Refleksi 176 Tahun Zone Selatan

Refleksi 176 Tahun Zone Selatan

Oleh ANTON PRASETYO

Seakan terlupakan, bertepatan dengan satu tahun terjadinya gempa bumi DI Yogyakarta-Jawa Tengah, 27 Mei lalu, usia zone selatan atau Kabupaten Gunung Kidul juga genap 176 tahun. Dalam usianya yang sudah mencapai ratusan tahun ini tentu banyak perubahan yang ada di sana.

Perubahan tersebut tentunya mempunyai dua kategori. Kategori pertama adalah perubahan positif. Perubahan kategori ini mengarah pada kemajuan pembangunan yang ada, yang meliputi fisik dan nonfisik. Kategori yang kedua ialah kategori perubahan negatif.

Secara sekilas banyak perubahan positif yang ada pada kabupaten berluas 1.486,36 kilometer persegi ini. Dari faktor fisik, pembangunan jalan utama (Jalan Wonosari-Yogyakarta) merupakan potret terbesar perubahan positif yang ada. Perubahan itu dapat dirasakan tidak hanya penduduk Kabupaten Gunung Kidul saja.

Dapat dibayangkan empat tahun ke belakang kondisi jalan utama Kabupaten Gunung Kidul sangat memprihatinkan. Selain jalan terlihat sempit dan banyak kelokan tajam dan lubang yang membuat pengendara baik sepeda motor maupun mobil tidak nyaman menggunakannya.

Namun demikian, dalam waktu yang relatif singkat, jalan utama Kabupaten Gunung Kidul seakan disulap, yang tadinya sangat memprihatinkan menjadi membanggakan. Nama Irung Petruk yang dulu tidak pernah dilupakan setiap pengguna jalan utama Kabupaten Gunung Kidul saat ini tinggal kenangan. Hal itu bukan karena Irung Petruk tidak lagi ada, namun karena jalan yang menekong tajam sehingga menyulitkan pengguna yang berada tepat di sebelah selatan gambar Irung Petruk sudah dialihkan dengan jalan pintas, lurus, dan luas. Selain itu, pelurusan jalan yang selama ini sering menghambat perjalanan banyak yang sudah diperbaiki, luruskan.

Sementara itu, pembangunan yang bersifat nonfisik di antaranya semakin kentara generasi mudanya yang semakin peduli terhadap pendidikan. Pendidikan tingkat SLTA yang belum lama dianggap “wah” oleh sebagian besar kawasan pedesaan Kabupaten Gunung Kidul karena jarang yang melakukan saat ini sekolah tingkat SLTA sudah menjadi kebiasaan.

Perubahan negatif

Meskipun dari segi fisik dan nonfisik Kabupaten Gunung Kidul terdapat kemajuan, perubahan yang mengarah kepada kemunduran yang berarti bersifat negatif tampak jelas, utamanya penduduk yang merasakan dan penilaian sekilas kabupaten lain yang ada di DI Yogyakarta. Tidak sedikit permasalahan yang sampai saat ini belum dapat dituntaskan merupakan satu kenyataan negatif yang ada di Kabupaten Gunung Kidul.

Permasalahan yang bersifat fisik di antaranya masih banyak keluarga miskin. Di tahun ini keluarga miskin yang ada berkisar 25 persen. Padahal, rencana jangka menengah kabupaten dalam kaitannya dengan pemberantasan kemiskinan ini direncanakan 15 persen. Kenyataan ini juga jika dibandingkan tahun 2006 mengalami peningkatan kuantitas. Jumlah keluarga miskin Kabupaten Gunung Kidul tahun 2006 berkisar 65.000 sehingga satu tahun terakhir peningkatan jumlah keluarga miskin yang ada lebih dari 30.000 keluarga.

Untuk perubahan negatif yang bersifat nonfisik di antaranya sumber daya manusia (SDM) banyak yang menganggur. Mereka tidak mempunyai aktivitas utama sehingga tidak jarang pemudanya pergi ke luar daerah untuk mendapatkan pekerjaan.

Dari uraian di atas, meskipun Kabupaten Gunung Kidul memiliki perubahan positif, namun terlihat masih sangat minim. Sementara perubahan yang mengarah ke negatif masih banyak terlihat di sana.

Dengan demikian, dalam usianya yang telah genap 176 tahun ini ke depan diharapkan dapat meningkatan kinerja pemerintahan yang ada sehingga tercapai kemajuan kabupaten akan terlihat tidak hanya dalam satu sektor saja, melainkan di semua sektor. Untuk mewujudkan harapan mulia ini, tentu perlu adanya pemikiran yang matang dan mendasar. Tidak asal bekerja dan yang penting terlihat orang lain.

Dari segi fisik, memanfaatkan beberapa daerah unik yang ada dan potensial untuk berwisata akan menjadikan salah satu kemajuan tersendiri di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Dengan pembangunan tempat-tempat wisata baik yang saat ini sudah terlihat masyarakat luas (utamanya luar daerah) maupun yang belum akan menjadi daya tarik pengunjung tersendiri.

Tempat wisata pantai selatan yang meliputi Krakal, Baron, Kukup, dan sederetannya sampai saat ini sudah dikenal di berbagai daerah. Namun demikian, sampai kini pemanfaatannya masih stagnan.

Selain itu, banyak tempat wisata yang sebenarnya potensial namun hingga kini tidak ada yang mengenal. Hal itu juga dikarenakan pemerintah terlihat tidak pernah memerhatikannya.

ANTON PRASETYO Ketua Jamiyyah Qurra’ wal Huffadz Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/11/jateng/54599.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: