Di Rumah Mbah Maridjan Suatu Pagi

Di Rumah Mbah Maridjan Suatu Pagi

Mbah Maridjan1 Mbah Maridjan2

Yogyakarta, KCM
Setelah berhasil mengalahkan kekhawatiran di hati yang was-was oleh kemungkinan Merapi meletus tiba-tiba, saya pun meminta Mas Suwardi, tukang ojek yang saya sewa mengantar ke mana saya suka selama di lereng Merapi, untuk segera menuju ke Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan bermukim.

Ya, pada Sabtu (6/5) di pagi yang berembun itu, dari Posko yang terletak di RS Jiwa Grhasia, Kecamatan Pakem, tempat saya menginap semalam, kami segera menuju ke Utara, ke arah Taman Wisata Kaliurang. Setelah masuk pintu gerbang kawasan wisata yang kini sepi pengunjung itu, Suwardi memacu motor bebeknya belok ke kanan, menyusuri jalan beraspal menuju Kinahrejo, Cangkringan, Sleman.

Dua kali tikungan kami lalui, kemudian turunan tajam, kami pun sampai di Kali Putih. Saya kaget tatkala Suwardi mendadak menghentikan motornya. Saya khawatir, motor bebeknya tak sanggup melibas tanjakan curam di depan mata.

Belum juga saya bertanya, Suwardi tiba-tiba omong begini, “Maaf, saya mau kencing dulu,” kata penduduk Pakem itu sambil tersenyum malu-malu.

Wajah Suwardi tampak memancarkan kelegaan usai membuang hajat kecil. Sambil mendekat, ia pun bercerita perihal Kali Putih yang ada di hadapan kami. Katanya, Kali Putih merupakan salah satu sungai penghasil pasir yang menjadi mata pencaharian warga di lereng Merapi. Maklumlah, Kali Putih merupakan salah satu sungai yang biasa dilewati lahar jika Merapi meletus.

Berdasarkan perkiraan, jika Merapi meletus di tahun 2006 ini, muntahan lavanya juga akan mengalir ke arah barat dan barat daya, di antaranya ke arah Kali Putih ini. Arah aliran lava itu disebut sebagai arah muntahan lava tradisional. Akan tetapi, perkiraan tersebut masih bisa berubah.

Motor pun menderu-deru dalam gigi satu saat merangkaki tanjakan yang tajam. Saya menawarkan diri untuk turun, tapi ditolak oleh Suwardi. Katanya, ia sudah biasa menaiki gigir bukit dengan motor bebeknya.

Kami pun terus mendaki lereng Merapi yang berada di Desa Kepuharjo. Sempat juga kami berpapasan dengan satu dua pengendara motor. Tapi, kata Suwardi, sebagian penduduk telah meninggalkan rumahnya untuk menuju ke pos pengungsian.

Setelah terbaca tulisan pada penanda arah yang berbunyi “Juru Kunci Merapi”, maka kami pun langsung belok kanan menuruni jalan ber-konblock menuju kediaman Mbah Maridjan.

***

Sebuah rumah berpapan kayu yang sederhana, dengan halaman luas dan bagian belakang sedang diperbaiki ada di hadapan saya. Itulah rumah Mbah Maridjan. Usai mengucapkan salam, saya pun langsung menyalami Mbah Maridjan yang sedang duduk menerima tamu dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Rupanya, beberapa orang yang mengaku dari UII itu sedang bertanya berbagai hal tentang Merapi kepada Mbah Maridjan. Termasuk pertanyaan, mengapakah Mbah Maridjan belum juga mengungsi, padahal Sultan sudah memintanya meninggalkan Kinahrejo.

“Yang memerintahkan itu Gubernur, kalau Sri Sultan belum. Gubernur dan Sultan itu beda aturannya. Kalau dari keraton itu belum,” jawab Mbah Maridjan sambil tersenyum.

Meski diserbu oleh berbagai pertanyaan dan juga didatangi oleh puluhan tamu tiap harinya, lelaki yang menghabiskan usianya di lereng Merapi itu tetap melayani tetamunya dengan hangat. Ia bahkan mengaku senang jika tetamu itu datang tiap hari. “Rumah ini jadi tambah regeng (hangat),” kata Maridjan.

Tak lama setelah kedatangan saya, para tamu dari UII itu pun pamitan. Kini saya cuma berdua dengan Simbah. Tanpa saya tanya, Simbah mulai bercerita dalam bahasa Jawa.

KCM/Jodhi Yudono
Mbah Maridjan mengaku selama menjadi juru kunci Gunung Merapi ia kerap menerima berbagai pesan. Di antaranya, manusia harus mengurangi tindakan yang merusak alam. “Mereka boleh mengambil pasir di sungai-sungai lereng Merapi, tapi jangan menggunakan mesin. Kalau menggunakan mesin, akibatnya merusak ekosistem, bisa menimbulkan banjir bandang, pohonan roboh,” kata Maridjan.

Pesan spiritual yang sampai padanya, tentu saja ada penyebabnya. Ya, penyababnya adalah karena sungai-sungai di lereng Merapi tiap hari dikeruk. Dan menurut Mbah Maridjan, mesin pengeruk pasir itu adalah milik orang-orang yang hobinya mencari duit banyak, orang-orang yang biasa nulis gedrig (nulis latin).

Saya memang tak mengejar pernyataan Maridjan tentang orang-orang yang menulis huruf latin itu. Maklumlah, ketika kami berdua itu, Mbah Maridjan tampak khusuk bercerita. Ya, saya khawatir, jika saya sela ucapannya, akan mengganggu konsentrasinya. Tapi, menurut tafsiran saya, mereka yang menulis huruf latin boleh jadi maksudnya adalah orang-orang kota.

“Karepe ngono, manungso kon podo prihatin, (Maunya itu manusia harus prihatin),” ujar lelaki kelahiran 1927 yang telah memiliki 11 cucu dan 6 buyut itu dengan pandang mata lurus entah ke mana.

Dari pernikahannya dengan Ponirah (73), Mbah Maridjan sebetulnya memiliki 10 anak. Namun yang hidup tinggal 5 anak. Dua ada di Jakarta, satu di Yogyakarta, dan dua anak lainnya tinggal di Kinahrejo.

Perihal Merapi yang sedang aktif, Mbah Maridjan bilang, dari dulu Merapi ya begitu, mengeluarkan pasir, api, abu. Itu artinya, jika belakangan Merapi giat mengeluarkan lava pijar, itu adalah sebuah kewajaran.

Kendati Merapi telah diramalkan oleh para vulkanolog bakal meletus dalam waktu dekat, menurut Mbah Maridjan, semuanya itu tergantung Yang Kuasa. “Merapi kuwi mahluk alus, iso ngukum wong sing srakah (Merapi itu mahluk halus, bisa menghukum orang yang serakah),” kata Maridjan seraya menambahkan, kalau kita ngawur, Merapi tak cuma mengirim pasir, tapi juga lahar.

“Merapi ugo iso ngarah karo sing perlon (Merapi juga bisa mengarah kepada mereka yang dituju,” lanjut Maridjan.

Mbah Maridjan bercerita, saat letusan 1994, di pegunungan Turgo ada sebuah keluarga yang punya hajatan pas pada hari dan tanggal yang tabu untuk menyelenggarakan hajatan. Kendati secara logika susah dipahami mengapa awanpanas menyapu keluarga yang sedang punya hajat karena letaknya di ketinggian, tapi faktanya keluarga yang punya hajat hangus terpanggang oleh awanpanas.

Saat ditanya, bagaimanakah kiranya warga Yogyakarta untuk masa-masa mendatang berkait dengan Gunung Merapi. Mbah Maridjan bilang, kalau masyarakat masih rukun dan tidak meninggalkan adat, niscaya Yogya masih dilindungi. “Kalau keraton masih ada, Sultan juga masih ada, Insya Allah Jogja masih selamat,” imbuh kerabat keraton Yogyakarta yang bertugas saji labuhan di Merapi itu tiap 30 Rejeb (tahun ini jatuh pada 26 Agustus). Rutenya saji labuhan itu dari rumah Maridjan, menuju Paseban Labuhan Dalem yang terletak di Pos II Gunung Merapi.

***

Biasanya, peserta labuhan ini adalah mereka yang sudah berusia lanjut dan para pencinta alam. Adapun barang-barang (uba rampe) yang dibawa adalah barang-barang milik Sri Sultan HB X yang terdiri dari Semekan Bangun Tolak, Semekan Gadung, Semekan Gadung Mlati, Sinjang Kawung Komplang, Sinjang Kawung Alit, Kampuh Poleng, Destar Daramuluk dan Peningset Udaraga.

Upacara labuhan ini biasanya dimulai pada pukul 06.00 pagi. Ki Suraksohargo (Mbah Maridjan) mempersiapkan abdi dalem Keraton Yogyakarta yang bertugas membawa Uba Rampe dari halaman rumahnya di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. Dengan menghadap ke arah Gunung Merapi, Mbah Maridjan memohon izin kepada leluhur Gunung Merapi, bahwa rombongan labuhan akan segera diberangkatkan.

Sebelum memberangkatkan rombongan, Mbah Maridjan biasanya akan berpesan kepada masyarakat yang turut menyaksikan labuhan itu agar tidak berjalan lepas (berpisah) dari arak-arakan rombongan.

Setekah setengah jam perjalanan atau sekitar pukul 7.30 WIB, arak-arakan akan memasuki gerbang Bangsal Sri Manganti (pos I Gunung Merapi). Di tempat ini, Mbah Maridjan biasanya akan berkata begini, “Niki Sampun dumugi Bangsal Sri Manganti, monggo sedherek-sedherek sami uluk salam. (Sekarang sudah sampai Bangsal Sri Manganti, mari saudara sekalian kita mengucapkan salam).”

Di Bangsal Sri Manganti, Mbah Maridjan kemudian memimpin pembacaan doa selama sekitar 15 menit disertai pembakaran kemenyan dan dupa.

Usai pembacaan doa “Uluk Salam” di Bangsal Sri Manganti itu, rombongan labuhan kembali melanjutkan perjalanannya menuju tempat labuhan. Tiba di Paseban Labuhan Dalem sekitar pukul 08.30 WIB, rombongan disambut oleh ratusan masyarakat yang biasanya sudah menunggu upacara labuhan di tempat itu sejak malam sebelumnya.

Dengan cekatan para Abdi Dalem Keraton segera membuka Uba Rampe yang dibawa dari Keraton Yogyakarta.

Setelah memohon izin dan mendoakan beberapa pihak, di antaranya Eyang Empu Romo, Eyang Empu Ramadi, Eyang Panembahan Prabu Jagat dan semua yang “lenggah” di Gunung Merapi, Mbah Maridjan memimpin pembacaan doa.

Usai pembacaan doa-doa, Mbah Maridjan akan mengumumkan kepada masyarakat agar tidak pulang terlebih dulu karena akan ada pembagian makanan.

Beberapa Abdi Dalem Putri segera membungkus nasi putih yang dibawa dari bawah sebanyak dua tenggok, seekor ayam bakar yang telah menjadi ingkung dan sambal parutan kelapa ke dalam plastik berukuran 25 gram. Begitulah tugas Mbah Maridjan saat labuh sesaji tiba tiap tanggal 30 Rejeb.

Maridjan menjadi juru kunci Merapi sejak tahun 1983. Sebelumnya, pada 1950, Mbah Maridjan adalah wakil juru kunci yang dijabat ayah Maridjan. Tahun 1982, sang ayah meninggal, maka setahun kemudian Maridjan diangkat sebagai jurukunci.

Soal penolakannya untuk mengungsi, sepertti diberitakan oleh banyak media, Mbah Maridjan mengatakan, “Di sini (Kinahrejo–Red), saya bisa berdoa untuk kesemlamatan banyak orang. Tapi kalau saya ikut mengungsi, itu berarti saya mengejar kepentingan pribadi.

http://www.kompas.com/gayahidup/news/0605/13/141719.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: