Panduan Konsep & Tindak (Code of Conducts) Masyarakat Sipil Yogyakarta

CODE OF CONDUCTS (PANDUAN KONSEP DAN TINDAK)
MASYARAKAT SIPIL YOGYAKARTA

(1) Code of conducts (Panduan Konsep dan Tindak) ini dikeluarkan oleh Masyarakat Sipil Yogyakarta (ornop/ LSM, organisasi rakyat, kelompok masyarakat, maupun individu yang concern) untuk menjadi panduan konsep dan tindak bagi Masyarakat Sipil Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang diharapkan mengikat secara moral dan aturan hak asasi manusia, bagi aktor-aktor lain seperti pemerintah dan aparatnya, swasta bisnis, lembaga akademisi, kaum intelektual, media massa dan lembaga kontrol sosial lainnya, dan budayawan serta kesenian.

(2) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi post gempa hendaknya berpihak dan berspektif rakyat korban yang dibantu untuk menjadi mandiri berkelanjutan.

(3) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi harus dihindarkan dari kemungkinan menciptakan konflik dan kecemburuan sosial, syukur memberikan semangat kepedulian pada yang lemah dan semangat bergotong-royong.

(4) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi hendaknya mengutamakan tindakan nyata bagi korban daripada omong dan janji.

(5) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonsrtuksi hendaknya mengakui bahwa sebelum gempa persoalan keadailan dan kemakmuran sudah ada dalam masyarakat, maka penyelesaian yang bertolak dari akar permasalahan harus diutamakan.

(6) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi hendaknya meninggalkan cara-cara simbol-simbol kekuasaan seperti gapura sehingga lebih menukik kepada cara-cara kebutuhan konkrit seperti membangun sarana sanitasi.

(7) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi hendaknya mengutamakan peran korban sebagai aktor utama yakni sebagai masinis untuk lokomotif-lokomotif seperti penggerak hukum, konsepsi akademik, dlsb.

(8) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pengumpulan data, haruslah “taren” dan dibicarakan dengan masyarakat korban.

(9) Seluruh konsepsi dan tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi mendayagunakan sebanyak mungkin sumber daya, manusia dan kearifan lokal yang ada dan potential dalam masyarakat.

(10) Merubah masyarakat dari obyek jadi subyek harus diakui sebagai sebuah proses yang tidak pendek. Pembelajaran dan penyadaran perlu, terutama banyak tokoh yang bisa bicara dalam masyarakat hasil didikan Orde Baru yang paternalistik. Ukuran perubahan masyarakat bukan pada hasil an sih, tapi proses.

(11) Komitmen rakyat mandiri dan swadaya harus pula dipunyai oleh lembaga-lembaga yang unique dan dapat mulai dari apa yang punya. Tidak perlu “konsolidasi”, “koordinasi”, dipaksakan sebagai sesuatu yang ideal sampai tingkat praktis. Esensi kita dari konsolidasinya adalah untuk kerja bareng-bareng, tidak saling tumpang tindih. Forum itulah fungsi utamanya.

Catatan: Hasil diskusi di KKY, Diskusi Kelompok I + II, tanggal ….. 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: