Bencana Banjir Membawa

Bencana Banjir Membawa

Terendam banjir sejak tahun 1988 hingga banjir besar Februari 2007, warga RT 10 RW 01 Kampung Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, tidak menyerah pada nasib. Genangan air di seantero kampung kini berhasil dimanfaatkan sebagai kolam pemeliharaan ikan lele yang dipanen perdana sepanjang Sabtu-Minggu (9-10/6).

“Ada 150 kilogram lele yang dijual ke Pelelangan Ikan Muara Karang. Hasilnya sekitar Rp 1,25 juta dan sudah dibagi untuk 15 kelompok yang dikelola langsung oleh warga. Kampung kita siapa lagi yang mau mikirin kalau bukan diri sendiri,” kata Zuhri, Ketua RW 01 yang memelopori budidaya lele, awal Maret 2007.

Selepas banjir besar Februari 2007, warga mulai memikirkan jalan keluar dari persoalan banjir dan sampah yang senantiasa mengepung kampung mereka.

Pada tahap awal, bekerja sama dengan Majelis Budhayana Indonesia (MBI), mereka membangun jembatan ke dalam kapung—berpenghuni 165 keluarga atau 576 jiwa—yang terisolir itu. Selanjutnya, sampah yang terapung di seluruh penjuru dibersihkan.

Zuhri mencoba membuat kolam dari jaring untuk memelihara ikan lele di pekarangan dekat rumah Haji Untung yang tenggelam akibat banjir. Kegiatan warga didengar oleh Yayasan Nurani Dunia dan Bank Standard Chartered yang kemudian bergabung membantu warga hingga panen perdana pun berhasil.

Saat ini, dalam pemantauan, lokasi yang penuh sampah dan rumpun belukar di atas genangan air sedalam satu setengah meter terus dibersihkan.

Semula usaha meyakinkan warga tidaklah mudah. Bibit lele yang ditebar banyak yang mati karena kondisi air yang baru dibersihkan dari sampah.

Walau demikian, setelah berjalan beberapa lama, warga mulai melihat hasil dari bertumbuhnya lele dan berkurangnya jentik nyamuk akibat disantap ikan lele.

Zuhri menambahkan, akhirnya kolam pemeliharaan pun berkembang menjadi 15 unit yang masing-masing dikelola tiga kepala keluarga.

Warga pun mulai sadar membersihkan sampah. Sampah pun dipilah, plastik-kaca, organik untuk kompos dan kertas. Sebagian disiapkan untuk daur ulang atau dijual ke penampung.

“Ini menjadi sumber penghasilan yang penting karena sebagian besar warga kampung kami hanyalah buruh kontrak yang dapat kehilangan pekerjaan setiap saat,” kata Zuhri.

Nyonya Nita yang rumahnya dulu dihuni kecebong dan ular pun ikut dalam bisnis lele. “Saya ikut dengan bapak-bapak tetangga,” kata Nita.

Walhasil, kini warga pun bersemangat membersihkan lingkungan dan merawat kolam lele. Andi Mohammad Jufri, pendamping dari Nurani Dunia, menjelaskan, warga sedang menyiapkan koperasi. Diharapkan, Kampung Kapuk dapat menjadi sentra produksi lele.

Warga memang terlihat “demam lele”. Sore itu, sebagian besar warga terlihat membersihkan kampung.

Setelah tiga kali panen, diperkirakan setiap kolam dengan 6.000 bibit bisa menghasilkan 750 kilogram lele dewasa senilai Rp 6.375.000.

Diperkirakan setiap tahun dapat dilakukan sekurangnya lima kali panen dalam siklus dua bulan. Berarti setiap kolam ukuran 3 meter x 5 meter dapat menghasilkan penghasilan kotor Rp 31.875.000! (Iwan Santosa)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/11/metro/3591035.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: