Ribuan Warga Mengungsi

Ribuan Warga Mengungsi
BMG: Isu Akan Terjadi Gempa Besar Disusul Tsunami Tidak Benar

Kupang, Kompas – Ribuan warga Nusa Tenggara Timur yang tinggal di pantai sebelah selatan mengungsi sementara ke tempat-tempat aman menyusul berita akan terjadi tsunami pada 7-10 Juni 2007. Angin kencang dalam dua hari terakhir di wilayah selatan membuat warga semakin waspada.

Bupati Rote Ndao Christian Nehemia Dillak di Rote, Kamis (7/6), mengatakan, akibat berita mengenai tsunami dan gelombang tinggi tersebut, ribuan warga berusaha menyelamatkan diri mengungsi ke daerah aman.

“Mereka yang berada di pesisir pantai selatan hampir semua mengungsi. Sebagian sudah kembali, tetapi tetap waspada. Kami juga minta warga selalu waspada tentang berita itu,” kata Dillak.

Angin kencang disertai gelombang tinggi pada dua hari terakhir juga memperkuat berita akan terjadinya tsunami. Sebelumnya tidak ada gejala alam seperti itu.

Sekretaris Daerah Sumba Barat Umbu Anagoga mengatakan, dua hari lalu warga di pesisir Sumba mengungsi karena gelombang tinggi yang merusak sejumlah rumah. Mereka kemarin sudah kembali. Di Pulau Sabu, Kabupaten Kupang, ratusan warga di pesisir mengungsi ke dataran tinggi mengamankan diri.

Simon Benu (45), warga Desa Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan, menuturkan, ratusan warga di sepanjang pesisir Kolbano menyelamatkan diri ke dataran tinggi. Warga di daerah itu sering ketakutan karena sering terjadi air pasang sampai ratusan meter ke arah daratan.

Di Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, hampir semua nelayan kemarin tidak melaut. Tempat pelelangan ikan di sana pun tak berjalan.

Kasno, Ketua Rukun Nelayan Lengkong, Kabupaten Cilacap, mengungkapkan, hampir semua nelayan di kelompoknya tak berani melaut. “Mereka khawatir akan tergulung ombak seperti bencana tsunami pertengahan tahun lalu,” ucapnya.

Meski sempat menerima pesan singkat kemungkinan terjadi tsunami, warga Kota Padang justru memilih ikut acara zikir bersama di Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang. Namun, warga yang tinggal di tepi-tepi pantai harus tetap waspada dan siap siaga jika sewaktu-waktu terjadi tsunami.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Departemen Sumber Energi dan Sumber Daya Mineral Surono menegaskan, pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Indo-Australia telah terjadi puluhan tahun lalu hingga kini, tetapi gempa tidak terjadi setiap saat.

Sementara itu, Kepala Bidang Seismoteknik dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika Fauzi memastikan, isu akan terjadinya gempa besar disusul tsunami tidak benar. “Dalam dua hari ini memang ada gempa: satu di kawasan Maluku berkekuatan 6,3 skala Richter, dan di dekat Papua Niugini (PNG) berkekuatan 5,9 skala Richter. Kedua gempa ini tak menyebabkan tsunami,” katanya.

Menurut Fauzi, gempa di Maluku terjadi Rabu (6/6) pukul 18.28. Pusat gempa di kedalaman 76 kilometer. Adapun di PNG terjadi Rabu pukul 07.40. Pusat gempa di laut pada kedalaman 33 km. (KOR/CHE/AIK/MHD/MDN)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/08/daerah/3586342.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: