Berjuang Mempertahankan Keutuhan Rumah Panggung

Berjuang Mempertahankan Keutuhan Rumah Panggung

Hujan deras yang disertai gelombang setinggi 1,25 meter, Senin (4/6) pagi, itu menghantam pesisir Wosi Pantai di Manokwari, Papua Barat. Namun, Melianus Kereway (26) tak peduli dengan itu semua. Ia nekat menceburkan diri ke pinggir pantai sambil memunguti sampah-sampah kayu bulat yang terapung di sekitar tempat tinggalnya.

Kereway seolah tak menyadari bahaya yang sewaktu-waktu dapat menimpa dirinya. Sebab, bukan mustahil kayu-kayu bulat berdiameter 20 sentimeter sepanjang lebih dari dua meter yang diombang-ambingkan arus itu bisa berbalik menghantam tubuhnya.

“Saya takut kayu-kayu itu menabrak tiang-tiang kayu rumah panggung kami yang mulai lapuk dimakan air laut,” ucapnya menjelaskan.

Jika tiang penyangga rumah patah terkena terjangan kayu tersebut, maka seluruh keluarga yang tinggal bersama Kereway tentunya bakal tercebur ke laut. Karena itu, daripada istri dan anak semata wayangnya terancam bahaya, dia memilih mempertaruhkan nyawanya.

Kereway memang tak sendirian di kawasan itu. Setidaknya, ada 15 rumah panggung dari kayu (biasa disebut rumah kaki seribu) yang berjajar—mulai dari Pertamina hingga Bengkel Arema—di Wosi Pantai. Setiap rumah umumnya dihuni tiga hingga empat keluarga nelayan dayung yang hidup dalam kemiskinan.

Jika badai dan gelombang datang, mereka seperti hadir dalam mimpi buruk yang mencekam. Malam hari mereka tak dapat tidur karena khawatir terjangan air laut akan membongkar rumah mereka yang beralas dan berdinding kayu.

Ketakutan itu tentunya beralasan. Sebab, pagi itu dapur rumah janda Waropen-Kereway yang berhadapan langsung dengan laut lenyap tersapu gelombang. Wanita setengah baya itu mengaku, peristiwa seperti ini sering terjadi jika ia lengah mengantisipasi kedatangan badai.

“Pusing juga. Kalau terjadi gelombang, selalu kitorang (kita) repot karena air laut bongkar papan-papan rumah. Saya mau minta tolong siapa buat bikin betul dapur? Mana paitua (orangtua laki-lakinya) baru sakit,” keluh Waropen.

Tak tahan

Badai berkekuatan 10-15 knot pagi itu juga merusak lantai dapur keluarga Yohanes Milino (53). Ia mengaku sudah tak tahan dengan kejadian itu karena terjadi setiap bulan. “Tapi saya tak ada pilihan lain selain bertahan di tempat itu,” katanya lagi.

Warga Wosi Pantai sebelumnya tinggal di Borarsi, Manokwari. Mereka dipindahkan ke wilayah itu pada tahun 1970-an karena lahan di Borarsi akan digunakan untuk sarana olahraga. “Kitorang tinggal di sini bukan permintaan sendiri. Pemerintah yang merelokasi kami,” ujar Milino sambil menarik napas panjang.

Di Manokwari, jumlah penduduk miskin memang cukup banyak, yaitu 80,17 persen (2007) atau 42.215 kepala keluarga (KK). Dari jumlah itu, 9.553 KK tinggal di kota dan sisanya di pedalaman. Penduduk miskin di kota ini didominasi oleh keluarga nelayan. (Ichwan Susanto)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/11/daerah/3575024.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: