AKIBAT AWAN PANAS DAN LAHAR; 350 Hektar Hutan Gunung Merapi Rusak

AKIBAT AWAN PANAS DAN LAHAR; 350 Hektar Hutan Gunung Merapi Rusak

Saturday, 16 June 2007, Jawa Tengah
KLATEN (KR) – Kerusakan hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) akibat erupsi kini mencapai 350 hektar. Pemulihan kembali hutan yang rusak akibat awan panas maupun lahar itu memerlukan waktu yang lama.

Kepala Balai Taman Nasional Ir Tri Prasetyo di Kemalang, Kamis (14/6) mengemukakan, Taman Nasional Gunung Merapi tidak dikelola eksklusif sebagai perlindungan secara tertutup, melainkan masih terbuka untuk kegiatan jasa wisata, pelestarian plasma nutfah, sumber keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. ”Bisa untuk jasa wisata, tetapi memang bukan untuk pengambilan kayu,” kata Tri Prasetyo.

Dijelaskan, TNGM merupakan institusi sebagai kebijakan pemerintah RI. Hal itu berkait komitmen dunia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kerusakan hutan. Sekarang ini di Indonesia sudah ada sebanyak 50 taman nasional, yang sebelumnya hanya sebanyak 35 taman nasional. TNGM merupakan bentukan baru bersama 15 taman nasional lainnya. Untuk di Jawa terdapat tiga taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Merapi, Taman Nasional Gunung Cerme dan Taman Nasional Gunung Merbabu. ”Di luar Jawa misalnya ada Taman Nasional Batang Gadis di Sumatra Utara, dan juga Taman Nasional Tesonilo di Riau untuk melindungi habitat gajah,” jelas Tri.

Hutan Merapi merupakan resapan untuk perlindungan sumber air. Sehubungan hal itu keberadaan hutan di hulu harus tetap dijaga agar air tetap tersedia baik untuk kebutuhan warga di hulu maupun di hilir. Pemeliharaan itu tidak lepas dari wilayah konservasi termasuk di daerah penyangga. Bukan hanya tugas dari TNGM melainkan juga perlu adanya dukungan dari semua instansi dan masyarakat. Taman Nasional Gunung Merapi tersebut seluas 6.410 hektar meliputi empat wilayah. Di antaranya yakni di DIY seluas 1.780 hektar, Klaten seluas 780 hektar hutan wisata.

Camat Kemalang, Herlambang mengemukakan, masyarakat Kemalang di lereng Merapi tersebut terdiri dari beberapa kelompok. Yakni ada kelompok kluster Merapi, pasag Merapi dan Lembaga masyarakat Desa Hutan (LMDH). Kelompok-kelompok tersebut bisa sinergi untuk menaikkan kehidupan ekonomi masyarakat.

Sekda Drs Indarwanto mengemukakan, agar masyarakat di lereng Merapi bisa memahami keberadaan TNGM tersebut. Bukan untuk membatasi masyarakat memanfaatkan hutan, melainkan untuk perlindungan agar tidak terjadi kerusakan sehingga ketersediaan air bisa terjaga. (Sit)-o

http://222.124.164.132/article.php?sid=127235

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: