PELATIHAN WIRAUSAHA KORBAN GEMPA; Memandang Harapan Lewat Modal Usaha

PELATIHAN WIRAUSAHA KORBAN GEMPA; Memandang Harapan Lewat Modal Usaha

Saturday, 09 June 2007, Yogyakarta
WAJAH cerah dan senyum yang selalu mengembang tampak pada diri Imam Sibaweh (22) warga Kwasen, Srimartani Piyungan Bantul. Dengan bersemangat ia menceritakan bagaimana ia akan membuka usaha kecil seperti menjual gorengan, roti bakar atau makanan lain, sesuatu yang menurutnya cepat laku. Keuntungan yang didapat akan ditabung, rencananya jika sudah cukup ia akan membuka usaha sablon, ketrampilan yang sudah ia kuasai.

“Pada awal usaha akan sulit dan banyak halangan. Namun saya akan bangkit dan terus mencoba lagi,” kata Imam dengan bersemangat. Menurut Imam yang membuatnya yakin adalah selama satu tahun berkawan dengan kursi roda ia mendapatkan motivasi untuk menjalani hidup mandiri. Selama empat hari dari 4-8 Juni 2007 bersama 18 kawan sesama penyandang cacat (penca) korban gempa ia mendapat pelatihan kewirausahaan yang dilakukan Pusat Rehabilitasi Yakkum di Jl Kaliurang Km 13,5 Beji Sleman.

Imam yang merupakan alumni SMSR Kasihan Bantul jurusan Grafis (kini SMKN 3 Kasihan) ini tergabung dalam Kelompok Mulyo Rahayu. Selain mendapat pelatihan kewirausahaan juga mendapatkan bantuan modal bergulir. Hal itulah yang membuatnya bersemangat untuk membuka usaha, meski ia mengakui belum memiliki pengalaman dalam hal dunia usaha. Dengan malu-malu Imam yang lumpuh karena tulang belakangnya patah mengaku ingin menjadi seorang entrepreneur, seseorang yang tidak mudah menyerah. “Kalau saya tidak pernah mencoba maka saya tidak akan bangkit,” kata Imam.

Bagi Rita Indriani warga Prambanan Sleman yang juga duduk di kursi roda karena patah kaki, pelatihan kewirausahaan dan pemberian modal bergulir memberikan secercah harapan bagi dirinya maupun keluarganya. Sebelum gempa terjadi suaminya menjadi penjual sayuran segar di Pasar Prambanan, jika tidak laku sayur tersebut kemudian ia masak dan dijual di warung makannya. Akibat gempa otomatis usahanya hancur. Baru beberapa bulan ini ia dan suaminya Alip Mustafa, kembali merintis usaha berjualan sayuran.

“Kami biasa berjualan sayuran mulai dari pukul 23.00 hingga 03.00 dini hari, kami tidak boleh berdiam diri sebagai orangtua,” kata Rita yang memiliki 4 anak, 3 di antaranya sudah bersekolah. Dalam sehari ia bersama suaminya mendapat keuntungan Rp 40-50 ribu. Dengan adanya bantuan modal ia dan suaminya berencana menambah jumlah sayuran yang akan ia jual sehingga keuntungan meningkat.

Bagi Suranto (33) warga Kwasen Srimartani Piyungan, membuka usaha adalah suatu keharusan sebagai kepala keluarga. Meski kakinya tak sesempurna dulu karena patah, ia termotivasi untuk menjadi kepala keluarga yang baik. Sebelum gempa ekonomi keluarganya ditopang lewat usaha ternak ayam kampung dan lele.

Namun setelah gempa selain usahanya hancur sampai saat ini ia belum mendapatkan pemasukan. Lewat pelatihan kewirausahaan ia mendapat pelatihan bagaimana menyusun dan mengatur pembukuan keuangan.

“Hampir 7 bulan keluarga kami tinggal di dalam tenda bersama anak kami yang baru berusia 6 bulan dan kelas 4 SD, kondisi kami tidak karuan saat itu,” kata Suranto. Sebab itu ia sudah memiliki rencana untuk membuka warung di tempat tinggalnya. Keluarga menjadi motivasi utama dirinya untuk bangkit kembali.

Direktur Pusat Rehabilitasi Yakkum Dr Fonali Lahagu MSc di dampingi Kabid Pemberdayaan Ekonomi Benjamin Salimun mengatakan modal bergulir yang diberikan kepada kelompok III sebesar Rp 38 juta. Yakkum sebelumnya juga memberikan pelatihan dan bantuan modal bagi dua kelompok lainnya. “Kami akan mendampingi mereka selama 6 bulan dari mulai membuka usaha,” imbuh Benjamin Salimun. (Agung P)-n.

http://222.124.164.132/article.php?sid=126289

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: