Drama Lumpur dan Drama Pelor

Drama Lumpur dan Drama Pelor

Johan Silas

Lokakarya semburan lumpur panas Lapindo, “Belajar dari Bencana Non-Alam” di Flinders University, Australia, Juni lalu, bukan yang pertama dan niscaya bukan yang terakhir.

Pertemuan sejenis pernah diadakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menghadirkan pakar berbagai penjuru dunia. Di sini pertemuan dicurigai menyimpan kepentingan tersembunyi, sedang di luar negeri pertemuan diharap obyektif tanpa prasangka. Lokakarya di Flinders menyimpulkan semburan lumpur Lapindo unik dan mungkin akan berlangsung lama. Agar penyelesaian bisa profesional dan bebas kepentingan, swasta dan pemerintah jangan terlibat kecuali menyandang dana.

Pada peringatan satu tahun semburan lumpur, tanpa komando media di Tanah Air menurunkan berita drama parah itu. Riuh drama lumpur dikentalkan berita drama pelor, menewaskan beberapa orang.

Memang ada kopral hingga jenderal yang dipecat. Ini kontras dengan sanjungan yang diberikan kepada Marinir saat mereka memulihkan situasi akibat tsunami di Calang dan Krueng Sabee, Aceh Jaya.

Pemerintahan yang lemah

Empat dasawarsa silam (1968) peraih Nobel, Gunnar Myrdal, menyajikan karya agung Asian Drama, an Inquiry Into the Poverty of nations. Ini kajian kemiskinan di Asia Selatan karena pembangunan yang tersendat, termasuk di Indonesia serta tetangganya. Hasil simpulan terkait pemerintahan lemah (soft state), seperti lumpur? Makin lama kenegaraan lemah makin sulit berubah menuju masyarakat sejahtera.

Prestasi The Asian Miracle sepuluh tahun silam tidak seluruhnya benar dan berlanjut. Ada negara yang bertahan karena mampu beralih soft menjadi solid state. Sebelum itu Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan sudah tergolong negara maju.

Menurut kajian Asian Drama, kenegaraan lunak berciri disiplin rendah, kepercayaan irasional dan takhayul, tak memiliki kesiagaan dan ambisi, kesiapan bereksperimen dan berubah yang kerdil, puas dengan pekerjaan manual, tunduk pada otoritas dan mengeksploitasi orang lain, serta banyak ciri negatif lainnya.

Bila Myrdal kini ada, korupsi dan pemerintahan kurang bertanggung jawab akan ditambahkan sebagai ciri laten penting. Berapa jauhkah Indonesia sudah meninggalkan Asian Drama? Bila Asian Miracle tidak disusul Asian Crisis, ceritanya berbeda. Jejak Asian Drama dan Asian Crisis tampak pada ketidakbecusan penyelesaian lumpur Lapindo di Sidoarjo dan penembakan di Pasuruan.

Temuan Asian Drama perlu dipadu dengan The Sane Alternative (1978) karya James Robertson. Menurut dia, krisis dihadapi dengan empat reaksi: masa bodoh (business as usual) karena masa depan (masih) sama dengan masa kini. Bersikap bencana (disaster) bila sudah tak ada alternatif yang dapat dipilih seperti pada perang nuklir atau bencana dahsyat. Reaksi lain adalah pasrah pada pemerintah (totalitarian conservationist), sebab pemerintah dianggap serba bisa dan tahu. Ada reaksi hyper-expansionist yang tergantung pada kemajuan industri seperti di negara barat, terutama memanfaatkan sains dan teknologi. Roberson menganggap keempat reaksi itu tidak efektif.

Adat dan tradisi lokal

Ditawarkan alternatif kelima; Sane, Humane and Ecological (SHE) yang juga ada pada adat dan tradisi lokal. Semua orang dibekali otak, namun tidak semua berpikiran waras, manusiawi, dan alami. Cara berpikir waras tidak tergantung restu atau persetujuan atasan, tetapi mampu mengandalkan pengetahuan, pengalaman dan standar moral yang tinggi. Perlu kearifan utuh, imbang, dan serasi dalam menalar dan menyikapi masalah.

Aspek manusiawi mudah diucapkan dan berhenti saat liur kering. Penderitaan drama lumpur dan pelor jauh dari nilai kemanusiaan hakiki.

Bersifat ecological juga mudah dinyatakan, namun tidak pernah dilaksanakan serius. Badan yang menangani semburan lumpur Lapindo tak menyertakan pejabat lingkungan hidup dalam timnya.

Apakah masalah lingkungan bersifat nanti-nanti saja atau khawatir menghambat kelancaran kerja? Masyarakat adat menikmati hubungan baik dengan alam dan lingkungan. Modernisasi dengan ilmu pengetahuan sering mengkhianati persahabatan yang menjadi buruk. Alam dieksploitasi tanpa batas sehingga hubungan saling menghargai hilang.

Keadaan kian parah saat ekonomi didukung politik. Drama lumpur tidak lain adalah dominasi ekonomi yang meniadakan eksistensi alam dan manusia. Drama pelor, cermin konspirasi politik dan ekonomi yang kuat dengan menindas kemanusiaan.

Menghadapi bencana alam, hanya ada dua pilihan penyelesaian, yaitu bisa dikendalikan atau serahkan kepada alam. Untuk Sidoarjo, coba dikendalikan dan dikuasai. Anggapannya, semburan bersifat sementara dan terbatas. Ternyata akumulasi lumpur luar biasa banyak di daerah padat penduduk dan memorak-porandakan ekonomi. Kini, jutaan meter kubik lumpur siap menenggalamkan siapa dan apa saja. Sebanyak 20.000 orang harus mengungsi, 5.000 terkena pemutusan hubungan kerja. Ekonomi Jawa Timur mengempis 30 persen. Kapan kita belajar dari karya “tua” itu?

Johan Silas Guru Besar Emeritus Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/19/opini/3618790.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: