Antropodisi

Antropodisi

Oleh Yonky Karman
Kamis, 06 Januari 2005

“Jika ini yang disebut dunia terbaik di antara yang mungkin diciptakan, bagaimana keadaan dunia yang lain?” (Voltaire, Candide, 1759)

HARI-hari ini emosi kita dikuras pemandangan mengenaskan lewat tayangan dan berita media tentang korban gempa dan hantaman tsunami di Aceh dan Nias. Yang lebih mengenaskan, kebanyakan korban adalah rakyat kecil. Bagi mereka, suami, istri, anak, atau orangtua merupakan harta paling berharga. Orangtua meratapi anak, begitu sebaliknya. Istri meratapi suami, begitu sebaliknya.

Ratapan yang memilukan itu merupakan ungkapan kerinduan untuk menghadirkan kembali kekasih hati. Perpisahan amat menyengsarakan, meninggalkan kekosongan batin yang tak tergantikan. Menjadi korban bencana alam yang tak berwajah (natural evil), kepada alam tak dapat diajukan protes, dan akibatnya penderitaan menjadi lebih absurd. Dalam penderitaan yang ekstrem seperti dialami kini oleh banyak saudara kita, penjelasan untuk membela keadilan Tuhan terasa sumbang.

“Beyond theodicy”

Dalam karya Teodisi (1710) yang termasyhur, Leibniz (1646-1716) berkata, kita bisa membayangkan sebuah dunia yang tak sempurna dan ada kejahatan tanpa harus mempersalahkan Tuhan. Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, Maha Bijak, dan Maha Baik itu hanya bisa menyeleksi sebuah dunia yang terbaik dari semua kemungkinan dunia yang terpikirkan (the best of all possible world).

Persis di situ, Voltaire (1694-1778) lewat tokoh Candide menghantam optimisme teodisi Leibniz sambil menunjuk pada gempa yang terjadi di Lisabon tahun 1755, empat tahun sebelum Candide terbit. Adagium “Tuhan yang baik menciptakan sebuah dunia yang baik” tak dapat bertahan di hadapan fakta gamblang bumi yang porak poranda karena gempa. Kebaikan Tuhan dibatasi kekuasaan-Nya (Harold S Kushner, When Bad Things Happen to Good People, London: Pan, 1981). Atau, kekuasaan Tuhan dibatasi kebaikan-Nya.

Pikiran-pikiran seperti itu bernada subversif bagi keberagaman konvensional. Namun, bila kekuasaan dan kebaikan Tuhan dipercaya tanpa reserve, harus diterima ada kekuatan-kekuatan anonim bermain dalam blind games di mana manusia hanya sebagai obyek yang pasrah menerima nasib. Terlihat keterbatasan naratif besar yang mengabaikan aspek- aspek sosial dan politik dari perjuangan melawan penderitaan. Penderitaan pertama-tama bukan untuk dijelaskan, tetapi untuk diperangi.

Bahasa teodisi cocok bagi pembela Tuhan (apakah benar Tuhan sebagai Tuhan membutuhkan manusia sebagai pembela-Nya?), tetapi sumbang bagi orang yang putus asa sebab bahasanya tak berpihak pada penderitaan. Itu sebabnya Ayub tak berhasil diyakinkan. Berhadapan dengan misteri penderitaan yang ada di luar batas-batas rasionalitas agama seperti di Aceh, teodisi mungkin berhasil meyakinkan logika rasio tetapi tidak logika hati. Mengutip Pascal, hati mempunyai logika yang berbeda dari logika rasio.

Bahasa teodisi cenderung memberi legitimasi bagi penderitaan, namun tak menolong orang yang menderita. Tetapi, bahasa antropodisi berpihak dan bersimpati pada korban. Itulah yang dibutuhkan korban musibah. (Georges De Schrijver, From Theodicy to Anthropodicy: The Contemporary Acceptance of Nietzsche and the Problem of Suffering, dalam Jan Lambrecht and Raymond F Collins, ed, God and Human Suffering, Louvain Theological & Pastoral Monographs 3, Louvain: Peeters, 1990, hal 95-119)

Titik balik?

Masalah bagi korban tsunami yang selamat adalah bagaimana hidup dengan penderitaan dan trauma, bagaimana hidup di atas puing-puing bangunan kehidupan yang hancur, dan apakah alasan untuk meneruskan hidup. Dalam kondisi demikian, agama seharusnya tidak dipakai untuk merepresi pergolakan batin mereka berhadapan dengan absurditas bencana. Seyogianya ada ruang cukup bagi mereka untuk mempersoalkan realitas hidup yang buruk dan hidup dalam rahmat Tuhan yang ada kalanya sulit. (Sheldon Vanauken, A Severe Mercy, New York: Bantam, 1977)

Untuk itu, para korban membutuhkan keleluasaan guna berfantasi secara kreatif. Pikiran mereka boleh mengembara untuk menciptakan oasis-oasis makna di dalam dunia yang jika tidak akan menjadi absurd. Ironisasi eksistensi dibutuhkan guna mengejek realitas yang kontradiktif dengan iman. Yang terpenting adalah bagaimana menyusun dan membangun sebuah dunia bermakna yang bisa didiami.

Upaya pribadi untuk bangkit dari kehancuran eksistensial itu perlu dibarengi simpati dari orang lain. Keganasan alam membuat dunia huni yang berwajah manusia porak poranda menjadi tak berwajah, melumat eksistensi manusia yang berwajah. Absurditas itu akan berkurang bila mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Ada orang lain yang mengetahui beratnya beban penderitaan, menaruh simpati, ikut merasakan penderitaan mereka dari dalam, berupaya menempatkan diri dalam posisi mereka. (Theodore Plantinga, Learning to Live with Evil, Grand Rapids: Eerdmans, 1982, hal 86-94)

Hari-hari ini solidaritas seluruh rakyat Indonesia terfokus pada upaya memulihkan Aceh. Penderitaan mereka adalah penderitaan kita. Masalah kemiskinan belum usai karena sumber daya alam dieksploitasi dan belum sirna ketakutan mereka karena wilayahnya dijadikan daerah operasi militer, kini penderitaan diperpanjang dengan bencana alam.

Sudah sepantasnya Presiden mengeluarkan seruan agar tahun 2005 menjadi tahun solidaritas dan kebersamaan guna membangun kembali Indonesia menuju hari esok yang lebih baik. Saat perkabungan nasional ini merupakan momentum bangkitnya kesetiakawanan yang sempat hilang karena kita belum bisa keluar dari primordialitas. Para relawan dari berbagai tempat telah mengunjungi lokasi bencana untuk berbuat sesuatu. Seorang anak telah menyerahkan seluruh uang receh isi celengannya yang berjumlah ratusan ribu rupiah. Ada gerakan solidaritas dari wakil rakyat, memotong gaji untuk disumbangkan.

Mahal sekali harga momentum solidaritas ini. Jangan sampai itu dicemari aneka tindakan tak terpuji, seperti mencuri harta korban, menggelembungkan dana bantuan, memanipulasi sumbangan, serta melakukan perdagangan bayi dan anak- anak. Untuk itu, dibutuhkan ketegasan pemerintah guna menindak pejabat atau siapa saja yang mengambil keuntungan dalam kesempitan.

Pascatsunami, problem sosial malah menggunung. Penyakit mewabah di tempat-tempat pengungsian. Infrastruktur yang porak poranda perlu direhabilitasi. Rakyat miskin bertambah secara drastis. Kualitas hidup menurun. Satu generasi akan hilang. Tak terbayangkan sebelumnya, ternyata tahun 2004 merupakan tahun ujian yang amat berat bagi Indonesia. Kita bisa kian terpuruk.

Namun, kita bisa menjadikan ini sebagai momentum titik balik bangsa untuk bangkit dari keterpurukan. Infrastruktur Jepang dan Jerman hancur dalam Perang Dunia II, tetapi kedua negara itu mampu bangkit dengan elan vital baru. Bukan mustahil kehancuran yang kini sedang terjadi juga menjadi momen titik balik bangsa. Akan tetapi, dibutuhkan tobat nasional di antara elite negeri.

Kemiskinan telah membuat bangsa menjadi rentan terhadap bencana alam dan kemiskinan, sebagian disebabkan korupsi yang merajalela. Maka, tak ada jalan lain selain mempercepat pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Sungguh memprihatinkan bila bantuan mengalir ke dalam negeri, tetapi pejabat di negeri ini tidak hidup dalam keprihatinan dan pola hidup sederhana.

Kearifan elite politik sedang diuji apakah momentum untuk berbenah diri akan dilewati begitu saja. Ujian bagi bangsa amat berat. Namun, kita harus keluar dari ordeal dan muncul sebagai bangsa yang kuat untuk membangun masa depan yang lebih baik, sebuah negeri yang beradab dan lebih sejahtera. Dengan cara itu, kematian dan penderitaan ratusan ribu bangsa kita tidak akan sia-sia.

Yonky Karman Pengajar Sekolah Tinggi Teologi Cipanas

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/06/opini/1483101.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: