Pedoman Perilaku Kemitraan LSM

PEDOMAN PERILAKU (KODE ETIK)
KEMITRAAN LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM)

MUKADIMAH

Bahwa sesungguhnya kehadiran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan insan LSM-nya adalah untuk mengemban misi mewujudkan cita-cita masyarakat yang adil dan demokratis.

Bahwa sebagai lembaga yang lahir dari prakarsa masya¬rakat yang beranekaragam, LSM mencerminkan keanekaragaman masyarakat itu. Namun demikian, di samping keanekaragamannya terdapat kesamaan-kesamaan di antara LSM-LSM. Kesamaannya yang paling utama adalah pemihakannya kepada masyarakat tertinggal, yakni rakyat kecil. Adapun fungsi LSM pada dasarnya adalah untuk melayani pertumbuhan serta perkembangan prakarsa masya¬rakat melalui pendampingan untuk mempercepat proses transformasi sosial menuju masyarakat yang adil dan de¬mokratis.

Bahwa dalam mendampingi rakyat kecil, membangun kebersamaan dan kemitraan di antara sesama LSM dan insan LSM serta mitra-mitranya merupakan keharusan. Untuk membangun kebersamaan dan kemitraan tersebut diperlakukan adanya pedoman perilaku kemitraan (Kode Etik) LSM yang disepakati bersama sebagai upaya peng-aturan diri (self-regulation).

Bahwa sebenarnya setelah sekian lama bekerja bersama masyarakat Indonesia dan internasional dalam rangka meng-abdikan dirinya untuk rakyat kecil tanpa membedakan agama, ras, suku bangsa, pandangan politik, dan jenis kelamin, LSM dan insan LSM telah memiliki pedoman perilaku, namun belum terwujud secara tertulis.

Bahwa pedoman perilaku kemitraan LSM, yang bersumber pada nilai-nilai Pancasila, sebagaimana tersebut di bawah ini adalah suatu upaya untuk menyepakati bersama, menuliskannya, menyusun, dan mensosialisasikan serta me-laksanakan oleh mereka yang dengan suka rela menyetujui dan menerimanya sebagai pedoman perilaku.

BAB I
KEPRIBADIAN INSAN LSM

Pasal 1

1.1. Insan LSM adalah orang yang terpanggil untuk mengabdikan dirinya bagi pembebasan rakyat dari segala bentuk ketidakadilan.
1.2. Insan LSM senantiasa berfikir dan bersikap kritis obyektif.
1.3. Insan LSM dalam kehidupannya senantiasa beriman, bertanggung jawab, bersahaja dan jujur.
1.4. Insan LSM senantiasa melakukan penggalangan keber¬samaan pada semua tingkat lapisan masyarakat dalam membela rakyat.
1.5. Insan LSM senantiasa berjuang untuk mewujudkan demokrasi dan karenanya selalu bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan demokratis untuk mencapai non violence dalam semua dimensinya.

BAB II
HUBUNGAN INSAN LSM DENGAN RAKYAT

Pasal 2

2.1. Hubungan insan LSM dengan rakyat merupakan hu-bungan saling belajar, membantu dan membela atas dasar kesetaraan.
2.2. Hubungan insan LSM senantiasa dijiwai semangat setiakawanan.
2.3. Dalam membela kepentingan dan hak-hak rakyat insan LSM menganut prinsip-prinsip:
a. prakarsa harus datang dari rakyat;
b. adanya partisipasi rakyat yang luas dan sadar;
c. dilakukan dengan cara tanpa kekerasan (non ¬violence);
d. keputusan harus diambil secara musyawarah oleh rakyat;
e. pembelaan pada dasarnya haruslah pembelaan oleh dirinya sendiri (self advocacy).
2.4. Insan LSM senantiasa berperan aktif melibatkan LSM-nya untuk pembelaan dan pengembangan kesejahteraan rakyat.

BAB III
HUBUNGAN ANTAR SESAMA LSM

Pasal 3

3.1. LSM senantiasa mengakui keberadaan sesama LSM yang jelas komitmen dan pelayanannya kepada rak¬yat.
3.2. LSM senantiasa menghormati dan menghargai wawasan, pikiran, pendapat, tujuan, cara kerja dan kegiatan sesama LSM.
3.3. Perbedaan pendapat sesama LSM harus diselesaikan melalui musyawarah (dialog) dan tidak ada pemaksaan untuk harus sepakat. Dalam hal penyelesaian atas perbedaan pendapat atau sengketa belum dapat dicapai, maka tali silaturahmi dan komunikasi antara pihak-pihak yang berbeda pendapat atau bersengketa hendaknya tidak putus, sehingga tetap terbuka jalan untuk menuju penyelesaian.
3.4. Penyelesaian perbedaan pendapat atau sengketa se¬sama LSM harus didasarkan kepada pengakuan dan penghargaan atas hak untuk berbeda dan harus dilihat secara seksama pada tingkat apa perbedaan atau sengketa tersebut terjadi. Pada tingkat mana pun perbedaan pendapat atau sengketa tersebut, tolok ukur penglihatan dan penyelesaiannya adalah kepentingan rakyat yang harus didahulukan dan diutamakan di atas kepentingan LSM dan pribadi.
3.5. Pendapat atau pemahaman tentang sesama LSM harus didasarkan kepada sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Keterangan atau informasi dari tangan pertama mutlak diperlukan.
3.6. Setiap temuan mengenai LSM hendaknya diarahkan untuk kepentingan perbaikan, penguatan dan konsolidasi atas dasar saling tolong menolong.
3.7. Dalam realitas keanekaragaman LSM, hendaknya LSM: berhubungan baik, bekerjasama, berteman, sama-sama hidup dan membiarkan hidup. Dalam hal keadaan memaksa tidak berhubungan baikAidak be¬kerjasama dapat dibenarkan karena alasan yang dapat dibuktikan secara obyektif bahwa pihak lain telah merugikan kepentingan rakyat.
3.8. Antar sesama LSM hendaknya lugas dalam menyampaikan kritik dan koreksi serta bersih dari segala ben-tuk pelecehan, pendiskreditan, perusakan citra dan martabat sesamanya.
3.9. Dalam hubungan antara sesama LSM, masing-masing pihak supaya memenuhi kewajiban dan haknya secara utuh, dan kelalaian atau kesengajaan pengingkaran hak dan kewajiban tersebut harus dipandang sebagai pelanggaran hukum.

BAB IV
HUBUNGAN DENGAN MITRA INTERNASIONAL LSM

Pasal 4

4.1. Hubungan LSM dengan mitra internasional merupakan hubungan persahabatan dan kerjasama untuk sa¬ling membantu dalam rangka pendampingan dan pelayanan rakyat kecil.
4.2. Hubungan tersebut didasarkan atas prinsip indepen-den, kemandirian, dan kemitraan

BAB V
PENUTUP

Pasal 5

5.1. Pedoman Perilaku (Kode Etik) Kemitraan LSM ini adalah pedoman bagi LSM, insan LSM dan mitra-mitranya yang dengan sukarela menerima dan melaksanakannya.
5.2. Sanksi atas pelanggaran Pedoman Perilaku (Kode Etik) Kemitraan LSM berupa sanksi sosial dan moral.
5.3. Sanksi sosial dan moral atas pelanggaran Pedoman Perilaku (Kode Etik) Kemitraan LSM ini, penilaiannya dilakukan oleh sesama mitra LSM secara bersama-sama dan bersifat mendidik.

Caringin, Bogor, 28 Juli 1994

Sumber:
Zaim Zaidi, Secangkir Kopi Max Havelaar: LSM dan Kebangkitan Masyarakat.
Jakarta: Gramedia: 1995, hal. 166 – 170

Dikutip sebagai bahan diskusi virtual dengan topik Code of Conducts di:
Milis Suara Korban Bencana
Milis Rembug Kemanusiaan
Milis Lingkungan

Yogyakarta, 1 Mei 2007

Djuni Pristiyanto
Moderator Milis
(belink2006@yahoo.com.sg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: