Dana Rehab Total Rp 500 Miliar

Dana Rehab Total Rp 500 Miliar

Monday, 18 June 2007, Rubrikasi – Liputan Khusus
GEMPA bumi 27 Mei 2006 menyebabkan 317 benda cagar budaya di Yogya mengalami kerusakan. Untuk Kota Yogya, benda cagar budaya yang mengalami kerusakan mencapai 145 unit, Bantul 121 unit, Sleman 29 unit, Gunungkidul 13 unit dan Kulonprogo 9 unit. Kriteria kerusakan, menurut Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi DIY Ir Condroyono didampingi Kabid Sejarah Kepurbakalaan Suyata, meliputi ringan sampai berat atau roboh total hingga retak-retak.

“Dari sekitar 1.233 unit benda cagar budaya yang ada di DIY, 25,7 persen di antaranya rusak akibat guncangan gempa bumi. Sebagian besar di Bantul dan Kota Yogya. Untuk saat ini heritage yang sudah diperbaiki tapi tingkatnya masih studi adalah Prambanan dan Tamansari. Sedangkan yang sudah diperbaiki Pojok Beteng, Kraton, Puro Pakualaman, Makam Imogiri dan Masjid Mataram Kotagede. Sedangkan untuk joglo yang ada di Kotagede yang sudah diperbaiki ada 7 rumah,” kata Suyata.

Pada awal penanganan bencana, lanjut Suyata, biasanya masalah pangan, sandang, sekolah dan perumahan selalu menjadi prioritas utama. Begitu juga dengan penanganan bencana gempa bumi di DIY. Jadi tidak mengherankan jika belum semua benda cagar budaya yang ada di DIY bisa ditangani secara optimal. Di samping jumlahnya cukup banyak, anggaran yang dimiliki terbatas.

“Kalau ditanya siapa yang bertanggung jawab terhadap perbaikan benda cagar budaya, saya kira semua elemen baik pemerintah, LSM maupun masyarakat harus terlibat. Sampai saat ini perbaikan masih terkendala dana. Untuk perbaikan satu bangunan saja ada yang menghabiskan dana Rp 2,6 miliar. Bahkan jika dihitung total prediksi untuk merehab benda cagar budaya yang ada di DIY mencapai Rp 500 miliar,” ujarnya seraya menambahkan, untuk perbaikan biasanya dana diperoleh dari pemerintah pusat, daerah, sumbangan LSM dalam dan luar negeri (Unesco, Arab Saudi, Belanda) serta swadaya masyarakat.

Skala Prioritas

Suyata menjelaskan, agar hasilnya bisa maksimal, penanganannya dilakukan berdasarkan skala prioritas. Terutama yang terkait dengan area publik, heritage yang kondisinya rusak parah serta membahayakan seperti gapura di pinggir jalan, bangunan masjid, candi, makam yang biasa untuk ziarah serta rumah-rumah penduduk yang menghalangi jalan. Meski ada skala prioritas, untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya juga melakukan penghitungan cepat, pembuatan video dan pengamanan terhadap benda cagar budaya yang rusak.

“Kalau ditanya soal target, saya belum bisa berkomentar banyak, karena mengikuti kemampuan pendanaan. Meski begitu kami tetap berusaha agar benda cagar budaya termasuk joglo itu tidak hilang dan bisa tetap dilestarikan,” papar Condroyono.

Pemerintah Kota Yogya melalui Dinas Pariwisata Seni dan Budaya mengakui, sampai sekarang belum mengalokasikan anggaran khusus untuk memperbaiki benda cagar budaya yang rusak karena gempa. Rekonstruksi dan rehabilitasi diutamakan pada rumah-rumah warga dan fasilitas umum.

Kebijakan ini bukannya tanpa alasan. Banyaknya warga Kota Yogya yang kehilangan tempat tinggal, perlu mendapat perhatian utama, sehingga dalam 1 tahun terakhir pemerintah memfokuskan perbaikan perumahan warga.

Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Yogya Hadi Mohtar SE MM mengatakan, rekonstruksi cagar budaya membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan tidak mampu ditopang dengan APBD tingkat II saja. Kotagede misalnya, diakui sampai sekarang belum ada dana bantuan dari pemerintah untuk merekonstruksi rumah joglo yang rusak. “Untuk satu rumah saja bisa menghabiskan dana ratusan juta rupiah. Sementara keuangan daerah terbatas,” katanya.

Bahkan untuk bertahan, masyarakat sekitar terpaksa menjual rumah joglo mereka secara parsial. Seperti pintu, gebyok dan bagian-bagian lain. Hal ini memang sangat disayangkan, namun pemerintah juga tidak dapat melarang. “Kalau kami melarang konsekuensinya pemerintah harus menyediakan dana talangan. Namun itu tidak mungkin,” ucapnya.

Meski demikian, pemerintah juga tidak tinggal diam. Paling tidak, pasca gempa pemerintah secara intensif memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya melestarikan rumah joglo, agar rumah joglo di Kotagede tidak keluar dari kawasan tersebut.

Sedang untuk rehabilitasi secara fisik, Pemkot membuka diri bagi NGO asing maupun negara donor yang ingin berpartisipasi dalam pembangunan kembali kawasan Kotagede juga cagar budaya lainnya. q -a.

http://222.124.164.132/article.php?sid=127423

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: