Refleksi “Hari Raya” Lingkungan

Refleksi “Hari Raya” Lingkungan

Syamsul Asinar Radjam*

Dua bulan dari perayaan Hari Bumi (22 April), para penggiat lingkungan kembali menyambut Hari Lingkungan Hidup Se-dunia (5 Juni). Barangkali terselip sebuah pertanyaan di antara gegap gempita penyambutan, perlu niankah hari-hari besar lingkungan semacam ini?

Hari Bumi dan Hari Lingkungan Hidup Se-dunia hanyalah dua dari sederet hari di “kalender hijau”. Kalender hijau ini sebut saja semacam daftar hari raya bagi kalangan pemerhati lingkungan (environmentalis). Selain hari bumi dan hari lingkungan hidup sedunia, masih banyak lagi hari yang menjadi momentum peringatan atas kondisi lingkungan hidup di bumi yang kian memprihatinkan. Ambil contoh, Hari Air Sedunia (22 Maret), Hari Ozon Sedunia (16 September), Hari Satwa sedunia (4 Oktober).

Inisiatif menyusupkan “kalender hijau” ke dalam kalender Masehi yang kita kenal adalah sebuah terobosan yang mendapat sambutan. Selain hari besar lingkungan yang dirayakan secara nasional atau sedunia tadi, ada pula yang bertaraf nasional. Misalnya, tanggal 5 Desember diperingati sebagai Hari Cinta Puspa & Satwa Nasional. Di Indonesia bahkan ada waktu satu minggu yang dialokasikan sebagai “Pekan Penghijauan Nasional”, yakni mulai dari tanggal 17 hingga 23 Desember. Dengan adanya serentet perayaan pada hari raya lingkungan, ada ragam tindakan untuk memperbaiki kondisi lingkungan hidup. Tindakan penyelamatan lingkungan tak hanya didominasi oleh aktivis lingkungan yang berkutat dengan kegiatan konservasi dan pembelaan (advokasi). Masyarakat umum pun ambil bagian. Seruan, ajakan, protes, pendidikan, aksi daur-ulang sampah, penanaman pohon, pembersihan sungai, dan lain sebagainya, menyemarakkan hari-hari raya lingkungan. Semua orang berharap, kegiatan-kegiatan tadi dapat menghambat laju kerusakan lingkungan. Syukur jika dapat memperbaiki kualitas lingkungan. Pada gilirannya, bumi dapat kembali lebih segar.

Kamuflase hijau

Tak hanya kalangan penggiat lingkungan ataupun masyarakat umum yang melakukan aksi kepedulian pada hari-hari raya lingkungan. Para pihak yang ditengarai sebagai perusak lingkungan pun ambil bagian. Perusahaan tambang yang mengubah gunung menjadi danau, perusahaan HPH dan HTI yang menggunduli hutan, pabrik-pabrik yang mengabukan biru langit, dan lainnya, tampak pula bersemangat menyelenggarakan rangkaian seremoni pada hari-hari besar lingkungan. Mereka getol mencitrakan diri sebagai pihak yang peduli lingkungan. Padahal, patut diduga semuanya tak lebih dari kamuflase hijau.

Bintang-bintang film Hollywood, politisi Amerika Serikat dan eropa juga ngomong peduli lingkungan. Semua seperti mode yang sedang tren. Bak panu di kulit lembab. Tetapi, penanaman modal dari negara mereka untuk industri perusak lingkungan terus saja mengalir, bahkan bila perlu mereka juga menciptakan perang untuk merebut sumber daya energi di negara-negara di luar benua Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Amerika Serikat bahkan tak berani ikut menandatangani Protokol Kyoto yang menjadi alat untuk mengurangi laju pemanasan global. Maka barangkali pantaslah jika kondisi lingkungan bumi secara pasti kian merosot. Cita-cita menyelamatkan bumi jauh panggang dari api, dan hanya melahirkan banyak pendapat. Pendapat bernuansa pesimis menyebutkan semua usaha penyelamatan terhadap bumi hanyalah kesia-siaan. Pendapat bernada cukup optimis menyebutkan bahwa paling tidak upaya penyelamatan berhasil memperlambat laju kerusakan. Pendapat yang paling optimis tetapi juga bernuansa kritik menganggap ada yang belum tepat pada upaya-upaya yang sudah dilakukan. Ibarat memberikan permen mint kepada penderita batuk rejan.

Apa yang dibutuhkan bumi?

Dalam film Merlin (1998), Arthur yang baru sadar bahwa ia penerus tahta Camelot ditanyai Merlin, apa yang akan ia lakukan untuk Camelot. Jawab arthur, ”Perdamaian dan istana emas.” Merlin menggeleng seraya mengkhotbahi bahwa yang dibutuhkan dunia (bukan hanya Camelot) adalah keadilan. Keadilan jugalah yang dibutuhkan dalam penyelamatan bumi. Mahatma Gandhi pernah menyebutkan bahwa sumber daya alam di bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia. Akan tetapi, sumber daya yang dimiliki bumi tak akan cukup untuk memenuhi keserakahan satu manusia pun. Pemikiran Mahatma Gandhi sepenuhnya klop dengan apa yang terjadi pada kerusakan lingkungan. Sebab, menyoal kata kerusakan lingkungan berarti ada sekelompok orang yang merusak, ada sebentuk sumber daya alam yang dirusak, dan ada pihak lain yang tidak ikut merusak namun menerima dampak negatif dari pengrusakan itu. Jika logika ini dapat diterima, berarti ada salah satu jalan untuk memulihkan kerusakan lingkungan di atas bumi. Yakni, dengan menyertakan semua orang yang selama ini hanya menjadi korban pengrusakan secara setara untuk turut terlibat ”merusak” bersama-sama. Secara sederhana, ”merusak” yang dimaksudkan adalah mengelola secara bersama-sama, dimana semua orang berhak memiliki aset dan memanfaatkan akses terhadap sumber daya alam. Jika kondisi ini terjadi, maka istilah “pengrusakan “ dengan sendirinya akan beralih menjadi “pemanfaatan”.

Pada banyak kasus, sumber daya alam yang dikelola bersama-sama secara kolektif, terlihat lebih terjaga kelestariannya. Ambil contoh, hutan-hutan yang dikelola dengan sistem hutan kerakyatan. Bandingkan dengan banyaknya kawasan hutan yang terlantar setelah habis ditebangi oleh para pemegang Hak Penguasaan Hutan (HPH). Padahal, kepada para pemegang HPH ini telah dibebankan tanggungjawab untuk tebang pilih dan penanaman kembali. Hanya saja, cita-cita tersebut mirip-mirip utopis untuk dicapai. Segala sumber daya alam, baik sumber daya energi, sumber daya mineral, sumber daya hayati, maupun lahan-lahan subur dikuasai oleh sekelompok pihak. Di sisi lain berlipat kali lebih banyak orang yang jangankan menguasai, memiliki akses ke sana pun tidak.

Sumber daya alam dibumi dikuasai oleh para pemodal (perusahaan lintas negara), yang didukung penuh oleh pemimpin negara adikuasa serta ditopang oleh sindikasi lembaga keuangan internasional. Kaum ini berada di belahan Utara bumi dan di Australia. Anak cucu “spiritual” dari kaum kolonialis/imperialis Eropa modern yang berjaya sejak abad 15 dan berkuasa selama 500-an tahun, menguasai sumber daya di negara-negara berkembang di kawasan Selatan bumi. Sementara itu, orang-orang kalah ini tinggal dan hidup di sekitar hutan, kawasan pertambangan, tepian pantai, komunitas urban di perkotaan, bersebelahan tembok dengan pabrik-pabrik raksasa, atau hanya sepeminuman teh dari perkebunan skala besar. Mereka terpinggirkan serta terputuskan akses terhadap pengelolaan sumber daya alam. Orang-orang kalah ini tak terlindungi haknya, karena pemimpin negara di tempat mereka hidup sibuk melayani kekuatan modal. Kebijakan penanaman modal dan pengelolaan sumber daya alam, membuka pintu sebesar-besarnya bagi para perusahaan trans-nasional. Bahkan ada negara yang mau memberikan hak guna usaha atas lahan selama 90 tahun bagi investasi di sektor perkebunan.

Sekali lagi, apa yang dibutuhkan bumi adalah keadilan. Baik keadilan atas akses terhadap sumber daya alam serta keadilan dalam pengelolaannya. Tanpa mengecilkan apa yang sudah dilakukan para pihak yang peduli pada kondisi bumi, rasanya kecil harapan untuk memperbaiki kondisi bumi jika hanya diupayakan melalui kerja-kerja penghijauan, daur ulang sampah, pengurangan tingkat pencemaran, dan sebagainya. Lebih-lebih jika hanya melalui seremoni dan jargon yang didengungkan pada setiap hari raya lingkungan.

Di tingkat nasional, ada banyak upaya ”lebih” nyata dan berkedilan untuk mengobati bumi. Pemerintah RI bisa memulai dengan melakukan pendistribusian ulang lahan yang dikuasai oleh pemilik modal kepada rakyat dan petani tak berlahan. Langkah lain adalah penghentian sementara pengerukan dan pengurasan sumber daya alam indonesia oleh pelaku industri tambang dan kehutanan. Jangka waktu selama jeda waktu penghentian ini dapat dipakai untuk mendata ulang semua potensi sumber daya alam yang ada, meninjau ulang kontrak-kontrak yang sedang berjalan, atau membatalkan kontrak-kontrak baru yang sekiranya akan berdampak buruk bagi lingkungan hidup dan kemanusiaan. Tentu masih ada banyak lagi upaya cerdas yang dapat dilakukan oleh bangsa ini. Selama upaya-upaya tersebut dilakukan secara ajeg dan berkesinambungan, maka setiap hari di Indonesia adalah hari besar lingkungan. Kondisi lingkungan hidup di bumi — minimal di nusantara — akan mengalami perbaikan secara nyata.

* * * * Penggiat Lingkungan (anggota IMPALM Wahana Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup Sriwijaya), tinggal di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: