Warga Minta Bertemu Lapindo

Warga Minta Bertemu Lapindo
Semburan Air di Jatirejo Sudah Menyentuh Jalan Raya

SIDOARJO, KOMPAS – Penanganan semburan air di Jatirejo, Porong, Sidoarjo, yang muncul Sabtu (16/6), membuat masalah lumpur Lapindo makin panjang. Semburan itu mesti segera diatasi, tetapi warga menolak, sampai mereka bisa bertemu pihak Lapindo.

Adapun genangan air akibat semburan semakin meluas dan sudah menyentuh badan Jalan Raya Jenggolo, Porong. Jarak genangan air dengan jalur rel kereta api sekitar satu meter.

“Semburan ini akan warga jadikan salah satu cara menarik perhatian pemerintah dan Lapindo agar segera memberikan ganti rugi kepada korban lumpur,” ujar Herman, pemilik rumah toko (ruko) tempat semburan air keluar, Minggu.

Ganti rugi yang dimaksud Herman tak hanya uang muka ganti rugi sebesar 20 persen dari total ganti rugi tanah dan bangunan warga Jatirejo yang terendam lumpur. Tetapi realisasi janji yang disebutkan Lapindo kepada 70 pemilik ruko di pinggir Jalan Raya Jenggolo, Jatirejo, Porong, Sidoarjo, termasuk Herman.

Sebelumnya, menurut Herman, Lapindo berjanji memberi ganti rugi bangunan rumah toko dalam bentuk uang tunai atau merelokasi tempat usaha mereka, tetapi sampai sekarang janji itu belum terealisasi.

Selama ini 70 pemilik ruko mendapatkan ganti rugi usaha kecil dan menengah sebesar Rp 5 juta dari Lapindo untuk mencari rumah kontrakan. Untuk membuka kembali usahanya, mereka menunggu pencairan ganti rugi bangunan atau relokasi yang disediakan Lapindo.

Atas dasar itu, warga menolak segala upaya Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BP BPLS) yang hendak menangani semburan air di rumah Herman sampai Lapindo mau menemui warga dan membayar ganti rugi tanah/bangunan kepada korban lumpur.

Staf Humas Lapindo Brantas Inc, Diaz Roychan, mengatakan, tidak sulit bagi warga untuk menemui Lapindo. BP BPLS diharapkan bisa menjadi mediator dan mempertemukan Lapindo dengan warga. Mengenai tuntutan warga terkait ganti rugi, dia mengatakan masih diproses PT Minarak Lapindo Jaya dan kantor pengacara Jurnalis & Ponto.

Makin luas

Kepala Humas BP BPLS Ahmad Zulkarnain mengatakan, sejak Sabtu malam pihaknya berupaya menangani semburan air dengan memasang pipa di atas semburan. Melalui pipa itu air yang keluar akan dibuang ke Sungai Gedang, Mindi. Namun, upaya ini ditolak warga. Kemarin, upaya BP BPLS menangani semburan masih ditolak oleh warga.

Menurut pengecekan oleh Fergaco (tim monitoring gas berbahaya di sekitar pusat semburan), tidak terpantau lagi ada gas keluar dari semburan. Pada Sabtu, pengecekan oleh Fergaco menunjukkan ada gas metana yang mudah terbakar sebesar 7 persen. Meskipun tidak ada lagi gas yang keluar, Fergaco meminta radius dua meter dari semburan air tidak boleh ada api.

Adapun air yang menyembur di rumah milik Herman sampai kemarin masih deras. Ketinggian semburan air berfluktuatif 1,5 meter sampai lima meter.

Air yang sebelumnya hanya menggenangi 11 ruko, kemarin menggenangi 20 ruko yang telah ditinggalkan penghuninya. (apa)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/18/daerah/3618170.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: