Fenomena Salah Musim

Fenomena Salah Musim
Oleh : Fahmi Amhar

Friday, 08 June 2007, Kolom – Analisis
MURID SD di tahun 1970-an selalu mendengar dari guru IPA-nya bahwa Indonesia mengalami musim kemarau pada bulan April hingga Oktober, dan musim penghujan dari Oktober hingga April. Musim ini disertai dengan perubahan arah angin dan cuaca yang khas yang disebut pancaroba. Namun kini, iklim kita seperti semakin ‘ngaco’. Di Jawa hujan lebat masih turun disertai angin kencang hingga bulan Juni ini. Sementara itu, di bulan Desember tahun lalu masih banyak sawah yang kekeringan karena hujan belum juga turun.

Fenomena ini sebenarnya sudah cukup lama diprediksi para ahli, bahkan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) sampai membentuk ‘badan dunia untuk kerangka kesepakatan atas perubahan iklim’ atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dalam pertemuan puncak di Rio de Janeiro tahun 1992.

Pertumbuhan penduduk dan peningkatan standar hidup telah memacu peningkatan penggunaan bahan bakar, yang dampaknya meningkatkan kadar gas karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Gas ini menimbulkan efek rumah kaca (greenhouse-effect) yaitu memerangkap panas dari sinar matahari, sehingga secara keseluruhan suhu di dalam atmosfer bumi meningkat. Beberapa teori memprediksikan bahwa kondisi ini akan membuat salju abadi di kutub-kutub atau gunung-gunung tinggi mencair, panas laut naik dan pada saat yang sama gurun pasir meluas dan kebakaran hutan akan lebih sering terjadi. Kebakaran hutan akan menimbulkan efek berantai yaitu semakin menambah kadar gas rumah kaca tadi.

Para ahli telah mengembangkan beberapa puluh model untuk mempelajari dan menghitung efek perubahan iklim ini. Mereka kesulitan dalam mengkalibrasi model-model itu guna menentukan model mana yang paling tepat. Hal ini karena data untuk menghitung jumlah CO2 (Greenhouse-gas Inventory) yang ada di tiap tempat dari waktu ke waktu dianggap kurang memadai atau penuh dengan asumsi. Sejumlah ahli bahkan masih percaya bahwa naiknya CO2 akan secara alami disetimbangkan oleh lautan. Mereka menduga bahwa di masa lampau, di saat aktivitas vulkanik gunung-gunung berapi masih sangat tinggi, tentu CO2 di atmosfer juga jauh lebih tinggi dari sekarang. Persoalannya, berapa lama kesetimbangan alam itu akan tercipta kembali, dan apakah manusia bisa bertahan melewati masa adaptasi tersebut?

Pada 1997 di Kyoto Jepang ditandatangani protokol untuk mengurangi kadar CO2 (Kyoto Protocol). Namun sayangnya dua negara besar yaitu Cina dan Amerika Serikat menolak meratifikasi protokol itu, walau dengan alasan yang berbeda. Cina berposisi bahwa aktivitas ekonominya masih jauh di bawah negara-negara industri maju. Pengurangan CO2 berarti akan menutup kesempatan rakyat Cina untuk menikmati standar hidup yang lebih baik. Sedang pemerintah Bush lebih mempercayai penasehatnya yang menolak keabsahan model-model iklim itu.

Mereka yang mempercayai perubahan iklim global bahkan telah mengembangkan model-model dampak sosial-ekonomi dari perubahan ini. Misalnya naiknya suhu 2 derajat Celcius akan membuat sekian puluh juta penduduk pantai di daerah tropis semakin miskin karena kehilangan habitat dan matapencahariannya akibat makin seringnya gelombang pasang – seperti pernah mengejutkan kita beberapa waktu yang lalu.

Salah satu teori yang paling banyak diterima adalah bahwa gelombang ini akan mencapai puncaknya bila ada sinergi dari tiga hal: (1) pasang naik maksimal (yang terjadi pada bulan mati pada saat jarak terdekat bumi-bulan dan bumi-matahari, yang terjadi setiap 18,6 tahun sekali); (2) gelombang Kelvin yang terjadi sebagai dampak dari rotasi bumi; dan (3) gelombang Swell yang terjadi karena pengaruh angin dari suatu pusat pusaran di tengah laut. Angin seperti ini terjadi karena perbedaan panas yang tidak merata. Pada daerah pantai dengan topografi laut yang landai, dampak dari sinergi tiga hal dapat sangat mengerikan.

Negara-negara maju anggota UNFCCC pada awalnya punya komitmen untuk membantu secara finansial negara-negara berkembang dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim ini. Untuk itu negara-negara berkembang diwajibkan untuk melakukan sejumlah hal seperti menjaga hutan-hutannya serta menyerahkan data Greenhouse gas-inventory.

Namun setelah sepuluh tahun Kyoto Protocol, negara-negara berkembang semakin sadar bahwa ada faktor-faktor institusional yang sangat sulit diatasi, yaitu: (1) negara-negara industri terdepan di dunia (dikenal dengan G8+) sudah berada pada ‘zona nyaman’, sehingga malas untuk berubah; (2) di dunia saat ini tidak ada skema ekonomi alternatif yang berskala global; dan (3) PBB ternyata tidak punya kapasitas politik yang cukup. Faktanya, politik PBB dan ekonomi dunia saat ini sangat ditentukan oleh politik dan aktivitas korporasi Amerika Serikat – yang menolak meratifikasi Protokol Kyoto tadi.

Maka semakin jelas bahwa untuk menyelamatkan planet ini dari kehancuran ekologis, perlu paradigma dan sistem politik dan ekonomi global yang baru. Sistem politik dan ekonomi kapitalistis-sekuler terbukti gagal. Perlu ada sistem alternatif yang bersandar kepada Sang Pencipta. Sebagaimana firman Allah (QS. 30:41): Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Penulis adalah Peneliti Utama Bakosurtanal)-z.

http://222.124.164.132/article.php?sid=126235

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: