Pertemuan Puncak ASEAN Pasca-Tsunami

Pertemuan Puncak ASEAN Pasca-Tsunami

Oleh PLE Priatna
Kamis, 06 Januari 2005

SPECIAL ASEAN Leaders’ Meeting On Aftermath of Earthquake and Tsunami berlangsung di Jakarta pada 6 Januari ini. Sekjen PBB Kofi Annan dan paling tidak 20 kepala negara serta wakil lembaga-lembaga internasional berkumpul di Jakarta membahas program bantuan, penanganan bencana, dan langkah pemulihan dalam jangka panjang.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda menjelaskan, konferensi para pemimpin ASEAN pascagempa bumi dan tsunami diadakan guna menyambut respons masyarakat internasional yang luar biasa dalam mengulurkan bantuan. Kami melihat keperluan untuk duduk bersama. Konferensi satu hari ini memberi kesempatan bagi negara yang tertimpa bencana untuk menampilkan kasusnya sekaligus mencari solusi. Demikian pernyataan Menlu RI (Kompas, 04/01/05).

SOLIDARITAS dan simpati tidak hanya menggelindingkan konferensi para kepala negara/pemerintahan yang amat langka ini dalam waktu pendek. Tetapi, pertemuan sehari ini juga mencerminkan puncak komitmen kemanusiaan global guna memerangi penderitaan akibat bencana alam. Sebuah sejarah baru bahwa di tengah konflik, kekerasan, dan peperangan di sana-sini, aspek kemanusiaan tetap memperoleh perhatian luar biasa. Kesadaran amat mulia untuk menegakkan harkat kemanusiaan paling tinggi.

Bagaimana tidak, hanya dalam waktu satu minggu, terkumpul minimal 1,6 miliar dolar AS. Jumlah yang “biasanya” baru terkumpul setelah setahun. Demikian Elisabeth Byrs, juru bicara UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), baru-baru ini. Tak kurang, mantan Presiden AS, George Bush dan Bill Clinton dari Partai Republik dan Demokrat, bersama-sama ikut menggalang dana memulihkan kawasan yang tertimpa bencana.

We’re not doing this because we’re seeking political advantage or just because we’re trying to make ourselves look better with Muslim. We’re doing this because these are human beings in desperate need. Demikian Menteri Luar Negeri AS Colin Powell di New York Times, dalam perjalanan bersama Gubernur Jeb Bush ke Thailand dan Indonesia. Tidak bisa disangkal, komunitas internasional bahu-membahu menolong dan mengurangi penderitaan masyarakat yang tertimpa petaka, dengan ketulusan tanpa membedakan kebangsaan, warna kulit, keyakinan, “yang baik dan yang jahat”, kaya atau miskin. Tidak pula membedakan “yang GAM dan yang bukan”.

Maka, tidak mengherankan pada saat yang sama kita pun mendapat tawaran simpatik. Jerman, AS, Kanada, Inggris, Perancis, Italia, bahkan IMF ikut menyerukan dilakukannya pembicaraan moratorium atau penghapusan utang luar negeri Indonesia.

Gagasan negara donor untuk memberi keringanan dengan penghapusan utang mungkin juga debt swap for disaster rehabilitation itu tentu perlu mendapat perhatian yang baik. Jangan sampai belum apa-apa sudah ditampik idenya hanya karena takut rating kita merosot diikuti konsekuensi finansial lain. Wacana moratorium, apa pun gagasannya, perlu mendapat sambutan yang cerdas karena ia tidak hanya merupakan ekspresi solidaritas untuk meringankan beban, tetapi bisa jadi awal dari arah baru bentuk nyata komitmen kerja sama kita ke depan.

DISASTER diplomacy, begitu menurut Louise K Comfort dari Universitas Pittsburg AS, dan langkah-langkah penanganannya merupakan kesempatan bagi para pengambil kebijakan meredefinisi aneka perbedaan yang ada ke arah terciptanya interpretasi yang konstruktif atas tujuan-tujuan bersama. Disaster becomes a test of existing policy and practice in design and maintenance of human communities. Demikian tulis Comfort, (Disaster: Agent of Diplomacy or Change In International Affairs? Cambridge Review of International Affairs, 2000 ).

Adalah Jan Egeland, UN Humanitarian Relief Coordinator, yang menjadi bintang selama sepekan terakhir melalui CNN, Fox Channel, dan BBC dalam mengumandangkan penderitaan Aceh ke seluruh dunia dari markas besar PBB di New York. Mempertahankan komunitas ke- manusiaan dari segala bencana terhadap harkat kemanusiaan yang dijunjung tinggi memang sebuah perjuangan bersama.

Maka, tak heran, saat ajakan untuk melembagakan simpati, solidaritas, dan bantuan muncul di tengah musibah yang dialami ketiga anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, dan Malaysia), kita sepantasnya menarik manfaat sebesar-besarnya. Ketulusan yang muncul dari segenap penjuru, dari segala lapisan masyarakat internasional, berupa pertemuan darurat para kepala negara/pemerintahan ini adalah bagian dari bentuk pelembagaan nyata mengantisipasi masalah kemanusiaan yang tidak bisa diabaikan.

Dunia menyaksikan sekaligus membenci adanya pertikaian bersenjata, kelaparan, kemiskinan, dan keterbelakangan yang menghantam harkat kemanusiaan. Dunia dibangun melalui kerja sama antarnegara adalah untuk melawan the enemy for human beings and humanity agar harkat kemanusiaan tetap terjaga dalam kondisi terburuk sekalipun. ASEAN menjadi bagian perjuangan dunia untuk melawan keterpurukan yang mengancam harkat kemanusiaan. Bencana alam, penyakit, kelaparan, kemiskinan, terorisme adalah tantangan kemanusiaan yang terus dihadapi.

Kita ingat saat ASEAN melakukan pertemuan mengenai bencana SARS (Special ASEAN Leaders’ Meeting on Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS), di Bangkok, Thailand, 29 April 2003. Bahkan, ASEAN juga memiliki sebuah deklarasi, ASEAN Declaration on Mutual Assistance on Natural Disasters, yang disusun di Manila, 26 Juni 1976, hampir tiga puluh tahun lalu. Meski saat itu baru ditandatangani lima negara ASEAN.

DALAM konteks menghadapi bencana alam, sedikitnya deklarasi ini menegaskan komitmen untuk saling memberi bantuan bahkan membangun komunikasi efektif guna menyiapkan sebuah model disaster warning system, pertukaran para ahli hingga memasok alat kesehatan.

Deklarasi bersama Special ASEAN Leaders’ Meeting on Aftermath of Earthquake and Tsunami di Jakarta ini tentu menjadi inspirasi terlembaganya arah kerja sama baru. Dunia terus berputar menggelindingkan harapan dan tantangan. Harkat kemanusiaan menjadi taruhan dan dibenturkan pada realitas pahit ancaman bencana alam maupun man-made disaster, yaitu keteledoran dan kekeliruan yang bersumber pada tingkah laku manusia dalam mengelola lingkungan hidup, merusak diri sendiri, serta merendahkan harkat kemanusiaannya sendiri.

Man-made disaster menjadi ancaman bagi harkat kemanusiaan yang paling menyesakkan. Apalagi, saat pergaulan global dan hubungan antarnegara terasa kian kompleks, rumit, dan di sana-sini kehilangan pegangan moral untuk saling menolong dan bekerja sama membangun harkat kemanusiaan yang luhur.

PLE PriatnaAlumnus FISIP UI dan Universitas Monash, Australia, Bekerja di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: