Agar Bisa Bertahan di Bantaran Sungai

Agar Bisa Bertahan di Bantaran Sungai

Apa ancaman terbesar bagi warga pinggiran sungai atau stren kali? Bukan banjir, tetapi penggusuran oleh satuan polisi pamong praja. Ancaman ini bahkan dirasakan sejak beberapa tahun lalu. Toh, mereka tetap saja bertahan di sana.

Permukiman pinggir sungai menjadi salah satu titik perkampungan yang identik dengan kumuh. Tata letak bangunan yang tidak teratur, rumah-rumah papan tidak ber-IMB, dan sampah yang senantiasa dibuang ke sungai. Belum lagi sungai itu dipakai kembali untuk mandi, cuci, dan kakus. Komunitas ini menjadi begitu besar seiring dengan semakin menariknya Kota Surabaya sebagai tempat mengadu nasib. Jadi, jangan heran pula kalau komunitas stren kali sudah membentuk struktur sosial sendiri.

Berdalih “merusak pemandangan” ini, pemerintah berkali-kali mengancam akan menggusur permukiman stren kali. Perdebatan panjang mengenai rancangan peraturan daerah (raperda) tentang stren kali pun masih berlangsung di DPRD Provinsi Jatim. Di tengah-tengah berbagai ancaman itu, warga berinisiatif mempercantik permukiman stren kali agar jauh dari kesan kumuh.

Waras Riyanto (50), warga Jalan Gunungsari 2 Perjuangan RT 2 RW 8, sadar benar bahwa permukiman di pinggir kali harus dibenahi. Kata “Perjuangan” setelah nama Jalan Gunungsari 2 itu juga bukan tanpa alasan. “Perjuangan, karena kami sudah berkali-kali berjuang untuk bertahan di sini (pinggir kali) agar tidak digusur,” ujarnya, Senin (18/6) saat sedang bersantai di depan rumahnya. Di depan dia, Kali Surabaya yang tidak lagi bersih mengalir.

Perjuangan Waras dan warga stren kali untuk membenahi perkampungan mereka memang tidak main-main. Berkali-kali usul pemerintah agar mereka pindah ke rumah susun ditolak. Bahkan, mereka juga menolak ketika pemerintah berencana membangun rumah susun di pinggir sungai. Sungai menjadi bagian hidup Waras sejak tahun 1980-an ketika tinggal di tepi sungai. “Kami bersedia membenahi perkampungan di Gunungsari ini agar lebih bersih dan tidak terkesan kumuh, tetapi jangan direlokasi,” tutur bapak tiga anak ini.

Maka, sekitar tahun 2003, Waras mulai mengimbau para tetangganya untuk sedikit demi sedikit membenahi perkampungan mereka. Mula-mula rumah itu harus dipotong 3 meter – 5 meter dari pinggir sungai sebagai jalan. Kemudian, posisi rumah dibalik menghadap sungai. Sebelumnya rumah-rumah itu membelakangi sungai. Artinya, dapur berada tepat di pinggir sungai. Ini membuat sampah dengan mudah pula dibuang ke sungai.

Tak cukup dengan itu, sekitar tahun 2004 warga Gunungsari II RT 2 juga membuat taman kecil-kecilan dan pagar pembatas di sepanjang sungai. Jalan pun sudah di-paving. Di sepanjang jalan paving ini pun tidak lagi ditemui banyak sampah. Bukan dibuang ke sungai, sampah- sampah itu menumpuk di tempat sampah yang telah disediakan.

“Pernah suatu kali saya mengejar warga sampai jauh hanya karena membuang sampah di jalan. Kami benar-benar tidak ingin kampung ini kotor,” tutur Waras.

Iuran

Perbaikan yang telah dilakukan ini memang belum sempurna. Dibantu sebuah lembaga swadaya masyarakat, Urban Poor Linkage, warga stren kali Gunungsari 2 berkeinginan menata perkampungan secara menyeluruh. Renovasi itu mencakup pula perubahan desain rumah secara menyeluruh.

Untuk itu, mereka juga mulai mengumpulkan uang untuk merenovasi kawasan itu. Dalam sebuah buku warna biru muda bertajuk “Buku Tabungan Renovasi Rumah Paguyuban Warga Strenkali Surabaya” terdapat dua lajur utama, jangka panjang dan jangka pendek. “Jangka panjang ini yang dipakai untuk merenovasi rumah, sementara jangka pendek dipakai kalau ada kegiatan kampung,” tuturnya sambil menunjuk buku iuran milik RT 2.

Setiap hari warga diminta menyetor uang Rp 5.000 – Rp 10.000. Hingga kini, menurut Waras, uang yang terkumpul mencapai Rp 65 juta. Saat ini warga belum berani merenovasi rumah sesuai dengan rancangan yang sudah ditentukan. Pasalnya, belum ada jaminan hukum apakah mereka bebas dari ancaman setelah rumah direnovasi.

Masa depan warga stren kali saat ini memang sangat bergantung pada DPRD Jatim yang sedang menggodok raperda stren kali. Kalau warga tepi sungai ini berhasil mempercantik kawasan perkampungan yang dahulu kumuh, tentu saja ini bisa ditiru warga perkampungan kumuh lain sebagai bentuk partisipasi warga dalam menata kotanya sendiri. (AB8)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/22/jatim/68391.htm

Satu Balasan ke Agar Bisa Bertahan di Bantaran Sungai

  1. wahyuni mengatakan:

    saya wahyuni,
    seorang mahasiswa geografi semester 6,
    saat ini saya sedang menyusun usulan penelitian/proposal penelitian..
    rencananya saya akan meneliti tentang persepsi masyarakat bantaran Sungai Winongo terhadap penataan lingkungan,
    mohon saya diberi masukan tentang parameter atau ukuran apa saja yang bisa saya jadikan alat ukur terhadap penataan lingkungan?

    mohon bimbingannya,
    terima kasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: