Hamemayu dalam Konteks Etika Keberlanjutan

Hamemayu dalam Konteks Etika Keberlanjutan
Oleh : Sri Sultan Hamengku Buwono X

Tuesday, 05 June 2007, Opini Publik
… dan semoga kerinduan ini bukan jadi mimpi di atas mimpi Ebiet G Ade KRISIS ekologi berkorelasi erat dengan krisis spiritual-eksistensial yang menerpa kebanyakan manusia modern. Demikian yang dikatakan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam Man and Nature The Spiritual Crisis of Modern Man (1976). Pandangan dunia modern bahwa manusia adalah pusat dunia (antroposentris) yang juga disebut humanisme itu muncul dengan datangnya rasionalisme yang tidak lagi percaya bahwa hukum alam bersifat mutlak. Manusia dianggap sebagai penguasa, realitas, manusia merdeka, oleh karena itu manusialah yang menentukan nasibnya sendiri. Antroposentrisme itu memberikan legitimasi ilmiah-filosofis eksploitasi manusia terhadap alam. Karena alam dipahami sebagai sesuatu yang tidak memuat nilai intrinsik kecuali semata-mata nilai yang dilekatkan oleh manusia terhadapnya.

Dominasi Antroposentrisme

Karena menangnya humanisme-antroposentris yang memutlakkan manusia, maka bumi, alam dan lingkungan diperkosa atas nama hak-hak manusia. Dan bagi manusia, alam layaknya prostitute yang dimanfaatkan tanpa rasa kewajiban dan tanggung jawab terhadapnya. Di samping itu pendekatan kuantitatif, (banyak-sedikit, besar-kecil, untung-rugi) menggusur pertimbangan kualitatif (benar-salah, baik-buruk, indah-jelek) terhadap alam. Pada gilirannya alam hanya dipandang sebagai objek eksploitasi yang tidak berkesadaran, dan dijadikan sekadar komoditas politik atau ekonomi.

Akibat terlalu menafikan sisi kualitatif kehidupan, menarik untaian kata-kata kontradiktif Husain Heriyanto dalam Krisis Ekologi dan Spiritualitas Manusia, bahwa sejak zaman Renaisans revolusi industri selalu terantuk di persimpangan jalan: mendorong kemajuan teknis, tetapi juga menelantarkan buruh; menemukan obat-obatan, tetapi juga menebar penyakit, meningkatkan efisiensi, tetapi juga merusak lingkungan, membuat peralatan praktis, tetapi juga meningkatkan polusi dan limbah.

Tahap selanjutnya adalah saintisme, rencana menelanjangi segala sesuatu secara empirik. Sebagai dasar epistemik modernisme, saintisme menggelembung menjadi ideologi yang diterapkan untuk semua realitas. Saintisme membuat pandangan-dunia religius tidak relevan secara ilmiah. Agama tidak lebih dari keyakinan orang per orang yang berwatak subjektif, emosional dan tidak ilmiah. Maka, konsep alam sebagai ciptaan Tuhan pun kemudian tersapu bersih oleh cara berpikir saintisme.

Seorang sosiolog MK Merton bahkan mengatakan, dari struktur sosial masyarakat pada tahap tertentu akan tumbuh kondisi di mana pelanggaran terhadap norma-norma merupakan wujud reaksi ‘normal’. Merton berupaya menunjukkan realitas, bahwa berbagai struktur sosial dengan kualitas tertentu telah mendorong sekelompok masyarakat cenderung berperilaku menyimpang ketimbang mematuhi norma-norma. Dengan kata lain, struktur eksisting sosial ekonomi-politik punya ‘kontribusi’ signifikan terhadap munculnya perilaku dan tindak pencemaran lingkungan.

Limits to Growth

Namun realitas terkini membalikkan keadaan. Optimisme manusia modern yang mengklaim mampu menundukkan dan menguasai alam, harus bertekuk-lutut di hadapan ‘kemarahan’ alam dengan berbagai bentuk krisis ekologi. Hal ini menyentakkan kesadaran manusia bahwa alam mempunyai tatanan tersendiri. Dalam laporan pertamanya Limits to Growth (Batas-batas Pertumbuhan) tahun 1975, Club of Rome mengingatkan malapetaka yang mengancam peradaban manusia, jika cara pandang manusia modern terhadap ekosistem tidak berubah atau diubah, khususnya terhadap konsep pertumbuhan demi pertumbuhan tanpa memperhatikan ekosistem secara holistik dan integral. Sementara dalam laporan keduanya Mankind at the Turning Point (Umat Manusia di Titik Balik), kelompok pemerhati ekosistem itu malah meramalkan bakal kiamatnya dunia, jika tanda-tanda bahaya peradaban seperti krisis ekologi tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Etika Keberlanjutan

Istilah lingkungan hidup sendiri pertama kali dimunculkan oleh Ernst Haeckel (1866), yang menunjuk kepada keseluruhan organisme atau pola hubungan antarorganisme dan lingkungannya. Ekologi berasal dari kata oikos dan logos, yang secara harfiah berarti ‘rumah’ dan ‘lingkungan’. Jadi lingkungan hidup harus dipahami dalam arti oikos, yaitu planet bumi ini.

Sebagai oikos, bumi memiliki dua fungsi, sebagai tempat kediaman (oikoumene) dan sumber kehidupan (oikonomia).

Kekhawatiran akan perkembangan sains dan teknologi yang tidak terkendali dan mengakibatkan kerusakan alam lingkungan telah jauh diantisipasi oleh Lynn White pada 1967 dalam karyanya The History of Our Ecology Crisis. Karya Lynn ini merupakan cikal bakal munculnya etika lingkungan yang diformulasikan dari hari Bumi tahun 1970. Etika lingkungan hidup, berhubungan dengan perilaku manusia terhadap lingkungan hidupnya, sebagai koreksi atas paham humanisme-antroposentris, dan menempatkan manusia sebagai bagian lingkungan hidup. Sebab secara etimologis manusia dan bumi mempunyai akar kata yang sama dalam bahasa semit, yaitu ‘dm, asal kata adam (manusia) dan adamah artinya tanah. Manusia adalah lingkungan hidup, sebab dia mempunyai ciri-ciri di mana seluruh komponen yang ada berasal dari alam ini, yaitu ciri-ciri fisik dan biologis.

Di zaman modern ini teknologi dianggap mempunyai lingkungannya sendiri, disebut ‘teknosfer’, yang kemudian dianggap mempunyai peran penting dalam merusak lingkungan fisik. Untuk mempertahankan eksistensi planet bumi, maka manusia memerlukan nilai-nilai yang disebut ‘etosfer’, yaitu etika atau moral manusia. Etika dan moral bukan ciptaan manusia. Ia dikaruniai bumi untuk dikelola dengan baik dan bertanggung jawab sebab ia juga dikaruniai ‘etosfer’. Etika baru yang disarankan oleh Masykuri dalam Etika Lingkungan: Solusi Menghadapi Mentalitas Frontier yang harus merupakan etika masyarakat modern adalah Etika Keberlanjutan (sustainable ethics) yang dikemukakan oleh Chiras (1985).

Strategi Pengelolaan SDA

Strategi Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dalam etika lingkungan, bumi adalah sumber daya yang memiliki batas. Bumi mempunyai batas dalam sumber daya-sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, seperti logam-logam dan minyak. Sehingga masyarakat harus belajar bagaimana menggunakan bahan-bahan yang pertumbuhannya tidak terbatas di bumi yang terbatas dengan segala kemungkinan, tidak memroduksi secara berlebihan dan tidak merusak lingkungan hidup.

Cara pertama yaitu dengan konservasi (merawat/menjaga) atau membatasi pemakaian sumber daya alam. Seperti diutarakan oleh Gandhi, “bumi menyediakan lingkungan untuk mencukupi apa yang dibutuhkan manusia, tapi tidak yang diinginkan manusia”.

Strategi kedua yaitu dengan menggunakan kembali (re-use) dan mendaur ulang (re-cycling) bahan-bahan.

Ketiga, manusia harus belajar menggunakan sumber daya yang dapat diperbaharui, seperti matahari, air, angin, gelombang. Strategi berikutnya adalah manusia menyatu dengan alam, karena manusia merupakan bagian dari alam dan manusia tidak superior terhadap alam. Konsep utama dalam pengelolaan SDA dengan mengimplementasikan etika lingkungan adalah tidak ada yang harus berlebihan.

Jika terjadi kerusakan, pencemaran, kehancuran bumi dan alam akibat ulah manusia dengan mentalitas tanpa batas dan ketamakannya, bersamaan dengan pembengkakan jumlah penduduk yang di luar kemampuan bumi untuk memberikan dukungan bagi kelangsungan hidupnya, prediksi suram dari analis ” Limits to Growth ” dalam bentuk ” Doomsday will come “, bukan mustahil akan terjadinya hari kiamat dunia. Atau kalau tidak, seperti yang diingatkan oleh Thijsse (1982), akan terjadinya “kemarahan alam” terhadap ulah manusia, bahwa “Jawa akan menjadi padang pasir sebelum abad 21” (Tri Pranadji, 2006).

Seyyed Hossein Nasr mengemukakan bahwa krisis-krisis yang menimpa manusia sebenarnya karena manusia mengidap penyakit amnesis, yaitu mundurnya kearifan manusia sehingga lupa atas diri mereka yang sebenarnya. Maka kerjasama yang terjalin antara pemerintah dan kalangan arif cendekiawan berikut ulama dapat mengingatkan masyarakat Indonesia yang telah lupa akan eksistensinya di alam semesta.

Dalam pengelolaan SDA seringkali terjadi pertentangan antara kelompok yang menganut paham antroposentris dan ekosentrisme. Kedua paham ini sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan, sehingga lebih pas kalau terjadi perpaduan di antara keduanya. Di sektor kehutanan, pengelolaan Taman Nasional merupakan salah satu contohnya, yang dikembangkan menjadi beberapa zona. Zona Inti, tidak boleh dijamah sama sekali (full conservation). Zona Rimba untuk penyelidikan, Zona Penyangga (buffer zone) sebagai kawasan penyangga dan Zona Pemanfaatan dapat dilakukan pemanfaatan ekonomi secara terbatas. Konsep pengelolaan Taman Nasional mestinya dapat diadopsi untuk model pengelolaan SDA yang lain. Dengan perpaduan ini diharapkan pembangunan tetap berjalan tetapi kerusakan lingkungan dapat ditekan pada titik nadir.

Banyak kasus membuktikan, bahwa kemerosotan lingkungan disebabkan oleh teknologi yang mencemari, diiikuti oleh konsumsi yang berlebihan, kebijakan pembangunan yang kurang serasi, terutama karena seringkali terjadi perbenturan kepentingan antarsektor yang tidak terselesaikan dengan baik.

Sebuah Perenungan

Para empu dalam bidang “seni kehidupan”, yaitu para wali, para nabi, dan orang-orang suci, masing-masing pernah disergap kerinduan yang sangat pekat akan keteraturan dan ketertiban dunia. Bahkan mereka tidak hanya penuh harap, tapi juga berupaya dengan segenap daya, agar Tuhan berkenan menciptakan keadilan di bumi. Sayangnya, mereka ibarat hanya bayangan yang tak ada, atau cuma sebentuk nyala lilin kecil, tapi meski demikian , juga berguna untuk penyadaran diri manusia. Bukankah Jalalludin Rumi, penyair dan sufi terbesar Persia, pernah berucap, “Lilin dibuat untuk menjadi nyala/Dalam suatu saat penghancuran/Yang tak menyisakan bayangan”.

Kerinduan akan dunia yang hayu dalam kosmologi Jawa, Hamemayu-Hayuning Bawana, dalam konteks Etika Keberlanjutan, yang selaras-seimbang, yang ada sinergi antara mikro dan makrokosmos, semoga tak akan sekadar sebuah mimpi di atas mimpi, yang dikhawatirkan Ebiet. Maka, marilah kita rayakan Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni 2007 ini, bukan dengan cuma mimpi seperti di sebuah Republik Mimpi… q – g

*) Kerja sama KLH, KR & Ilmu Giri Mangayubagya Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2007.

http://222.124.164.132/article.php?sid=125777

Satu Balasan ke Hamemayu dalam Konteks Etika Keberlanjutan

  1. Christianto mengatakan:

    Saya bersepakat dengan opini hamengkubiwono, manusia bukanlah sentra. manusia adalah sebagian keil dari satu organisme dari kosmos ini, semua memiliki keterhubungan. Paham modernisme dan perkembangan kapitalisme global saat ini sangat meniadakan kepentingan organisme lain sehingga dampak di masa depan bagi manusia adalah kehancuran. Konsep antroposentris memang harus din\bongkar.

    kesempatan ini saya juga mengundang anda mampir ke weblog saya dan ijinkan kita saling bertukar alamat blog …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: