hipotesis awal. Moga2 salah, tetapi sejarah kayaknya aterus berulang begitu. Maka kode etik anda menjadi relevant untuk dibicarakan lagi.
.
Itulah pengalaman saya
Wassalam,
Meth.Kusumahadi

———————————————————————-

To: suarakorbanbencana@yahoogroups.com
From: “gonzska”
Subject: [SUARA] Re: DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Pengertian dan Ruang Lingkup

Salam semua,
Mas Djuni saya mau menambahkan mungkin bisa menjadi wacana bagi kita semua juga, terutama tentang perilaku masyarakat korban bencana khususnya “oknum-oknum dalam masyarakat tersebut” yang terlibat dalam berbagai macam sindikasi distribusi bantuan bencana, apakah bisa juga dimasukkan dalam daftar diskusi code of conduct ini mengingat kayaknya sekarang semakin banyak kejadian bisnis bantuan dengan berbagai macam variannya muncul di masyarakat, karena terus terang hal ini sangat memprihatinkan dan membuat masyarakat korban bencana yang sudah menderita menjadi semakin menderita. Tengkyu.

Salam
Gogon

———————————————————————-

From: Djuni Pristiyanto
Subject: [SUARA] DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Pengertian dan Ruang Lingkup

Kawan-kawan peminat diskusi CODE OF CONDUCTS,

Agar proses diskusi kita menjadi terarah, maka ada beberapa pertanyaan yg saya ajukan yg mungkin bisa menjadi panduan kita bersama. Pertanyaan-pertanyaan ini antara lain:

1. Apa itu CODE OF CONDUCTS?

2. Apa tujuan dibuatnya CODE OF CONDUCTS?

3. Apa ruang lingkup CODE OF CONDUCTS?

a. Waktu: sekarang?, yang akan datang?

b. Ruang: lokal?, daerah?, nasional?, regional?, internasional?, universal?

c. Aktor: pekerja kemanusiaan?, aktivis NGO?, pemerintah daerah?, pemerintah pusat?, perusahaan? lembaga-lembaga kemanusiaan/NGO? dll

4. Bila CODE OF CONDUCTS ini dapat dianggap sebagai sebuah panduan bertindak, maka:

a. apa yg akan terjadi bila ada pelanggaran terhadap panduan bertindak tersebut?

b. siapa yang akan “menegakkan aturan” agar sesuai dengan panduan bertindak itu?

c. Apa sanksi bagi pelanggar panduan bertindak itu?

Demikian daftar pertanyaan utk bantu diskusi. Namun demikian tidak menutup kemungkinan bila kawan-kawan ada yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Selain itu bila ada bahan-bahan yg mungkin dapat menambah wawasan bersama mohon agar di-sharing dalam forum ini.

Tengkyu peri2 mat. Semoga berguna.

salam,
djuni
moderator diskusi code of conducts

———————————————————————-

From: Djuni Pristiyanto
Subject: [SUARA] DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Bahan diskusi 1

kawan-kawan,

Beberapa waktu yg lalu, orang-orang yg peduli dg penanganan paska gempa di Jogja dan sekitarnya berkumpul di KKY (tempatnya Pak Susetiawan) dan menghasilkan draf CODE OF CONUCTS. Konsep ini kurang lebih sebagai panduan bagi para pihak yg bekerja dlm penanganan paska gempa (bencana) di Jogja dan sekitarnya.

Ini isu penting, tapi kok tenggelam begitu. Sementara itu di lapangan terus terjadi permasalahan yg melibatkan banyak pihak dlm penanganan bencana gempa ini. Contoh yg aktual adalah Palang Merah Jerman di Wedi, Klaten yg meninggalkan banyak masalah; adanya bantuan yg tumpang tindih; mutu bantuan yg jelek; klaim wilayah (dan hasil) oleh sementara lembaga; rumah “igloo” di Sengir Prambanan dll.

Para pihak yg terlibat dlm penanganan bencana gempa ini mesti dicermati dan dikritisi. Lembaga2 internasional yg datang ke lokasi bak “dewa-dewa penyelamat” juga mesti dikritisi. Tapi apa, bagaimana, siapa dan kapan?

Mas Puji juga telah berbagi info ttg panduan perilaku di Mindanao, Pilipina. Bagaimana dg kita yg ada di Jogja dan Jateng? Mari kita berdiskusi dan bertindak.

Salam,
djuni

———————————————————————-

CODE OF CONDUCTS

(1) Code of conducts (Paduan Konsep dan Tindak) ini dikeluarkan oleh Masyarakat Sipil Yogyakarta (ornop/ LSM, organisasi rakyat, kelompok masyarakat, maupun individu yang concern) untuk menjadi panduan konsep dan tindak bagi Masyarakat Sipil Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang diharapkan mengikat secara moral dan aturan hak asasi manusia, bagi aktor-aktor lain seperti pemerintah dan aparatnya, swasta bisnis, lembaga akademisi, kaum intelektual, media massa dan lembaga kontrol sosial lainnya, dan budayawan serta kesenian.

(2) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi post gempa hendaknya berpihak dan berspektif rakyat korban yang dibantu untuk menjadi mandiri berkelanjutan.

(3) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi harus dihindarkan dari kemungkinan menciptakan konflik dan kecemburuan sosial, syukur memberikan semangat kepedulian pada yang lemah dan semangat bergotong-royong.

(4) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi hendaknya mengutamakan tindakan nyata bagi korban daripada omong dan janji.

(5) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonsrtuksi hendaknya mengakui bahwa sebelum gempa persoalan keadailan dan kemakmuran sudah ada dalam masyarakat, maka penyelesaian yang bertolak dari akar permasalahan harus diutamakan.

(6) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi hendaknya meninggalkan cara-cara simbol-simbol kekuasaan seperti gapura sehingga lebih menukik kepada cara-cara kebutuhan konkrit seperti membangun sarana sanitasi.

(7) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi hendaknya mengutamakan peran korban sebagai aktor utama yakni sebagai masinis untuk lokomotif-lokomotif seperti penggerak hukum, konsepsi akademik, dlsb.

(8) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pengumpulan data, haruslah “taren” dan dibicarakan dengan masyarakat korban.

(9) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi mendayagunakan sebanyak mungkin sumber daya, manusia dan kearifan lokal yang ada dan potential dalam masyarakat.

(10) Merubah masyarakat dari obyek jadi subyek harus diakui sebagai sebuah proses yang tidak pendek. Pembelajaran dan penyadaran perlu, terutama banyak tokoh yang bisa bicara dalam masyarakat hasil didikan Orde Baru yang paternalistik. Ukuran perubahan masyarakat bukan pada hasil an sih, tapi proses.

(11) Komitmen rakyat mandiri dan swadaya harus pula dipunyai oleh lembaga-lembaga yang unique dan dapat mulai dari apa yang punya. Tidak perlu “konsolidasi”, “koordinasi”, dipaksakan sebagai sesuatu yang ideal sampai tingkat praktis. Esensi kita dari konsolidasinya adalah untuk kerja bareng-bareng, tidak saling tumpang tindih. Forum itulah fungsi utamanya.

Catatan: Hasil diskusi di KKY, Diskusi Kelompok I + II, tanggal ….. 2006

———————————————————————-

From: Djuni Pristiyanto
Subject: [SUARA] DISKUSI CODE OF CONDUCTS: Pengantar diskusi

Kawan-kawan,

Bulan Nopember 2006 lalu di Milis Suara Korban dan Milis Rembug Kemanusiaan sempat terjadi diskusi mengenai CODE OF CONDUCTS. Selain itu saya juga telah mengirim beberapa bahan mengenai CODE OF CONDUCTS ke milis-milis tsb. Setelah itu hilang begitu saja. Ketika ada diskusi warung koboi oleh para pelaku dan pemerhati penanganan gempa di Jogja pada 23 Maret 2007 sempat mencuat pembahasan ttg isu tersebut dan perlu adanya tindak lanjut. Juga dalam diskusi di Forum Senenan sedikit dibahas ttg bagaimana melanjutkan diskusi mengenai isu penting itu hingga menghasilkan sebuah hasil nyata.

Maka dari itu utk menindaklanjuti diskusi-diskusi di atas akan digelar diskusi virtual lewat Milis Suara Korban dan Milis Rembug Kemanusiaan dg batas waktu yg cukup ketat dan dimoderatori dg baik. Diskusi virtual isu CODE OF CONDUCTS ini akan dilakukan dua tahap, yaitu:

1. Tahap pertama: pembacaan bahan yg akan dikirimkan via milis dan diskusi-diskusi awal. Tahap pertama ini akan dilakukan pada tanggal 12 – 19 April 2007. Tanggal 20 – 22 April 2007 digunakan utk merumuskan hasil-hasil diskusi Tahap Pertama ini.

2. Tahap kedua: pembacaan hasil rumusan diskusi Tahap pertama dan diskusi-diskusi yg lebih mendalam (atau tematik). Tahap kedua ini akan dilakukan pada tanggal 23 – 30 April 2007. Tanggal 1 – 3 Mei 2007 digunakan utk merumuskan DRAF CODE OF CONDUCT FINAL.

Agar diskusi-diskusi virtual ini bisa berjalan dengan lancar, maka ada sekelompok orang yg berfungsi sebagai :

1. Tim moderator diskusi : Djuni, Sigit, Wiwid, Didik, Endro
2. Tim perumus hasil-hasil diskusi: Tim moderator dg ditambah usulan peserta lainnya saat diskusi berlangsung.

Selain itu utk menambah wawasan akan saya kirimkan beberapa bahan mengenai CODE OF CONDUCTS yg relevan (mohon maaf bila ada yg kedobelan karena file-file ini pernah saya kirimkan pada bulan Nopember 2006 lalu).

Semoga berguna. Mari kita mulai.

salam,
djuni
moderator diskusi code of conducts

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: