Teknologi Pendeteksi Kepastian Gempa Belum Ada di Dunia

Teknologi Pendeteksi Kepastian Gempa Belum Ada di Dunia
Sikapi Isu Bencana secara Dewasa

Oleh Defri Werdiono

Yogyakarta, Kompas – Masyarakat semestinya dewasa dalam menyikapi setiap informasi dan isu yang berkembang seputar kemungkinan terjadinya bencana alam yang belum jelas kepastiannya. Di sisi lain, harus ada penyadaran kepada masyarakat tentang karakteristik wilayah setempat.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika Yogyakarta Tiar Prasetya dan peneliti dari Jurusan Geologi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Helmy Murwanto, secara terpisah, Jumat (8/6), mengatakan cukup sulit untuk mendeteksi secara pasti kapan terjadinya gempa bumi. Peralatan yang ada saat ini belum bisa menjangkau hal tersebut.

“Kemarin sudah kami sampaikan tidak ada aktivitas mencurigakan yang mengarah pada gempa besar. Selama ini, sosialisasi yang kami lakukan mengenai bencana sudah maksimal. Kami juga terbuka 24 jam dan bisa dihubungi setiap waktu,” ujar Tiar menyikapi isu yang sempat berkembang dan meresahkan, yakni akan terjadi gempa 7 Juni 2007 dan ternyata tidak terbukti. Inisiatif

Menurut Tiar, ada beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat terhadap isu itu. Pertama, semestinya berinisiatif melacak sumber (salah satunya media massa), guna mengetahui kebenaran informasi. “Kedua, mungkin CNN menjabarkan hal lain, terus kita menerimanya lain sehingga terjadi misunderstanding, terus disikapi secara berlebihan. Atau beritanya memang benar-benar tak ada, kecuali isu yang diembuskan melalui short message services (SMS),” tutur Tiar.

Anehnya lagi, menurut Tiar, masyarakat yang sebenarnya tahu bahwa isu itu tidak benar justru bertindak tidak proporsional, yakni menyebarkan ke orang lain hanya gara-gara membaca isi SMS agar pesan itu diteruskan.

Mengenai bencana alam, Helmy mengatakan isu gempa tektonik memang cukup santer di masyarakat. Hal ini terjadi karena Sumatera, Jawa, Bali, sampai Nusa Tenggara merupakan kepulauan yang terbentuk akibat proses tumbukan lempeng tektonik dari lempeng Samudra Hindia, Australia, dan lempeng Eurasia bagian tenggara.

Proses tumbukan ini telah berlangsung lama dan dapat menimbulkan gempa. “Untuk menghitung kapan terjadi gempa tidak mudah. Mengenai teknologi, di Amerika ada sesar tetapi orang juga tidak tahu kapan akan terjadi gempa,” ujar Helmy.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/09/jogja/1038301.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: