RESCHEDULING ACC PASCA GEMPA BUMI; Bangkit Setelah Melalui Jalan Sulit

RESCHEDULING ACC PASCA GEMPA BUMI; Bangkit Setelah Melalui Jalan Sulit

Sunday, 17 June 2007, Yogyakarta
TIDAK bisa terbayangkan, jika masa sulit pasca gempa bumi tidak bisa dilalui oleh pelaku usaha. Mereka bisa terpuruk, karena ketidakmampuan memutar roda usaha dengan lancar. Bidang pariwisata merupakan salah satu usaha yang ikut dihantam dampak gempa bumi. Tidak ada wisatawan mau datang ke Yogya. Ini berarti tidak ada pemasukan bagi pelaku pariwisata.

”Tidak ada pemasukan dana bagi sebuah usaha merupakan saat-saat yang paling memprihatinkan. Padahal saya harus membayar gaji karyawan, harus membayar sewa gedung dan menyediakan dana operasional agar usaha tours and travel saya tetap berjalan,” ungkap Managing Director Merapi Tours and Travel, Bobby Ardyanto SE kepada KR menceritakan masa-masa sulit setelah terjadi gempa bumi 27 Mei 2006.

Tidak ada wisatawan yang datang dikarenakan takut datang ke Yogya. Tidak adanya wisatawan yang dilayani membuat kondisi keuangan perusahaan memasuki tahapan yang sulit. Apalagi beban keuangan, tidak kecil. Diantaranya membayar karyawan dan juga membayar kewajiban cicilan utang, termasuk cicilan pinjaman mobil yang selama ini digunakan sebagai operasional. ”Cash flow pun menjadi terganggu,” ujarnya yang ditemui di kantornya, Pendowo Asri, Bantul.

Meski sudah memberikan klarifikasi ke sejumlah mitra travel agent, namun para wisatawan tetap batal datang. Dalam beberapa bulan setelah gempa, wisatawan masih banyak yang takut datang. Penjelasan bahwa banyak tempat di Yogya masih aman, ternyata kurang mujarab mempengaruhi wisatawan.

”Dari 8 mobil operasional, sebagian diantaranya masih dalam proses pelunasan cicilan. Jika dikalkulasi beban kewajiban yang harus dibayarkan, memang cukup besar,” ungkap Bobby.

Saat kesulitan tersebut, ia merasa mendapat keberuntungan, karena salah satu perusahaan pembiayaan, Astra Credit Companies (ACC) memberikan kelonggaran melalui program Rescheduling Skip. ”Akibat gempa, kita memang sangat sulit untuk membayar cicilan karena tidak ada pemasukan. Kita memperkirakan 3 bulan terjadi kevakuman kegiatan. Melihat kesulitan ini, ACC menawarkan program. Saya minta penundaan pembayaran selama tiga bulan, karena yakin cash flow akan normal kembali dalam tiga belum pasca gempa,” ujar Bobby.

Program ini sangat menolong sekali. Dengan penundaan 3 bulan, maka beban cicilan dan bunga untuk tiga mobil Rp 34 juta bisa ditangguhkan pembayarannya. Dana sebesar itu, pada saat pasca gempa sangat berarti. Untuk memperoleh dana sebesar itu sangat sulit. Paling tidak, keuangan kita masih aman selama tiga bulan. ”Karena itu, kita masih bisa membayar karyawan, meski tidak ada penerimaan. Sehingga tidak ada PHK,” ungkap Bobby.

Rescheduling ini sangat membantu, karena sifatnya mengundurkan jadwal pembayaran cicilan dan bunga. Dengan demikian, jangka waktu pembayaran juga mundur. Program ini nampaknya tidak dilakukan oleh perusahaan pembiayaan lainnya. Usahanya kemudian bangkit kembali, setelah sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM/NG0) asing menggunakan jasa mobil Merapi Tours and Travel. ”Kita menyediakan banyak mobil untuk melayani LSM yang membantu korban gempa,” ujarnya. Menurut Bobby, usahanya kemudian mengalami kebangkitan. Bahkan jumlah mobil operasionalnya bertambah menjadi 10 unit.

Program Rescheduling Skip ini juga dirasakan oleh Konsultan Manajemen Publik, Ahmad Baturisa. Penundaan pembayaran cicilan dan bunga ini sangat dirasakan karena pada saat itu, pendapatan dari usaha mengalami penurunan. Sejumlah tamu-tamu yang akan melakukan training di Yogya, menurun drastis. ”Jelas, saya mengalami kesulitan untuk mengangsur pinjaman mobil sedan yang dibiayai melalui ACC. Saya ditawari program Rescheduling Skip. Waktu itu saya minta pengunduran selama 5 bulan,” ujar Ahmad yang biasa dipanggil Ujang.

Menurutnya, program menarik ini sebetulnya sebuah inovasi yang nampaknya tidak ditemukan di perusahaan pembiayaan lain. ”Ini inovasi untuk membuat customer menjadi kagum akan social responsibility dari ACC. Sehingga customer menjadi loyal,” ujar Ujang yang akan kembali menggunakan jasa ACC karena merasa dibantu saat kesulitan membayar cicilan.

Terhadap program Rescheduling Skip, Branch Manager ACC Yogyakarta, Bayu Aji Natamijaya, mengungkapkan, program ini memang wujud kepedulian terhadap gempa bumi di Yogya. Selain itu juga memiliki program lain, seperti pemberian bantuan terhadap warga korban gempa di Bantul.

”Program memberikan kesempatan pengunduran waktu pembayaran 1-6 bulan sejak gempa bumi terjadi. Lama pengunduran waktu, dilihat dari kondisi customer,” ujar Bayu sambil menambahkan program tersebut sudah tidak diberlakukan lagi karena sudah lewat batas waktunya.

Dikemukakan, terdapat 204 customer mobil dan 215 customer motor yang mendapatkan rescheduling skip. Banyak dari customer merasakan manfaatnya. Karena keuangan perusahaan maupun pribadi bisa terselamatkan.

Setahun setelah gempa, permintaan terhadap penggunaan jasa pembiayaan mengalami peningkatan pesat. Tahun 2006, jumlah dana yang disalurkan untuk pembiayaan sebesar Rp 25.240. 524. 450. Namun tahun 2007 melonjak cukup besar. Sampai Mei 2007 saja sudah mencapai Rp 39.358. 391.000. Perkembangan ini menunjukkan daya beli orang Yogya telah bangkit, setelah melalui jalan sulit pasca gempa bumi. (Primaswolo Sudjono)-f.

http://222.124.164.132/article.php?sid=127281

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: