Diskusi dan Laporan ttg Rumah Domes (Desember 2006)

Kawan-kawan pemerhati penanggulangan bencana,

Di Milis Suara Korban Bencana muncul lagi diskusi mengenai “rumah domes” yg berada di Dusun Nglepen, Sengir, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kab. Sleman. Ini bukan hal baru lagi, karena di waktu lalu telah terjadi diskusi serupa di milis-milis. Sebagai penyegar ingatan dan masukan kepada kawan-kawan yg akan mengadakan diskusi ttg topik ini pada tgl 9 Juni 2007 Kantor Bale Daya Perumahan/Housing Resource Center, saya tampilkan secara runtut hasil-hasil diskusi di pada akhir tahun 2006 itu (+ hasil diskusi awal Juni 2007).

Selain itu saya sertakan laporan lapangan yg saya buat pada tgl 8 Desember 2006 ttg “rumah domes” ini. Waktu itu sayangnya tidak ada satu pun tanggapan substansif yg masuk utk melakukan perubahan.

DONWLOAD: RUMAH DOMES UNTUK WARGA NGLEPEN, DESA SUMBERHARJO, KECAMATAN PRAMBANAN,
KABUPATEN SLEMAN

Semoga berguna.

salam,
djuni

=============================================

From: Djuni Pristiyanto
Date: Thu, 07 Dec 2006 19:42:14 +0700
Subject: [SUARA] Rumah “igloo” di Nglepen Prambanan

Kawan-kawan,

Apakah kamu pernah melihat rumah “igloo”? Rumah “igloo”? Itu lho rumah yg dipakai oleh orang-orang Eskimo di kutub sana. Nah kalo ingin melihat rumah “igloo” tidak perlu jauh-jauh pergi ke kutub sana. Tapi cukup dekat, yaitu di Dusun Nglepen, Sengir, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kab. Sleman.

Di dusun Nglepen ini sedang dibangun kompleks perumahan dg model rumah “igloo” utk warga Sengir yg mesti pindah karena bahaya tanah ambles dan longsor. Kompleks rumah model “igloo” itu dibangun oleh LSM dari Amerika yg bernama Domes for The World (DFTW). Menurut istilah DFTW model rumah “igloo” itu mereka sebut rumah “DOMES”. Tampaknya lembaga DFTW ini hendak menduniakan rumah “domes” dan men-“domes”kan dunia. Karya mereka ini mulai berhasil, karena di Indonesia pun sekarang ini sudah ada wujudnya.

Bila hendak berkunjung ke Nglepen utk menonton rumah “domes” itu tidak perlu membawa baju yang tebal-tebal. Cukup bawa topi, kalau perlu bawa payung atau jas hujan karena bisa saja tiba-tiba turun hujan dengan lebatnya.

Siang tadi (Kamis, 7 Desember 2006, jam 13.30) saya datang ke Nglepen utk mengetahui sampai sejauh mana perkembangan pembangunan rumah itu. Ternyata cepat sekali hasilnya. Foto-foto pembangunan rumah domes (ada 20 buah foto).

Utk contoh, maka saya lampirkan juga foto-foto tersebut.

Ngomong-ngomong, cocokkah rumah model seperti itu bagi budaya kita?

Semoga berguna.

salam,
djuni

=============================================

From: “yoss_yogyakarta”
Date: Thu, 07 Dec 2006 16:15:33 -0000
Subject: [SUARA] Re: Rumah “igloo” di Nglepen Prambanan

Wah, kalo yang ini boleh aku urun rembug.

Kalo temen2 ada yang tertarik dengan bentuk rumah seperti ini, bisa main ke sini. Sekarang sih baru jadi satu, tapi kami ada 3 cetakannya. Dalam dua hari ini kami akan membuat 3 rumah sekaligus. Kalo dihitung, satu rumah bisa selesai dalam 4 hari. Hitung2an biaya material sedang saya rinci, karena hitungan di kertas dan di lapangan berbeda. Sori kalo lama gak bisa maen ke sekretariat, sibuk ngurusin rumah2 ini je.

Yoss
=============================================

From: Djuni Pristiyanto
Date: Fri, 08 Dec 2006 12:48:08 +0700
Subject: [SUARA] Rumah domes di Nglepen Prambanan

Kawan-kawan,

Kemarin (7 Desembember 2006) saya datang ke Dusun Nglepen, Sengir, Desa Sumberharjo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman utk memantau perkembangan pembangunan rumah “igloo” atau “domes”. Foto-foto pembangunan rumah domes (ada 20 buah foto).

Selain itu saya membuat sebuah laporan singkat mengenai rumah domes ini. Jelas sekali rumah domes ini tidak sesuai dengan budaya asli Jogja, lalu apa yg akan kita lakukan? Sementara itu tampaknya di Jogja juga belum ada semacam kritetia yang jelas utk “menyeleksi” bantuan-bantuan yg masuk kepada para korban gempa.

Apa yg mesti kita lakukan?

salam,
djuni

=============================================

From: endro gunawan
Date: Mon, 11 Dec 2006 17:11:02 +0700 (ICT)
Subject: Balasan: RE: [SUARA] Rumah “igloo” di Nglepen Prambanan

saya merasa melihat film TELETABIS dan yang lucu nanti seperti di film anak-anak itu karena ruang yang sempit dan dimakan oleh lingkaran jadi pasti setiap bertemu BERPELUKAN he he he he kan hangat terus dan itu ide seperti BATHOK DIKUREPE terus dikasih pintu yen ana lindu ya ora ngerti karena semua itu hanya perkiraan dan dikasih LABEL TAHAN GEMPA he he karena diriku tidak tahu teknik apapun untuk buat rumah tapi sekarang seluruh rancang bangun rumah harus dikasih label lan embel-embel TAHAN GEMPA apa mesthi harus ada gempa lagi untuk itu.emoh emoh wis pisan wae kapok. yang jelas rumah tahan gempa bisa kita lihat dengan matabatin kita dengan berani menghargai budaya sendiri serta kearifan lokal yang jelas-jelas sudah teruji dan tahan gempa betulan.

=============================================

From: Antonius Yusanto
Date: Mon, 11 Dec 2006 13:44:41 +0700 (ICT)
Subject: Balasan: RE: [SUARA] Rumah “igloo” di Nglepen Prambanan

Ya, banyak yang bilang ke saya seperti itu mas. Untuk teknologinya tidak rumit kok. Saya kurang paham dengan
maksud ‘membeli’ teknologinya. Yang sekarang saya tahu, hanya balon dan beberapa blower yang didatangkan
dari amerika. alat2 yang lain banyak yang kami beli di yogya. Tenaga yang dari amerika hanya satu orang saja
mas. Di dlm rumah itu tdk panas krn panas dari atas diserap lantai.

=============================================

From: “fppd”
Date: Mon, 11 Dec 2006 10:49:31 +0700
Subject: RE: [SUARA] Rumah “igloo” di Nglepen Prambanan

Menurut saya rumah model ini tidak cocok dengan budaya Yogyakarta dalam membangun rumah, dari foto-foto yang saya lihat di milist ini tampaknya perlu teknologi yang cukup tinggi. Sepertinya untuk membuat bekisting beton menggunakan sebuah balon yang digelembungkan, lalu diatasnya dianyam dengan besi beton yang kemudian di cor. Ini memerlukan teknologi yang belum kita punyai, kita harus “membeli” teknologi tersebut. Disamping itu diperlukan juga keahlian tertentu yang tidak semua orang bisa, sehingga dengan terpaksa kita mendatangkan “orang ahli” itu. Bagaimana pula bila rumah ini rusak, apakah harus mendatangkan lagi teknologi dan tenaga ahli tersebut untuk memperbaiki.

Seperti kita ketahui bahwa orang Jawa umumnya ingin memliki rumah yang besar, coba bayangkan kalau waktu Idul Fitri semua keluarga akan datang. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana rumah ini akan dikembangkan, bagaimana caranya akan memperluas rumah ini? Bagaimana menyambung rumah ini? Apakah bila ingin menambah ruangan dengan membuat rumah dengan bentuk yang sama? Sehingga Antara Bapak dan anak akan berbeda rumah, yang ini akan mempengaruhi komunikasi antara Bapak/Ibu dengan anak.

Dengan atap yang pendek saya rasa akan menjadikan penghuni rumah ini akan kegerahan, yang ini tidak bakal terjadi di Eskimo sana, apalagi dengan atap beton yang akan menyerap panas dengan cepat dan melepaskan panas tersebut ke dalam ruangan. Saya belum tahu orang Prambanan apakah mengeluhkan hal yang saya bayangkan ini, semoga saja tidak. Saya pernah membaca buku tetapi agak lupa, bahwa orang agar nyaman memerlukan volume ruang tertentu, apakah rumah ini telah memenuhi standard minimum itu? Sehingga nyaman untuk ditempati.

Menurut kami bantulah korban bencana sesuai budaya lokal saja, memperkenalkan teknologi baru syah-syah saja, yang terpenting adalah teknologi terebut sesuai dengan budaya lokal, bisa saja teknologi tersebut dengan mengupgrade teknologi yang pernah mereka kenal sehingga meningkat pula kualitas bangunan bukan menampilkan ilmu yang benar-benar baru yang belum pernah meraka tahu.

Terimakasih

Adri W

========================

From: “fppd”
Date: Tue, 12 Dec 2006 09:52:33 +0700
Subject: RE: Balasan: Re: Balasan: RE: [SUARA] Rumah “igloo” di Nglepen Prambanan

Wah tampaknya diskusinya tambah rame aja.

Tapi sebelum mengomentari lagi ijinkan saya untuk memperkenalkan diri, karena latar belakang saya ini berpengaruh dengan komentar2 saya, sehingga temen2 bisa memahami mengapa saya berkomentar seperti itu.

Saya mempunyai latar belakang Teknik Sipil dan telah beberapa tahun bekerja di bidang itu, setelah gempa terjadi saya bergabung dengan IRE untuk bantuan gempa dan kemudian menjadi trainer untuk bangunan tahan gempa.

Tentang rumah tahan gempa ini, saya mencoba berfikir jangka panjang, apapun teknologi yang ditawarkan sebisa mungkin harus berkesinambungan (sustainable), jadi tidak semata-mata karena bantuan saja. Jadi masyarakat menggunakan teknologi tersebut terus menerus, sehingga ke depan ketika para ahli tersebut sudah tidak ada maka teknologi tersebut masih terpakai. Mungkin sekarang ini ada pihak donor yang mau menyumbang, misalnya saya balon tadi, tentu saja ketika balon itu sudah rusak atau bocor ketika masyarakat ingin membuat rumah model seperti ini maka otomatis harus beli, apakah masyarakat bisa membuat balon itu sendiri?

Yang lebih bikin trenyuh lagi ternyata rumah itu tidak gratis, karena mereka harus mengangsur untuk memiliki rumah tersebut, sehingga kemungkinan tidak semua bisa memiliki rumah tersebut, hanya orang yang mampu saja yang bisa memiliki rumah ini. Tentunya ini sudah terjadi diskriminanisasi bantuan, karena hanya orang yang mampu saja yang medapat bantuan. Tetapi mungkin di lapangan ada usaha-usaha untuk adil, saya tidak tahu, mungkin nanti ada yang bisa berkomentar.

Yang menjadi pertanyaan saya juga adalah proses pembangunan rumah tersebut, apakah model gotong royong? Atau dengan POKMAS atau yang lain?

Namun ada beberapa pertanyaan saya yang belum terjawab dalam diskusi ini:

Bagaimana mengembangkan rumah model ini, dilihat dari foto tampaknya ini hanya memuat 2 kamar tidur, bagaimana kalau keluarga tersebut ternyata punya 2 anak atau lebih, dan anaknya laki-laki dan perempuan, apakah ketika mereka sudah dewasa akan tetap sekamar?

Bagaimana menangani kerusakan-kerusakan yang terjadi, karena beton mudah sekali retak meskipun ada tulangan, apakah masyarakat sudha ditinggali juga dengan teknologinya juga.

Dengan tidak adanya tritisan (ciri khas rumah tropis) tentu saja kusen dan pintu jendela akan terekpos langsung oleh sinar matahari dan hujan. Sudah adakah upaya untuk mengawetkan kayu agar tahan terhadap air hujan dan sinar matahari. Umumnya apabila terkena sinar matahari langsung cat, melamine dan politur akan mudah terkelupas, sedangkan apabila sering terkena air hujan kayu akan mudah membusuk dan mudah dimakan rayap.

Sementara itu dulu komentar kami, mungkin ada salah kata yang menyinggung kami mohon maaf

Adri

=============================================

From: Antonius Yusanto
Date: Tue, 12 Dec 2006 06:09:34 +0700 (ICT)
Subject: Balasan: Re: Balasan: RE: [SUARA] Rumah “igloo” di Nglepen Prambanan

Makasih Mas Sigit,

Kalo gak salah inget, yang aku utarakan dulu tentang masalah pembagian rumah tersebut. Pihak donatur juga
heran mengapa hanya 3 tahun waktu yang diberikan warga untuk tinggal dan stelah itu mengangsur?. Kalau memang
demikian semoga pemda bisa merubah keputusan tersebut, tapi saya sendiri belum tahu secara pasti. Hanya
beberapa warga mengatakan seperti itu juga.

Salam buat temen2 di sekretariat.
Yoss

=============================================
TAMBAHAN HASIL DISKUSI PADA AWAL JUNI 2007
=============================================

From: Djuni Pristiyanto
Date: Fri, 01 Jun 2007 09:11:38 +0700
Subject: [SUARA] PEMBANGUNAN RUMAH GANJIL DI YOGYAKARTA

Kawan-kawan,

Ketika dulu “rumah teletubbies” ini baru dibangun, sedikit banget yg peduli. Kini setelah rumah2 itu sudah jadi dan ditempati oleh warga Ngelepen, banyak org yg “kebakaran jenggot”. Nasi sudah jadi bubur nih. Tapi, walaupun demikian, hal ini menimbulkan pelajaran penting kepada pemda Yogyakarta dan akan membuat peraturan daerah soal bantuan kepada korban bencana.

salam,
djuni

—————————————

Date: Thu, 31 May 2007 15:10:02 +0000
From: Radio Nederland Berita list manager
Subject: Warta Berita – Radio Nederland, 31 Mei 2007
—————————————

PEMBANGUNAN RUMAH GANJIL DI YOGYAKARTA

Menyusul bencana gempa bumi 27 Mei tahun lalu, yang terutama melanda Yogyakarta, mengalir bantuan dari luar negeri. Ketika itu, 6.000 orang tewas, dan 280.000 rumah hancur. Harian pagi de Volkskrant, memberitakan proyek pembangunan 71 rumah bantuan organisasi Amerika, Domes for the World, di desa Ngelepen, Yogyakarta. Rumah ini berbentuk kubah, seperti iglo, rumah khas bangsa Eskimo. Kompleks perumahan baru ini mendapat nama “Ngelepen Baru”.

Karena bentuknya yang sangat khas, “Ngelepen Baru”kini menjadi obyek tontonan. Setiap hari, kompleks ini ramai dikunjungi mereka yang penasaran ingin melihat rumah-rumah aneh. Para pengunjung menamakan bangunan baru ini “rumah teletubbies”, mengacu pada suatu seri televisi terkenal. Pihak Domes for the World menyatakan, rumah ini dibangun di seluruh penjuru dunia, dan dijamin tahan gempa. Repotnya, rumah ini sangat kecil. Sehingga tidak ada tempat buat kamar mandi dan kakus. Untuk kebutuhan hajat tersebut, bagi setiap 12 unit rumah, disediakan satu wc umum.

Menurut de Volkskrant, rumah ini lebih mirip gudang. Sri Sultan Hamengkubuwono ke X, sebagai gubernur Yogyakarta, dikabarkan marah besar ketika melihat bentuk rumah ganjil ini. Namun, tidak ada undang-undang yang melarang pembangunan rumah seperti ini. Sri Sultan bertekad, akan mempersiapkan perda, agar bangunan baru sesuai dengan budaya setempat. Sementara itu, para penghuni baru rumah ganjil tersebut, yaitu buruh tani miskin, tampaknya tidak begitu perduli pada tanggapan tersebut. Mardi, salah seorang buruh tani miskin tersebut menyatakan: “Kami ini miskin, tidak punya pilihan. Karena itu, kami gembira dengan apa yang kami peroleh. Rumah ini aman, dan tahan gempa”.

Demikian de Volkskrant, dan sekian pula Ulasan Pers kali ini.

=============================================

From: Didik
Date: Fri, 1 Jun 2007 11:20:26 +0700
Subject: Re: [SUARA] PEMBANGUNAN RUMAH GANJIL DI YOGYAKARTA

Bung Juni,
Memang aneh sih klo melihat bentuk rumah itu. Meski aku belum lihat secara langsung, rumah itu pernah di siarkan televisi Jogja maupun nasional suatu hari secara detail. Bicara tentang budaya, aku tidak setuju bahwa rumah itu tidak sesuai dengan budaya kita. Saat ini memang rumah – rumah ini nampak aneh. lucu sehingga menarik banyak orang. Tapi hey, lihat , bagaimana kelak 50 tahun, atau bahkan 100 tahun yad mungkin rumah itu akan menjadi bagian dari budaya. Bukankah kebudayaan itu bersal dari bagaimana manusia berdamai dengan alam? Umpak dan Cagak adalah salah satu warisan budaya dari pendahulu kita, yang tentunya sebagi wujud dari ‘coping mechanism’ mereka terhadap alam.🙂, bukan?
Mungkin fasilitas air dan sanitasi lebih cocok dilihat sebagai kebutuhan yang harus diperhatikan, ketimbang bentuk rumah yang aneh.

Kalau ada yang marah karena itu, itu sah sah saja sebagai suatu reaksi. Klo yang marah Big Boss, mungkin lebih sip klo kemudian diikuti dengan sebuah tindakan mengalokasikan budget daerah dan segala resource yang dipunya untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. Ajak orang – orang kaya raya nan makmur sejahtera untuk membantu yang miskin. Paling tidak sebagai ungkapan terimakasih, karena dengan adanya orang miskin maka mereka disebut orang kaya, iya to?

Jaman Dulu 20 – 30 tahun lalu ketika bulik dan Oom saya menikah, kado pernikahan yang datang klo gak gelas pasti piring atau nampan. Sampai sampai barang – barang itu dibagi – bagi ke seluruh keluarga besar. Bulik dan oom ku bukan mau buka warung padahal. Belakangan, ketika teman – temanku akan menikah, mereka minta secara pasti, apa barang yang dibutuhkan, lebih specifik. temanku bahkan ada yang ngarani ‘lensa nikkor’ sebagai hadiah yang dia ajukan ke teman”.
Nah, maksud ilustrasiku adalah, aku menganggap Jogja sebagi rumah tangga,. Nah klo ada orang yang datang membantu, tentu dia harus datang kepada kita, dia mau bantu apa, sesuai tidak dengan kebutuhan kita, budaya kita dsb. Klo tidak cocok ya kita minta yang cocok to? Ekuh pekewuh untuk rakyat harus dihilangkan, klo ekuh pekewuh soal pembagian project negara dan daerah kepada kelompok tertentu aja, Nah itu harus dikembangkan Ekuh pekewuhnya sama Rakyat! Ekuh, pekewuh dan MALU!

Domes for the World sudah memberikan bantuan, terimakasih , mungkin saatnya kita merintis JOGLO for the World, kita mampu gak ya.

Selamat hari Jumat.
D

=============================================

From: “retno agustin”
Date: Fri, 1 Jun 2007 12:05:36 +0700
Subject: Re: [SUARA] PEMBANGUNAN RUMAH GANJIL DI YOGYAKARTA

Bung Juni, Mas Didik yang baik,

Rumah teletubbies itu rupanya sudah jadi komoditas politik yang digandrungi bukan saja oleh pemerhati bencana, namun juga oleh pemerintah daerah. saya jadi teringat pernyataan bapak bupati bantul dalam sebuah hearing. dengan sangat berapi-api dia menyatakan bahwa rumah teletubbies itu tidak sesuai dengan kebudayaan jawa. lebih jauhnya dia membongkar nama seorang ex pejabat menlu sebagai broker rumah yang “nyleneh” itu. pejabat itu beberapa kali melobby-nya, namun dengan tegas dia menolak karena rumah itu tidak sesuai dengan karakteristik rumah di bantul yang katanya akan dipertahankan tetap dengan nuansa “kebudayaan jawa” yang “berkearifan lokal”

secara sikap politik ini benar.
sebagai sebuah keberpihakan pada rakyat, mungkin benar.

Dengan menolak bantuan, tak berarti problem di tingkatan rakyat selesai. toh kalau kemudian bantuan rumah teletubbies itu digeser ke sleman atau jogja, masih banyak warga bantul yang tak dapat bantuan rumah sama sekali. kuncinya ada pada usaha pemerintah untuk berposisi tawar terhadap pemberi bantuan. pemberi bantuan juga harus mendapatkan pembelajaran tentang model rumah berbudaya jawa yang terbukti lebih tahan gempa itu. nah kalau kemudian mereka menolak untuk memasukkan bantuan karena tidak sesuai dengan skema big boss, itu urusan yang lain. tapi kalau mereka mau kompromis dengan kondisi sosio kultural warga ngayogyakarta, bukankah itu berkah bantuan.
saya jadi curiga, jangan-jangan pemerintah malah yang tak paham benar tentang “rumah berkebudayaan jawa”. jangan-jangan pemerintah hanya menjual ide populer mengenai kearifan lokal tanpa paham filosofinya.melihat fenomena rekonstruksi rumah di bantul dll, saya jadi semakin yakin kecurigaan saya benar adanya.
coba saja kalau sedari awal pemerintah sudah tahu konsep rumah yang “lebih tahan” gempa, mungkin tidak akan banyak rumah yang rubuh. nah kalau pemerintah juga mau belajar tentang rumah yang “lebih tahan” gempa, dan berbudaya jawa, pemerintah bisa menyaksikan banyaknya rumah limasan ataupun pendopo dengan rangka kayu yang “hanya doyong” setelah diguncang gempa.
kalau pemerintah memang sungguh-sungguh ingin memelihara budaya jawa hingga berpuluh tahun kedepan ya harus konsisten. jangan hanya bisa bilang kalau rumah harus dibangun dengan memelihara tradisi rumah jawa (yang notabene banyak makan kayu) tapi pada aplikasi kebijakannya rumah pokmas “yang katanya tahan gempa” itu ternyata lebih banyak makan besi sama semen.
kalau sudah seperti ini yang diuntungkan kan ya toko bahan bangunan, pabrik semen, pabrik besi . . . . yang kalau dilacak-lacak modalnya milik sejumlah pejabat lokal dan kerabat-kerabatnya yang pengusaha, milik taipan nasional, milik investor asing. . . .halah industri bencana betul. itu saja.

salam jumat

retno

=============================================

From: Ana Yanti
Date: Sun, 3 Jun 2007 18:56:20 -0700 (PDT)
Subject: Re: [SUARA] PEMBANGUNAN RUMAH GANJIL DI YOGYAKARTA

Menurut seorang wartawan SINDO, rumah di Ngelepen, Sengir, Sumberharjo, Sleman ini diresmikan oleh Menpera Yusuf Asy’ari. Menteri tersebut kagum melihat bangunan yg menjamin tahan gempa dan keunikan bentuknya. Ada prospek ke depan untuk meningkatkan penghidupan warga dengan menjadikan tempat wisata mengingat dekatnya dengan candi Prambanan dan Boko (5-7 Km).

LSM Wango (dengan donatur tunggal oleh M.Ali Alabar dari Arab) yg mendirikan rumah domes teletubby pastinya melalui proses kesepakatan dengan masyarakat setempat dalam memberikan bantuannya.

Gbu
ana

=============================================

From: Antonius Yusanto
Date: Mon, 4 Jun 2007 03:39:25 -0700 (PDT)
Subject: Hal: [SUARA] PEMBANGUNAN RUMAH GANJIL DI YOGYAKARTA

Buat teman2,

Bagi yg meragukan kekuatan rumah dome silahkan datang ke rumah saya dusun sulang kidul, desa patalan, bantul. Teman2 bisa melihat dengan jelas proses pembuatan dome.
Kelebihan rumah dome adalah:
1. Cepat (1minggu selesai)
2. Kuat
3. Hemat (material semen, pasir dan besi)
4. Murah (dibandingkan dengan rumah biasa )

Matur nuwun

Yoss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: